Woks
Oi : Bib saya pemabuk berat, tapi ya ingin berhenti. Habib bisa bantu bimbing saya?
Habib Ja'far : Waduh saya lagi di luar kota, hmmz gmana ya.
(Beliau pun berpikir sejenak)
Ya udah mas gini aja. Saya ndak bisa bimbing secara langsung tapi saya pesen jika sampean mau minum lagi jangan lupa baca bismillah ya.
(Hampir satu bulan Oi pun mengabari Habib)
Oi : Bib, alhamdulilah saya sudah berhenti minum.
Habib Ja'far : Lhoo kenapa?
Oi : Saya malu bib, بسم اللّه الرّحمن الرّحيم
Bicara tentang miras tentu tak asing lagi di telinga. Walaupun beberapa komedian memplesetkan miras dengan es batu karena minuman keras. Akan tetapi benda satu ini tidak bisa jadi lelucon sebab keberadaannya sangat dekat dengan kita.
Dulu anak-anak diwanti-wanti agar tidak merokok dengan alasan qias khamr. Artinya jika orang merokok pasti akan coba-coba miras atau bahkan nyabu. Alasan mereka mengqiyaskan karena ada ayat Al Qur'an bicara mengenai "Jangan sekali-kali dekati zina", dekat saja jangan apalagi sampai melakukan. Ayat tersebut juga menjadi legitimasi keharaman pacaran.
Tentu dalam konteks ini berbeda dengan rokok maupun miras. Karena dalam konteks khamr Al Qur'an hanya menyebutkan segala yang memabukan. Maka dari itu persoalan ini sangat perlu disikapi dengan jernih bila perlu kuliah ke jurusan Ilmu Al Qur'an & Tafsir (IAT). Supaya kita mendapatkan perspektif yang lebih luas dan mendalam.
Kembali lagi soal miras. Jika melihat fenomena di masyarakat miras dan kita menjadi tolok ukur kemajuan. Di Eropa orang mengkonsumsi alkohol karena secara geografis dan klimatologi di daerah mereka bermusim dingin alias salju. Jadi mengkonsumsi alkohol tak lain sebagai menghangatkan badan. Itupun jika ingin mengkonsumsi mereka tahu akan dosis dan takarannya. Sedangkan di Indonesia sangat jelas mempertontonkan kebodohan misalnya oplosan mencampur miras dengan lotion anti nyamuk padahal sekalian saja dengan kapur barus, pembersih kamar mandi, sabun cuci piring atau balsem.
Tradisi miras di Indonesia sangat urakan. Bisa kita simak setidaknya dalam 2 hal. Pertama, orang kita suka minum ketika mereka sedang pusing, galau, gugat, tidak tenang, cemas dan perasaan lainnya. Setelah itu ketika keseringan mengikuti emosi tersebut jadilah candu dan di sinilah peredaran miras tak bisa dikendalikan. Walaupun kita tidak naif beberapa persen APBN terdapat pajak miras. Kedua, orang kita suka minum di momentum hari besar baik Nasional maupun agama. Tidak aneh jika banyak kasus penangkapan baik pengedar maupun pengonsumsi di perayaan hari besar tersebut.
Mengapa tidak di hari biasa. Bukankah hal itu mencoreng diri sendiri. Saya jadi ingat Basuki Tjahaja Purnama, ia mengatakan bahwa orang itu munafik semua. Justru karena merekalah yang menjadi perusak agama dengan alasan tidak mencerminkan mahluk beragama. Beragama itu merawat bukan merusak. Maka dari itu bantulah agama dengan berbuat baik. Jika Al Qur'an menyebutkan keharaman khamr maka sebagai hamba perlu untuk menjauhinya.
Salah satu bentuk menjauhi miras adalah dengan mengkampanyekan melalui lagi. Misalnya Bang Haji Rhoma Irama melalui lagunya, "Mirasantika". Tidak hanya itu menjauhi miras adalah dengan terus mengasah kewarasan pikiran. Karena sekalinya berpikir keruh miras akan dengan mudah dikonsumsi. Efek mengkonsumsi miras sangat berbahaya salah satunya pada kisah Kiai Barsesho. Demikianlah sekilah mengenai miras, semoga kita dapat menjauhinya. Jika ingin minum nanti saja di surga karena di sana sungai saja terdapat khamr, susu atau madu. Tinggal pilih yang mana?
the woks institute l rumah peradaban 7/1/23
Komentar
Posting Komentar