Woks
Pernahkah kita menyaksikan langsung perayaan manten kucing di Desa Pelem Campurdarat Tulungagung. Sebuah upacara atau ritual untuk meminta hujan. Atau tradisi ulur-ulur di Telaga Buret Tulungagung. Atau upacara manten tebu di Pabrik Gula Mojopanggung Tulungagung sebagai ungkapan rasa syukur pada prosesi giling tebu. Atau juga tradisi kupatan di Durenan Trenggalek pasca 6 hari puasa sunnah di bulan Syawal. Atau upacara Sembonyo di Pantai Prigi yaitu ritual larung sesaji ke tengah laut sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah.
Hal-hal yang telah disebutkan tersebut tanpa disadari adalah warisan budaya tak benda (WBTB). Mungkin di sekitar kita masih banyak contoh-contoh WBTB tersebut yang pastinya kita selalu abai. Sebagai generasi muda tentu WBTB hanya dapat diketahui ketika orang tua memberi tahu sejak kecil serta menjelaskannya. Akan tetapi jika tidak terjadi komunikasi yang baik soal edukasi warisan nenek moyang tersebut bisa saja sampai hari ini kita alpa terhadap kearifan lokal tersebut.
Buku antologi WBTB persembahan Kemendikbud tersebut adalah salah satu upaya untuk melestarikan living local yang ada di masyarakat. Walaupun hanya dalam bentuk catatan literasi yang jelas ini merupakan langkah nyata agar generasi muda melek akan warisan nenek moyangnya. Lebih lagi menurut Direktur Perlindungan Kebudayaan Irini Dewi Yanti buku yang dikemas dengan genre romansa/atau cerpen diharapkan lebih menarik generasi milenial untuk belajar.
Buku ini ditulis oleh 33 penulis yang tersebar ke dalam 33 provinsi di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua semua mewakili warisan budaya tak bendanya ditulis dengan apik lewat cerpen yang mudah dipahami. Perlu diketahui bahwa WBTB tidak hanya sebuah ritus, adat istiadat, upacara, melainkan bentuk lain seperti pusaka, artefak, tembang, serat, karya sastra, seni, teknologi, dan banyak lagi lainnya. Lebih lagi di Indonesia kaya akan suku bangsa dan pastinya budaya setempat. Hal inilah yang sayang jika tidak segara diinventarisir maka berpotensi diklaim negara tetangga karena akar rumpun Melayu yang sama.
Beberapa hal menarik dari buku ini bisa diketahui di luar pulau Jawa yang tentunya masih asing di telinga. Misal di Sumatera Barat ada istilah Mato alias poin. Mato atau poin adalah cara memberikan upah diluar gaji pokok dalam usaha Rumah Makan (RM) Padang. Mato tersebut diberikan berdasarkan bobot atau dedikasi pekerjaan. Semakin berat maka semakin besar pula mato-nya. Dari mato ini orang Sumatera Barat khususnya urang awak akan merasa senasib sepenanggungan karena sejatinya mereka adalah badunsanak alias keluarga.
Lain lagi di Nanggroe Aceh Darussalam ada istilah panglima laot. Panglima laot adalah sebuah hukum adat warisan Sultan Iskandar Muda berkaitan dengan kesepakatan menikmati hasil laut. Panglima laot berfungsi sebagai hakim ketika seseorang melanggar kesepakatan adat tersebut. Beberapa hal yang ditetapkan panglima laot adalah tentang larangan melaut di hari Jum'at, dua hari raya, hari tasyrik, hari kemerdekaan atau setiap tanggal 26 Desember.
Berbeda dengan di Gresik Jawa timur yaitu ada tradisi sanggring gumeno. Tradisi tersebut merupakan warisan Sunan Dalem dari Kerajaan Giri Kedhaton yaitu membuat kolak ayam. Sajian kolak ayam masih dilestarikan hingga saat ini yaitu setiap malam 23 di bulan ramadhan. Kuliner tersebut sebenarnya dulu merupakan obat bagi Sunan Dalem yang terkena penyakit. Akan tetapi saat ini kuliner tersebut menjadi menu wajib saat menjelang akhir bulan ramadhan.
Terakhir ada mikul lodang yaitu sebuah tradisi membawa bilah bambu besar yang sudah diisi air. Bagi masyarakat Jawa barat khususnya di Padalarang tradisi ini merupakan wujud syukur atas panen yang dihasilkan. Maka tidak salah jika tradisi ini dilakukan di lahan persawahan secara langsung. Tradisi-tradisi tersebut lahir sebagai perwujudan dari local wisdom yang dalam bahasa Quaritch Wales (1948) adalah pengembangan dari local wisdom, local knowledge. Tradisi tersebut memiliki nilai sebagai petunjuk hidup lebih lagi zaman yang mudah berubah.
Tentu masih banyak lagi kisah atau ragam warisan budaya tak benda yang seharusnya mulai saat ini kita dokumentasikan baik berupa tulisan maupun audio visual. Dengan begitu kekayaan tradisi budaya khas Nusantara tidak tercerabut dari akarnya. Justru lewat tradisi budaya tersebut kita dapat bersatu dan saling mengenal serta saling menghormati.
Judul : Serenade Untuk Sebuah Kisah
Penulis : Wulan Mulya Pratiwi, dkk
Halaman : 274 hlm
Tahun terbit : 2021
Penerbit : Direktorat Pelindungan Kebudayaan,
Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
ISBN : 978-979-8250-85-9
the woks institute l rumah peradaban 23/1/23
Komentar
Posting Komentar