Woko Utoro
Di momen silaturahmi kemarin ada satu topik pembicaraan yang menurut saya menyentuh hati. Entah apakah teman lain merasakan hal yang sama seperti saya rasakan. Di antara riuh tawa saya justru lebih terdiam dan merenung begitu dalam. Bahkan jika boleh saya menangis batin sejenak ketika Prof Naim berkisah seputar buku, toko buku dan perpustakaan. Topik itulah yang membuat saya haru walaupun air mata tidak sempat tumpah.
Jika bicara buku, toko buku dan perpustakaan saya memang sering terbawa arus. Terlebih saya melihat binar bola mata Prof Naim ketika berkisah seputar kegemarannya membaca tapi dipaksa menerima kenyataan pahit. Setiap Prof Naim ke luar kota salah satu tempat yang beliau kunjungi adalah toko buku. Dan kita tahu atas semua jawaban itu. Pilu. Mungkin tidak begitu dramatis juga bagi yang tidak suka baca. Tapi bagi orang seperti beliau bacaan adalah ruh yang menghidupkan.
Saya tentu merasakan hal yang sama ketika di Tulungagung tinggal menyisakan TB Satelit bertahan di antara kembang kempis pembaca. Bahkan lebih luas lagi industri perbukuan, distribusi di toko buku juga lesu. Tak ayal ketika banyak toko buku yang kukud alias gulung tikar. Kenyataan ini yang seharusnya menjadi tugas kita bersama. Tidak hanya soal bagaimana tulisan menjelma buku tapi bagaimana membaca jadi budaya. Hal itulah yang terus akan menjadi PR besar bangsa ini. Bangsa yang dulunya dilahirkan oleh para maniak buku seperti Bung Karno, Bung Hatta, KH Agus Salim, Sjahrir, Yamin, RA Kartini, Dewi Sartika dll. Tapi saat ini kita sedang menjadi bangsa yang banyak bicara.
Kata Prof Naim, dulu orang datang ke toko buku dan perpustakaan lalu memilih memilah buku dengan berdesakan. Saat ini dua tempat itu justru paling lengang dan kesepian. Kita hanya mendapati tumpukan buku yang tertata rapi. Bahkan di beberapa perpustakaan pemandangan tanpa petugas sudah menjadi hal biasa. Bisa jadi petugas perpustakaan pun belum tentu pecinta baca. Maka tidak aneh jika tingkat literasi baca tulis kita kian hari makin menurun. Terlebih hari esok anak-anak akan dimanjakan dengan program makan siang gratis bukan membaca berhadiah.
Bicara buku, toko buku dan perpustakaan memang tidak ada habisnya. Walaupun faktanya memilukan yang pasti sebagai pegiat literasi kita tidak boleh menyerah. Entah di lain hari orang akan sadar akan pentingnya membaca. Personal membaca, menulis atau ibadah sekalipun memang diperlukan paksaan. Sebab jika tidak dipaksa dan dibiasakan tradisi berliterasi akan sangat berat. Terlebih ketika kita dihadapkan dengan kesibukan dan kebutuhan. Dua hal yang tidak bisa diganggu gugat karena memang tak kalah pentingnya.
Terakhir saya kutipkan pesan Najwa Shihab bahwa untuk suka baca hanya perlu satu buku. Untuk suka menulis kita hanya perlu memulai, dan terus berlatih. Sesekalilah datang ke toko buku atau perpustakaan sebagai tanda kita peduli pengetahuan. Jika toko buku dan perpustakaan dibiarkan terus kosong jangan-jangan kita memang sudah rela menyamakan tempat itu dengan kuburan.[]
the woks institute l rumah peradaban 7/5/24
Komentar
Posting Komentar