Woko Utoro
Melihat fenomena digital terutama medsos selalu menarik. Pasalnya medsos kini menjadi kehidupan kedua manusia. Medsos menjadi tak terpisahkan. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi selancar medsos di gadget seperti tak tergantikan. Rasanya hidup tanpa gadget dan medsos bagaikan mati rasa. Orang lebih resah ketika ketinggian gadget daripada dompet. Sebab saat ini segala kebutuhan hampir berbasis digital dan semua itu ada di gadget.
Salah satu hal menarik yang hidup di medsos adalah postingannya. Misalnya kita sebuat saja 4 medsos populer seperti X (Twitter), Tiktok, Instagram dan Facebook semuanya bisa diamati dengan saksama. Di beberapa platform media sosial tersebut tentu beragam postingan lahir di antaranya berbagi informasi, edukasi, pengaduan, curhat, keluh kesah, mengeluh hingga promosi. Tentu dari ragam postingan tersebut salah satu yang terbanyak adalah perihal keluh kesah.
Secara psikologis manusia memang tidak bisa menahan emosi yang bertumpuk dalam diri (kita sebut saja dalam tubuh). Sehingga secara natural berkeluh kesah alias curhat merupakan kecenderungan alami manusia. Di sinilah perbedaan mencolok yang terjadi pada laki-laki dan perempuan. Karena bagaimanapun juga kejadian yang dialami laki-laki dan perempuan akan sangat berbeda. Laki-laki cenderung memendam perasaan yang dialaminya sedangkan perempuan cenderung segera meluapkan emosi misalnya dengan cara curhat. Oleh karena itu perempuan akan sangat pandai kepada siapa mereka curhat. Perempuan akan memiliki tempat tersendiri untuk menuangkan keluh kesahnya.
Hanya saja di era digital saat ini orang menganggap curhat di media sosial adalah hal yang lumrah. Media sosial dianggap baik untuk menumpahkan segala rasa yang bermuara dari dalam pikiran dan batin. Padahal faktanya media sosial selalu bermuka dua. Media sosial bisa menjadi belati yang melindungi atau melukai. Maka dari itu dari fenomena media sosial kita belajar akan dua hal. Pertama orang curhat tipe tepian jurang dan curhat tipe akademik saya mengistilahkan sebagai keresahan akademik.
Pertama curhatan tepi jurang adalah fenomena orang berkeluh kesah di medsos tanpa berpikir jernih. Tipe ini cenderung dipengaruhi emosi labil atau tidak terkontrol. Biasanya berisi keluhan pribadi atau relasi dengan orang lain. Akibat setiap orang curhat dengan serampangan. Mereka lupa bahwa ada privasi personal yang harus dilindungi. Dan kita tahu segala hal yang sudah terlanjur dilepas di medsos cenderung memiliki rekam jejak digital. Intinya jangan memposting sesuatu yang menggangu atau merugikan diri sendiri dan orang lain. Ingat pesan Gus Nadhirsyah Hosen, saring sebelum sharing.
Kedua keresahan akademik merupakan tipe curhat yang mengajak pembacanya berpikir, merenung, sekaligus mengkritisi. Tipe curhat satu ini cenderung argumentatif dan by data. Jadi keluh kesah yang dibalut dengan pernyataan keilmuan bukan emosional. Maka tipe curhat akademik ini memberikan edukasi sekaligus pelajaran bahwa ada hal yang perlu disuarakan. Tipe curhat yang satu ini biasanya berkaitan dengan pelayanan, fasilitas umum, parenting, pola asuh hingga pendidikan.
Jadi jelas bahwa berkeluh kesah itu diperbolehkan. Sebagai bentuk pertahanan alami tubuh curhat memang sebagai sarana penyembuhan. Hanya perlu diingat agar curhat kita berkualitas maka perlu sikap bijak. Bahwa media sosial bukan tempat yang ramah untuk curhat. Walaupun kadangkala efektif untuk disuarakan. Akan tetapi untuk keamanan kita perlu berpikir sejenak apa yang kita lakukan tepat atau tidak? karena jejak digital itu fakta maka berhati-hatilah. Curhatlah di tempat yang aman misalnya sepertiga malam sebut namanya, jika dia jodoh saya mudahkanlah. Jika jauh dekatkan. Jika dekat, tetapkan. Jika bukan berilah pengganti yang terbaik.[]
the woks institute l rumah peradaban 13/5/24
Komentar
Posting Komentar