Woko Utoro
Sekitar tahun 2013 dalam sebuah acara peluncuran buku di Tegal 4 sahabat berkumpul. Empat orang itu tak lain adalah Emha Ainun Najib, Eko Tunas, Ebiet G Ade dan Eha Kartanegara. Keempat tokoh seniman dan budayawan itu berkumpul dalam tajuk reuni dadakan. Yang menarik dari pertemuan langka dan bersejarah itu adalah pesan dari Emha Ainun Najib. Pesan beliau adalah, "Ayo berkarya, walaupun usia kita sudah 60 tahun".
Menurut saya dari pesan Emha Ainun Najib tersebut sangat menarik. Pasalnya pria yang akrab disapa Mbah Nun tersebut sangat paham bahwa karya itu sangat penting. Tidak hanya bagi yang tua terkhusus lagi untuk yang masih muda. Tentu karya tersebut bisa dalam berbagai bentuk misalnya Mbah Nun lewat Maiyah dan Kiai Kanjeng, Ebit karya lagu balada, Eko menulis buku dan Eha karya foto. Lewat karya tersebut tentu menjadi bukti akan panjangnya proses yang dijalani.
Terkhusus bagi yang muda tentu pilihan berkarya sangatlah banyak. Bagi yang suka diolah suara bisa mencipta atau mengcover lagu. Bagi yang senang dunia jurnalistik (menulis berita, editor dan public speaking) bisa terus dikembangkan. Atau apapun itu seperti menggambar, konten kreator hingga menulis buku. Bagi orang tua tentu karya terbaik adalah anaknya. Sedangkan karya terbaik seorang anak adalah keluhuran akhlak dan ilmunya. Intinya setiap orang bisa berkarya sesuai dengan ladangnya.
Tanpa perlu dibatasi setiap orang berkarya sesuai kemampuannya. Jangan dikira mereka yang bekerja di sektor informal tidak berkarya? justru mereka berkarya walaupun dalam spektrum yang lebih sempit. Karya itu bukan soal besar kecil, tinggi rendah atau tebal tipis. Tapi karya ya karya. Sesuatu hasil daya cipta manusia. Pada akhirnya teruslah berkarya dalam bentuk apapun. Selama itu baik dan bermanfaat karya pasti akan berharga.
Tidak ada karya yang tidak berharga. Yang ada adalah karya yang tidak dihargai. Jika kita menemukan kasus kedua tersebut maka solusinya sederhana. Kita hanya perlu meninggalkannya. Karena kadang karya yang bernilai adalah hanya soal di mana kita tinggal. Bisa jadi penghargaan hanya dilahirkan oleh orang-orang yang berilmu. Hanya orang bodohlah yang menganggap karya itu jelek. Padahal di dunia ini karya memiliki takdir penikmatnya sendiri. Jadi jangan takut untuk terus berkarya.
Dalam menikmati lukisan misalnya para kolektor melihat unsur abstrak bukan absurditasnya. Karena jelas bahwa setiap orang memiliki selera dalam apresiasi karya. Hanya orang cerdaslah yang memahami puncak apresiasi. Sebab bagaimanapun juga karya berkaitan dengan apresiasi sedangkan yang mencaci adalah netizen. Maka dari itu berkarya saja dan itulah yang esok akan dikenang.[]
the woks institute l rumah peradaban 12/5/24
Komentar
Posting Komentar