Woko Utoro
Memperjuangkan kesadaran adalah pekerjaan sepanjang hayat. Karena kita tahu kesadaran itu prosesnya amat panjang. Bisa sangat mungkin kesadaran adalah kekecewaan, atau perasaan yang diakui. Bagaimana pun juga sadar itu berlevel bisa jadi kesadaran kita hari ini masih sebatas kulit alias permukaan. Lantas kapan kesadaran itu lahir? bisa jadi ketika kematian tiba. Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata manusia hakikatnya tertidur baru sadar bangun ketika kematian tiba.
Atas apa yang dijelaskan tersebut berarti manusia itu sebenarnya sadar. Akan tetapi kesadarannya masih terhalang oleh sesuatu. Sesuatu itulah bisa berupa apa saja seperti sikap, mental dan karakter. Maka jelas jika memperjuangkan kesadaran membutuhkan tenaga ekstra. Sebuah proses kesabaran yang tiada berujung atau meminjam istilah lain kesabaran revolusioner.
Bicara kesadaran seorang tokoh psikologi populer yaitu Sigmund Freud menyebutkan jika kesadaran itu terbagi atas 3 dorongan utama. Pertama, id yaitu kesadaran dasar atas dorongan kebutuhan misalnya rasa lapar. Kedua, ego yaitu kesadaran atas cara melakukan sesuatu misalnya cari makan. Ketiga, super ego yaitu kesadaran atas pertimbangan nurani misalnya makanan ini enak, halal, atau bodo amat. Dari ketiga itulah kesadaran memiliki fase tersendiri untuk matang.
Tapi kadangkala kesadaran memang memerlukan sugesti atau pancingan. Agar proses berpikir memiliki daya kejut untuk melakukan sesuatu. Di sinilah hasil proses membentuk karakter. Semakin banyak orang berproses dan berinteraksi maka kesadaran akan bertambah. Kesadaran memang harus didekatkan dengan akar permasalahan. Sehingga dari itu melahirkan gerakan.
Selama ini di balik fenomena mengapa orang tidak berempati atau tidak peka misalnya, karena bisa jadi mereka hidup di alam bawah sadar. Freud menyebutkan jika alam bawah sadar seperti sebuah gunung es yang muncul dari dasar laut. Bagian pucuk gunung es itulah kesadaran dan pastinya sangat kecil. Oleh karena itu tugas kita adalah memfungsikan kesadaran kecil itu dengan penuh.
Cara sederhana untuk membangkitkan kesadaran adalah dengan menceburkan pada masalah. Dalam hal ini subjek harus dekat dengan objek. Agar subjek tahu bahwa apa yang dialami akan berbeda dengan apa yang dilihat. Karena bagaimana pun juga mengalami pasti merasakan berbeda dengan hanya praduga. Misalnya orang akan sadar betapa berharganya sebulir nasi jika merasakan lelahnya menjadi petani.
the woks institute l rumah peradaban 1/6/24
Komentar
Posting Komentar