Woko Utoro
Sudah beberapa kali saya geram kepada teman sendiri di pondok. Pasalnya mereka tidak kunjung memiliki kesadaran akan hak dan kewajiban. Tentu di kasus ini adalah soal ibadah dan kebersihan. Saya tidak tahu mengapa anak yang lahir tahun 2000 ke atas memiliki pola sama yaitu kurang peka.
Saya hampir bosan bagaimana cara mengingatkan dengan efektif. Padahal dulu saya dibekali ilmu kepemimpinan oleh guru di saat SMA. Kata guru saya coba contohkan dan biarkan mereka melihat. Setelah itu contohkan dan ajak mereka membantu. Setelah itu baru biarkan mereka mengerjakan sambil kita turut membantu. Setelah itu barulah mereka mengerjakan dan kita tinggal melihat. Perasaan saya semua fase itu sudah dilewati tapi tetap saja masih belum menimbulkan kepekaan.
Tentu peka saja tidak cukup. Ada yang lebih tinggi dari sekadar peka yaitu kesadaran. Tapi kadangkala kesadaran sudah dimiliki namun kalah oleh kemalasan. Di sinilah barangkali mengapa kesadaran anak-anak sekarang menurun. Setidaknya saya menemukan dua faktor mengapa kesadaran menurun yaitu: terjadinya distraksi akibat distrupsi teknologi. Anak-anak telah dikuasai oleh media setengah dari seutuhnya diri. Akibatnya kesadaran mereka lambat laun melemah dan menjadi minim kepekaan. Kedua, kurangnya dorongan dalam diri untuk menguasai ego serta terjebak emosi negatif.
Setidaknya dari dua faktor tersebut kita menjadi tahu mengapa membangkitkan kesadaran itu sangat penting. Terlebih ketika hidup berkoloni di pondok pesantren. Kehidupan yang seharusnya dibangun atas dasar berkesadaran untuk saling mengingatkan, kerjasama dan memahami. Kita mestinya tahu bahwa shalat adalah kewajiban dan kebersihan adalah anjuran agama. Maka seharusnya menjadi premis agar seseorang peka dan berkesadaran untuk melakukannya.
Tapi selama ini yang membuat saya sedih adalah ketika semua berjalan statis, jegrek, diam di tempat. Seolah-olah nasihat tak lagi keramat, petuah hanya didengar sesaat. Padahal semua petuah dan nasehat keluar dari lisan pengasuh. Entah di mana letak kesalahannya. Saya sendiri bingung menghadapi satu kondisi yang tidak menguntungkan. Jika kesadaran memerlukan waktu lantas kapan kondisi itu tiba. Seakan-akan kesadaran itu memang mahal harganya.
Di sinilah rasanya pendidikan kesadaran perlu diterapkan. Terlebih di lembaga seperti pondok pesantren kesadaran aplikatif tentu merupakan salah satu output yang harus ada di jiwa santri. Santri harus sadar akan lingkungan dengan segala keragamannya. Termasuk ketika seseorang melihat lantai kotor bagaimana mereka meresponnya. Ketika ada orang kesusahan seperti apa cara menolongnya. Atau ibadah wajib bagaimana melaksanakannya. Semua itu kembali pada diri sendiri mau atau tidak. Sadar atau tenggelam. Tuhan memberi perangkat canggih untuk memilih. Maka orang berakal pasti akan memilih di pihak kebaikan.
the woks institute l rumah peradaban 31/5/24
Komentar
Posting Komentar