Langsung ke konten utama

Sang Syahidah Ilmu




Woko Utoro


Namanya Noor Indana Lazulfa. Ia berasal dari Tayu Pati Jawa Tengah. Ia seorang gadis kecil yang melanjutkan sekolah ke MI Mathali'ul Falah (Mathole') sekitar tahun 2000. Singkat kisah dalam perjalanan itu Indana ditinggal ibunya yang wafat karena sakit. Walaupun begitu Indana tidak terusik apalagi bersedih berlebihan. Ia justru semakin semangat karena apa yang dilakukan tak lain karena buah bakti pada ibunya.


Untuk ukuran anak MI tentu Indana adalah bocah langka. Ia justru malah bertahan dan meneruskan proses menimba ilmu di Pondok Pesantren al Hadhanah. Singkat kisah ternyata proses menimba ilmu Indana tidak mudah karena sebenarnya ia telah mengalami komplikasi sejak MI. Indana memiliki penyakit asam urat, kolesterol tinggi dan diabetes yang tentu mengganggu aktivitas belajarnya. Bahkan penyakit itu menggerogoti tubuhnya sampai pada jantung dan paru. Akan tetapi Indana tak bergeming. Ia justru dapat melewati hari demi hari dalam samudera ilmu sampai kelas 2 Aliyah.


Walaupun beberapa kali sebenarnya Indana sering jatuh terhuyung. Ia justru seolah tak pernah memiliki riwayat sakit apapun. Demi ilmu semua seolah tak terjadi apapun. Hingga pada 19 Februari 2024 Indana harus tumbang di tengah mengerjakan ujian catur wulan 3. Walaupun begitu ia menolak penanganan medis apapun. Padahal ia juga sedang terserang penyakit DB yang seharusnya membutuhkan istirahat total. Tapi Indana justru memaksakan diri dan tidak seperti anak-anak pada umumnya. Ia justru masih sempat hadir di keesokan harinya untuk melanjutkan ujian.


20 Februari 2024 pejuang ilmu itu ternyata dipanggil sang kekasih, Allah SWT. Ia berpulang dalam perjuangan menimba ilmu dan menahan rasa sakit. Tapi memang begitu bagi Indana ia tidak ingin melewati setiap detik dalam lautan ilmu apalagi jika sekadar berbaring di rumah sakit. Indana memang dikenal anak yang rajin, bahkan sering menjenguk temannya yang sakit. Walaupun teman itu hanya baru satu kali bertemu.


Tentu kisah inspiratif Indana membuat kita tersentak betapa gigihnya dalam mengarungi perjalanan menimba ilmu. Indana gugur sebagai syahidah dan secara bangga sekaligus sedih sosok gadis luar biasa itu diberi gelar Syahidah Ilmu dari Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) Kajen. Sesuai namanya ia memang menjadi cahaya yang berkedudukan dekat dengan penciptanya. Lahal Fatihah.


Mungkin kisah serupa sering dan banyak kita jumpai bahkan itu terjadi pada orang-orang terdekat. Jika sudah demikian kadang kita begitu pilu di saat kembali mendengar cerita tersebut. Karena bagaimanapun juga kematian dalam kondisi apapun selalu menyisakan duka. Termasuk kematian dalam proses menimba ilmu. Akan tetapi barangkali karena kesucian niat justru meninggal di saat menimba ilmu barangkali menjadi momen terbaik dalam hidup.


Kita tak perlu takut dan justru akan bangga. Karena segala hal dalam proses menimba ilmu tersebut akan menjadi saksi bahwa seseorang tengah menuju Allah di tempat terbaik. Karena bagaimana pun juga akar kata syahid adalah syahada atau persaksian. Maka dari itu kita diperintah untuk menyaksikan kebaikan seseorang selama hidup.[]


*Disarikan dari pidato KH Ahmad Nadlif dalam siaran YouTube Mathole' TV.


the woks institute l rumah peradaban 16/5/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...