Langsung ke konten utama

Motivasi Baca Tulis Untuk Kemajuan Masa Depan




Woko Utoro

Secara mendadak sore itu Mas Roni menghubungi saya untuk kembali mengisi di PP Al Fattahiyyah Boyolangu. Singkat kisah saya pun mengiyakan karena memang jadwal sedang kosong. Karena serba dadakan maka malam itu juga saya bergegas membuat ppt untuk presentasi besok. Akhirnya sampai dengan esok hari sekitar kurang dari satu jam ppt belum selesai saya buat. Jurus terakhir yang saya bisa adalah menyelesaikan ppt seadanya.

Kami pun berangkat sekitar pukul 09:30 dan tiba di TKP pukul 10:15. Setibanya di sana Pak Qoyyim sudah menunggu kami dan langsung mempersilahkan masuk ke ruang kantor. Hampir lupa bahwa acara kali ini adalah motivasi pentingnya baca tulis untuk OSIS SMPI Al Fattahiyyah. Sebenarnya sekitar setahun lalu kami juga pernah mengisi di tempat yang sama yaitu berkaitan dengan literasi. Di tahun ini kami bisa sowan untuk ke dua kalinya.




Masih dengan Mas Roni, saya juga turut memberikan materi berupa pentingnya tradisi menulis. Untuk materi pertama tentang pentingnya membaca disampaikan oleh Mas Roni. Dalam penyampaian materi yang bertempat di aula masjid tersebut Mas Roni menjelaskan panjang lebar. Mas Roni bahkan mencontohkan bahwa kebanyakan tokoh dunia dibentuk oleh bacaan yang kuat misalnya Mark Zuckerberg, Bill Gates, J.K Rowling, B.J Habibie, Bung Hatta, Bung Karno dll.

Mas Roni juga memberikan tips atau kiat agar kita senang membaca. Karena jelas bahwa membaca itu gerbang menuju pengetahuan. Selain itu manfaat membaca juga sangat banyak salah satunya terhindar dari penyakit alzheimer, tidak mudah stres, menambah kosakata, dan berpikiran luas. Tidak hanya itu Mas Roni juga mengajak peserta untuk latihan membaca. Dan kesimpulannya mereka bisa membaca. Hanya saja yang perlu diberdayakan adalah motivasi serta visi dari bacaan tersebut. Mas Roni juga mengutip pesan Najwa Shihab bahwa hanya perlu satu buku untuk kita cinta membaca.

Selepas Mas Roni langsung saja pegiat literasi plus artis dangdut yaitu saya tampil. Di awal saya memulai dengan nyanyi dan tepuk bersama. Tujuannya jelas agar acara tidak monoton dan jenuh. Hingga akhirnya peserta saya ajak menyelami tangga literasi lanjutan yaitu menulis. Saya menyampaikan bahwa kunci menulis hanya dua pertama membaca dan kedua adalah mulai sekarang juga. Resep menulis adalah membaca, ini mutlak tak bisa diganggu gugat.

Di manapun dijelaskan bahwa penulis juga pembaca. Tanpa aspek bacaan seseorang tak akan mampu menulis. Kedua literasi dasar tersebut selalu berdampingan. Maka dari itu kami memotivasi peserta untuk berdaya guna dengan menulis. Saya tidak berpanjang kalam dalam penyampaian tersebut. Saya hanya menegaskan bahwa banyak orang diangkat derajatnya oleh Allah karena barokah menulis. Bahkan Gol A Gong dan Ahmad Fuadi menjadi salah satu tokoh yang diberkahi karena menulis. Kedua tokoh tersebut dikenal karena tulisannya. Kini mereka menjadi salah satu penulis yang produktif dan selalu disambut oleh pembacanya.

Saya juga mengajak pada para peserta bahwa manfaat menulis itu sepaket seperti membaca yaitu spirit berbagi pengetahuan, mengasah kreativitas, lebih awet muda hingga mendapat profit. Lewat tulisan pula seseorang akan diperhitungkan dan inilah jalan utama mengikat ilmu. Kata Sayyidina Ali ilmu itu seperti binatang buas dan menulis adalah cara mengikatnya. Maka selagi masih di sekolah kita tingkatkan diri dengan rajin mencatat. Dengan itulah akan ada banyak hal kita rasakan manfaatnya. Mari menulis buat dunia bicara lebih lama.

Pukul 12:00 tepat kami pun mengakhiri perjumpaan kali ini. Sebelum usai kami juga menjawab salah satu pertanyaan peserta berkaitan dengan kecintaan di dunia literasi. Setelah itu di antara mereka mendapatkan reward berupa buku dari kami. Akhirnya acara motivasi literasi tersebut usai kami pun pamit undur diri. Salam Literasi.[]






the woks institute l rumah peradaban 9/5/24 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...