Woko Utoro
Dalam sesi khutbah Jum'at, KH Fakhruddin Al Bantani menjelaskan sebuah kisah di Kitab Dalilus Sailin karangan Syeikh Muhammad Anas. Di kitab tersebut dikisahkan tentang riwayat Lukman Al Hakim. Seperti kita tahu Lukman Al Hakim adalah salah satu dari 114 surah yang namanya diabadikan dalam Al Qur'an.
Menurut jumhur ulama tafsir Lukman Al Hakim adalah orang biasa bukan dari kalangan anbiya. Tapi karena wisdomnya ia menjadi teladan dan melegenda dalam Al Qur'an. Lukman diketahui hanya orang biasa, budak dan penggembala kambing tapi ia seorang yang shaleh. Salah satu dari banyak kisahnya yaitu tentang hati dan lidah.
Suatu hari tuanya memerintahkan kepada Lukman untuk memotong kambing dan membawanya bagian terenak dari kambing tersebut. Singkat kisah Lukman membawakan hati dan lidah kambing untuk majikanya. Beberapa hari kemudian Lukman diminta lagi oleh sang tuan untuk memotong kambing. Kali ini sang tua menyuruh Lukman membawakan bagian paling tidak enak dari kambing tersebut. Singkat kisah Lukman membawakan hati dan lidah untuk tuanya.
Sang majikan pun marah, mengapa ketika diminta membawakan bagian terenak dan tidak enak dari kambing tetap saja hati dan lidah. Bukannya bagian lainnya dari kambing tersebut. Akhirnya Lukman menjelaskan bahwa begitulah hidup enak atau tidak tergantung kondisi hati. Kadang kita sering berkata biarlah kata-kata saya sedikit judes tapi hati saya baik. Sebenarnya hal itu bohong karena prinsipnya apa yang diucapkan mulut selalu berelasi dengan isi hati. Jika hatinya baik maka lisan pun baik.
Ibarat teko jika di dalamnya susu atau kopi maka saat dituang akan mengeluarkan satu di antaranya. Tidak mungkin di dalam teko terdapat susu tapi saat dituang keluar kopi. Pun begitulah hati apa yang keluar dari lisan juga apa yang ada dalam hati. Maka dari itu biasakan perbaiki isi hati agar keluar kebaikan dari lisan kita. Itulah sesungguhnya bagian dari enak atau tidaknya yaitu soal hati dan lidah.[]
the woks institute l rumah peradaban 23/9/25
🙏🙏🙏
BalasHapus