Langsung ke konten utama

Hidup Yang Sastrawi




Woks

Tidak semua orang bisa hidup dengan baik. Karena tidak semua orang berpengalaman dalam menjalankan hidup. Bahkan dalam kacamata hakikat kehidupan adalah kematian sedang hidup yang kita anggap ini sebenarnya bukan hidup tapi mati. Syeikh Ibnu Arabi' bahkan bertanya jika yang kita anggap ini hidup mengapa menjumpai kematian. Seharusnya hidup itu tak kenal mati dan hidup bersama yang maha hidup.

Justru lebih mudah mengakhiri hidup dari pada mempertahankan kehidupan. Orang sufi pandai dalam memilih kehidupan. Mereka tidak akan membuat hidup ini hanya sekadar bertahan hidup dengan makan minum. Tapi mereka akan berpikir bagaimana mengisinya dengan ibadah dan mempersiapkan akhir hidupnya. Selama ini kita tahu orang-orang sangat mudah melupakan apa ujung dari hidup ini. Sehingga mereka juga alpa apa yang akan disiapkan ketika waktu itu tiba.

Hidup memang perlu dinikmati. Karena kenikmatan hidup itu jangan sampai lupa bahwa nikmat adalah hak guna pakai yang ada akhirnya. Akan tetapi mayoritas orang beranggapan bahwa menikmati adalah dengan cara mengeksploitasi kehidupan. Artinya semua adalah tentang kebahagiaan. Sehingga jika hidup tak bahagia maka manusia mudah kecewa. Oleh karenanya hiduplah secara sastrawi.

Hidup secara sastrawi adalah bagaimana seseorang berdamai dengan segala kondisi. Bisa dibilang nyastra hidup adalah mengakrabi kegagalan, berdamai dengan ketidakberuntungan, menikmati segala kekurangan kelebihan dan melihat sesuatu secara lebih esensial. Misalnya pemain sepakbola merasa resah ketika ia tidak memiliki sepatu bola tapi lebih penting mana sepatu bola dengan mereka yang tak punya kaki. Dengan berkaca demikian maka terbukalah pikiran bahwa memiliki kaki adalah hal terkaya yang tak sempat kita pikirkan.

Dengan demikian kita sedang belajar bahwa hidup yang sastrawi adalah mencoba mengisi ruang hidup dengan ilmu yang berkualitas. Dalam bahasa Mas Didi Kempot lek wes ambyar dijogeti wae. Sehingga apa guna keluh kesah dan memang tidak berguna. Bukankah kenikmatan dan kegagalan adalah sepaket dan tak ada bedanya. Gagal dan beruntung keduanya adalah ujian. Semua sama, tinggal bagaimana kita menghayatinya.

Orang-orang bijak tidak banyak alasan dalam menghadapi ujian sedangkan para pembual sibuk memikirkan alasan dan pembenaran. Maka dari itu para sufi sangat akrab dengan cobaan. Bahkan Tuhan justru lebih dengan mereka yang papa dan terpinggirkan. Intinya adalah segala sesuatu dalam hidup tidak usah disesalkan. Semua sudah berjalan apa adanya, sudah sesuai dengan garis edarnya. Tinggal manusia saya yang perlu mengisinya dengan sesuatu yang baik. Jika sayur terasa hambar tinggal memberinya garam sesuai selera jangan sibuk mencari cabai untuk membuatnya tak karuan. Orang bijak selalu santai dalam menghadapi kehidupan dan tak pernah mengeluh. Hidup selalu optimis karena Tuhan maha sastrawi selalu memberikan kejutan buat hambanya من حيث لا يحتسب.

the woks institute l rumah peradaban 28/1/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...