Langsung ke konten utama

Kenikmatan Berdzikir




Woks

Jika ditanya apa pekerjaan yang melelahkan rerata akan menjawab menunggu. Ya hingga hari ini menunggu menjadi aktivitas yang selalu dihindari setiap orang. Bahkan saking tidak inginnya menunggu banyak orang yang melakukan jalan pintas. Menunggu memang hal yang tidak semua orang mampu melakukannya. Hanya mereka yang terpilih dan bersabarlah yang dapat melewatinya.

Saya pernah menemui ada seorang mahasiswa hanya demi bertemu dosen pembimbingnya ia rela menunggu lama. Ketika saya tanya sudah berapa lama menunggu katanya sejak siang hingga sore waktu asyar. Tentu antara penat dan melelahkan tapi bagaimanapun ia rela demi pekerjaan usai. Mendengar cerita itu saya jadi berpikir ternyata kerelaan atau mungkin setengah terpaksa itu membuat orang mengorbankan dirinya hanya untuk menunggu.

Menunggu tentu akan menyita waktu. Sehingga menunggu itu menghasilkan varianya tersendiri misalnya menunggu yang biasa, sia-sia dan bermakna. Menunggu yang biasa tentu seperti kita antri di kasir atau menunggu panggilan kerja. Menunggu yang sia-sia yaitu penantian seorang kekasih terhadap sebuah kepastian dan ternyata hasilnya bertepuk sebelah tangan. Sedangkan menunggu yang bermakna adalah ketika waktu itu digunakan untuk berdzikir misalnya ketika menyepi atau i'tikaf.

Mengingat mahasiswa yang menunggu dosennya itu saya jadi ingat andai saja aktivitas menunggu itu bernilai maka dzikirlah jawabannya. Kita ingat kisah Sunan Kalijaga yang bertapa lama di bantaran sungai. Mengapa orang seperti beliau atau orang berdzikir bisa betah berlama-lama. Bukankah menunggu sebentar saja sudah terasa penatnya. Ternyata jawabannya sederhana yaitu pekerjaan menunggu yang disertai dzikir adalah dimensi khayal alias hakikat. Jadi orang yang sudah di level hakikat tidak akan merasakan apa yang fisik timbulkan misalnya pegal-pegal dll.

Orang yang khusyuk berdzikir memang tak akan sadarkan diri padahal kondisi aslinya sedang terjaga. Kata Syeikh Siti Jenar jika sujud hanya dengan anggota badan yang fisik maka esok ia akan lebur, hancur dengan tanah sedangkan ruh akan abadi. Maka pantas khusyuknya berdzikir dan sujud akan bernilai jika dilakukan dengan ruhani. Seperti tadi jika orang sudah merasakan nikmatnya dzikir maka bersila lama pun tak akan terasa capek. Bahkan Sunan Kalijaga rela menunggu lama demi mendapatkan ridha gurunya.

Kita bisa saja melakukan ibadah dengan fisik tapi lupa hati tidak diajak mengikutinya. Sehingga yang timbul adalah sekadar menunggu menikmati waktu secara formalitas. Oleh karena itu seharusnya antara jasad dan ruh harus sama-sama berdzikir di saat menunggu sekalipun. Sehingga menunggunya kita akan bernilai ibadah. Orang berdzikir tak akan pernah merasa sia-sia sekalipun dalam keadaan berdiri, antri atau menunggu.

Pesan Syeikh Ibnu Athoillah Syakandary janganlah kita meninggalkan dzikir hanya karena tidak bisa hadir sepenuh hati dengan Allah. Sebab lupa Allah dengan tidak berdzikir itu lebih parah daripada lupa kita dengan Allah ketika sedang berdzikir. Maka dari itu berdzikirlah setiap saat setiap waktu. Buat hidup terasa hidup terutama menghidupkan hati yang mudah lupa.

the woks institute l rumah peradaban 28/1/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...