Langsung ke konten utama

Membangun Jalan Pikiran




Woks

Jalanan di desa tak kunjung membaik sudah berpuluh-puluh tahun bahkan suksesi kepemimpinan telah berganti jalanan tetap saja rusak. Begitulah kondisi desaku setiap tahun ku lihat desa tak pernah beres soal jalan. Entah bagaimana akhir ceritanya yang jelas jalanan selalu saja punya cerita.

Yang paling dekat dengan jalanan adalah debu keluh kesah warga desa berharap cemas kapan jalan ini bisa diperbaiki. Sedangkan setiap hujan tiba kubangan air dan tanah yang licin menjadi medan tak berperi. Sudah berapa banyak warga yang jatuh, sudah berapa kali benda jatuh dan hilang. Apakah jalanan hanya diam, tentu tidak ia selalu memangsa korban dan harapan.

Jika jalanan demikian masyarakat hanya diam. Atau sesekali memperbaiki dengan pamrih. Di persimpangan sekelompok anak muda menguruk jalan yang bolong itu lantas di ujungnya mereka menodongkan ember berharap iba sang pengendara. Apakah semua itu baik, tentu dari sudut mana kita memandang. Bahkan anak-anak kecil sangat ceria ketika dilempari uang receh oleh para pengendara.

Jalanan desa kami memang tak kunjung membaik. Selalu saja tarik ulur tanggungjawab sejak lama. Di sana memang tak ada kepastian siapa yang berani ambil resiko. Sehingga masyarakat hanya diam termangu menunggu siapa pahlawan memperbaiki jalan. Dari jalan kita paham siapa yang memiliki kepentingan.

Kontur tanah di desa kami memang sangat sulit kecuali ditanami beton. Tidak hanya itu cuaca ekstrem baik kemarau maupun hujan sangat sulit ditebak. Hujan dan kemarau sukses dalam melakukan pelapukan batuan. Sehingga ketika jalanan sudah dihampar pasti ia tak akan awet. Ketidakawetan jalan juga dilanggengkan dengan para pembalap liar. Maka dari itu jalanan memang butuh sentuhan. Baik sentuhan dana maupun sumber daya yang rela merawatnya.

Jalanan rusak memang mengerikan selalu saja meminta korban. Tapi ada yang lebih ngeri lagi yaitu rusaknya jalan pikiran. Di mana dekadensi moral bukan lagi hal tabu justru menjadi pembiasaan. Pendidikan belum bernilai kecuali berupa selembar ijazah penghantar pekerjaan. Ilmu agama bukan sesuatu yang mewah kecuali hanya sekadar pembebas jalan formal. Masjid-masjid dan rumah dibangun sedangkan jembatan pikiran diruntuhkan. Perbedaan diperdebatkan dan posisi diperebutkan. Lantas kapan kita mau berdamai membersamai ilmu kehidupan.

Melihat semua fenomena ini kita hanya perlu berkaca diri sejauh mana yang bisa diperbuat. Sedangkan saling menyalahkan pun tak akan menuai solusi. Segala hal baik pasti akan berbuah kebaikan. Kini tinggal saatnya kita berbenah minimal memperbaiki diri sendiri sambil berpikir apakah jalan pikiran ini sudah lurus atau belum. Apakah jembatan pikiran ini telah jernih mengantar segala pejalan menuju tujuanya ataukah kita memang bukanlah apa-apa.

the woks institute l rumah peradaban 3/1/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...