Langsung ke konten utama

Jejak Para Donatur




Woks

Anda tahu siapa negara yang paling dermawan di dunia? ternyata jawabannya bukan Amerika, Islandia atau Arab melainkan Indonesia. Hal itu tercatat pada tahun 2021 menurut The World Giving Index (WGI) tingkat kedermawanan mencapai 69% dari lebih 140 negara, maka Indonesia lah yang di posisi pertama sebagai negara paling dermawan. Walaupun ini hanya data akan tetapi beberapa di antara kita pasti merasakan dampaknya. Sehingga jangan melihat Indonesia hanya dari kekurangannya saja melainkan ada potensi besar nan berharga dari negara yang kita cintai ini.

Misalnya potensi besar itu ada pada dana zakat yang dikumpulkan setiap tahunnya bahkan hampir menyamai APBN. Belum lagi donasi dari para filantropi kita juga tergolong besar. Hal itu terbukti menjadi salah satu faktor negara Indonesia mampu keluar dari tekanan sejak krisis moneter 98 hingga yang terbaru dampak pandemi. Mengapa hal itu bisa terjadi karena salah satunya ada faktor agama yang menjadi dorongan para filantropi kita begitu entengan alias murah hati.

Para donatur di Indonesia dan luar negeri juga tak kalah peranannya. Mereka dengan mudah selalu memberikan donasinya bagi saudara yang terkena musibah. Salah satunya bisa kita ingat ketika Didi Kempot melakukan aksi konser amal untuk para korban terdampak Covid-19. Tidak tanggung-tanggung melalui konser virtual bersama Kompas TV itu dana donasi terkumpul 7 milyar lebih.

Belum lagi kisah kedermawanan lainnya seperti ketika banyak orang menyumbang untuk korban Tsunami Aceh pada 2004, gempa Jogja, Banjir Wasior, Erupsi Merapi 2010 hingga meletusnya Semeru 2022. Para donatur kita memang tidak berpikir panjang jika soal memberi donasi sampai-sampai mengalang dana atas asas komersialisasi agama pun tetap dilakukan misalnya galang dana untuk simpatisan ISIS, hingga membeli kapal selam.

Akar mengapa masyarakat Indonesia sangat dermawan tentu dibentuk bukan sejak kemarin sore melainkan sudah ada sejak lama. Kita tentu tahu sejak era kolonial kemurahan rakyat Aceh tidaklah diragukan. Banyak harta benda mereka curahkan buat kemerdekaan bangsa ini bahkan rakyat Aceh juga patungan untuk terus membantu membebaskan Palestina. Mereka memang terkenal akan solidaritasnya buat sesama.

Saat terjadi pertempuran di Selat Malaka, Ratu Kalinyamat penguasa Jepara saat itu mengirimkan armada dan ribuan pasukanya untuk membantu Malaka dari cengkeraman VOC. Ratu visioner itu memberi bantuan tanpa pamrih hanya demi membendung arus dan mengusir penjajah. Peran-peran para Haji Indonesia pun tak kalah besarnya, selain harta benda mereka juga turut berjuang untuk kemerdekaan. Sepulang dari Mekah para haji Indonesia bergerak menghimpun dana dan kekuatan demi menumbangkan penjajah. Akhirnya dalam sejarah Belanda harus bersusah payah mencari informasi mengapa orang selepas dari Mekah justru memberontak kepada mereka. Peranan para haji memang luar biasa mereka mendermakan harta, ilmu, waktu dan nyawa hanya untuk kemerdekaan.

Cerita tentang kedermawanan tentu tidak lengkap jika tidak bersanad kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Kadang saya berpikir orang-orang yang mudah berdonasi itu bisa sangat mungkin terinspirasi dari ajaran nabinya. Misalnya ketika gerakan jumat berkah mereka berkeliling menyusuri setiap jalan, panti asuhan, trotoar untuk mencari kaum papa dan diberinya makanan gratis itu semua juga dilakukan Nabi. Kita tau kisah mashur yang juga membuat iri sahabat Abu Bakar di mana Nabi selalu memberi makan serta menyuapi seorang Yahudi buta di pojokan pasar Madinah.

Hal-hal demikianlah yang juga banyak kita temui. Tidak hanya Nabi para sahabatnya pun menjadi inspirasi misalnya banyak orang di era modern berderma laiknya sahabat Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Para dermawan, pengusaha besar hingga crazy rich juga tak kalah ambil bagian dalam membantu sesama. Entah apa motif di baliknya yang jelas tipe masyarakat Indonesia secara fakta adalah entengan tangan alias murah hati.

Selain dorongan ajaran agama, kesamaan rasa senasib sepenanggungan juga menjadi faktor mengapa donatur kita begitu entengan dalam membantu sesama. Donasi dalam bentuk apapun mudah tercurahkan dan jauh dari kesan individual. Bahkan saat ini sistem donasi sangat mudah dijumpai misalnya karena alasan menarik simpati umat, mengajak dalam taqwa, meramaikan rumah Allah hingga berjuang menegakan panji kebenaran. Donasi bisa sangat mudah dikomersialkan demi hajat tertentu. Akan tetapi sekali lagi kepentingan kita hanya menganalisis bahwa trend positif masyarakat Indonesia sangat dermawan masih terbukti dan faktanya memang ada.

the woks institute l rumah peradaban 30/1/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...