Langsung ke konten utama

Menjogjakan Tulungagung?


Gambar : Arca Dwarapala si penjaga gerbang kerajaan.

Woks

Tulungagung tempo dulu adalah kota suci tempat pendidikan para putra raja. Di sinilah seperti halnya Mahapatih Gajahmada pernah didik oleh Sri Gayatri Rajapatni serta banyak lagi patih dan resi yang pernah bertapa di sini. Bahkan Presiden Soekarno pernah mendapat pendidikan juga di Tulungagung. Begitulah sekelumit kisah tentang Tulungagung di masa lalu.

Saya sempat berpikir mengapa setiap Pak Rektor Maftukhin berpidato pasti menyinggung Tulungagung sebagai kota suci tempat pertapaan para resi dan pendidikan bagi anak raja. Isi dari pidato tersebut terasa monoton sehingga saya harus bertanya mengapa hal itu terjadi.

Mengapa Tulungagung yang dijadikan kota tempat mendidik resi dan calon raja tersebut tidak memiliki dampak bagi masyarakat sekitar. Di Tulungagung justru lebih banyak warkop dan pabrik rokok daripada tempat pendidikan itu sendiri. Atau mengapa masyarakatnya justru kurang terilhami dari tempat pendidikan para raja ini.

Misalnya Jogjakarta dengan sistem keratonnya sejak Mataram kuno hingga kini memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakatnya. Dalam hal ekonomi hingga pendidikan Jogja menjadi salah satu kota produtif nan kreatif, seniman, budayawan, hingga ilmuan lahir dari sana. Jogja kita tahu dikenal sebagai kota pelajar karena di sana banyak dijumpai lembaga pendidikan, lembaga pembelajaran, hingga ruang-ruang komunitas terdidik. Dengan sistem keraton hingga kini Jogja menjelma kota berbudaya dan masyarakatnya guyub rukun.

Dari pertanyaan yang mengganjal itu akhirnya saya mendapat jawabanya. Ternyata Tulungagung itu dulunya hanya berfungsi sebagai kota suci tempat bertapa sekaligus mendidik anak raja. Seperti halnya di daerah lain misalnya Solo, Tulungagung juga sama yaitu hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan. Mengapa dampak bagi masyarakat tidak terasa seperti Jogja karena Tulungagung tempo dulu berupa hutan belantara dan pegunungan.

Salah satu bukti mengapa Tulungagung yang dulunya Kadipaten Ngrowo tersebut tidak menjadi kota pelajar seperti halnya Jogja. Karena ditemukan beberapa candi dan peninggalan artefak sejarah masa lalu yang berada di atas gunung. Hal inilah yang menjadi jawaban mengapa tempat pertapaan itu berada diketinggian. Termasuk pada saat itu Tulungagung masih minim manusia yang hidup di daerah ini. Sehingga memungkinkan Tulungagung hanya berfungsi sebagai tempat pengkaderan semata. Selain itu di Tulungagung tidak ada satupun peninggalan kerajaan Hindu Budha selain beberapa candi yang fungsinya sebagai sembahyang, pemujaan dan pendarmaan. Dan memang Tulungagung bukan kota kerajaan seperti Kediri dengan Dhaha dan Mojokerto dengan Trowulan atau Malang dengan Singasari.

Jika ditanya di mana posisi Islam. Tentu sama seperti yang diduga bahwa Islam justru datang sebagai si bungsu yang belakangan kita kenal mengalami akulturasi budaya. Islamisasi justru terjadi ketika budaya santri dan pesantren masuk ke daerah ini. Hal itu berakar dari Babad Sewulan di mana kaum santri lahir dari keturunan Ki Ageng Basyariyah atau Bagus Harun lalu menurun kepada Ki Ageng Muhammad Besari, Ki Ageng Hasan Besari, Bethara Katong menuju muridnya Menak Sopal, Mbah Kiai Mesir dan lainya. Selain itu kehadiran para punggawa perang Diponegoro yang bertebaran di sekitar pesisir Jawa juga mempengaruhi lahirnya Islam di sini. Termasuk hadirnya Keraton Kasepuhan Perdikan Majan hasil dari pembagian wilayah administrasi Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tidak hanya itu dampak bagi masyarakat kita saat ini justru dihasilkan dari penjajahan oleh kolonial Belanda. Salah satu buktinya ada beberapa bangunan dan rumah Belanda yang ada di sini. Selain itu terowongan Niyama juga menjadi saksi bahwa kolonialisme tersebut tak bisa dielakan. Selain itu budaya pop dan corak perkotaan juga tumbuh di sini lebih lagi pengaruh media sosial di zaman modern sangat membantu mempercepat perubahan di kota Marmer ini.

Akhirnya dalam narasi sederhana ini ide untuk menjogjakan Tulungagung rasanya kurang tepat. Karena sesungguhnya Tulungagung tetaplah Tulungagung dengan segala ciri khasnya. Kota dengan Pusaka Tombak Kiai Upas ini justru akan menemukan jati dirinya sendiri selama masyarakatnya terus menggali kearifan lokalnya. Di mana mereka juga gandrung akan pengetahuan dan terus berkarya. Selama kearifan lokal hasil budaya adiluhung masih dilestarikan maka suatu wilayah tersebut akan kuat karena masih erat dengan sejarahnya. Selama kita tercerabut dari akar sejarah bersiaplah kehancuran tiba.

the woks institute l rumah peradaban 11/01/21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...