Langsung ke konten utama

Hidup adalah Ujian




Woks

Kalimat hidup adalah ujian memang selalu menjadi topik menarik dikala momen motivasi. Kalimat itu hadir karena tidak setiap orang kuat dalam menghadapi kenyataan. Hidup memang ujian itu sendiri bahkan mati pun adalah ujian. Semua yang ada dalam dunia ini sebenarnya ujian. Entah ia disebut kenikmatan yang dibayangkan pun ia disebut ujian.

Orang-orang hanya menganggap bahwa ujian selalu dimaknai sebagai sesuatu yang pahit, penuh derita padahal semua hal yang melekat pada diri adalah ujian. Tuhan memberi hidup pun dalam rangka menguji manusia dari luasnya rahmatNya. Apakah manusia tahan uji atau justru gagal. Ujian barangkali sengaja dihadirkan Tuhan hanya untuk mengajari manusia untuk berpikir dewasa.

Ujian hadir agar manusia mampu berharap kepadaNya. Tidak ada lain bahwa Dia yang menguji dan Dia pula yang memberi solusi atas segala ujian hidup. Percis seperti ujian di sekolah, ujian hidup pun dalam rangka naik level seseorang. Jika tidak diuji bagaimana bisa menuju maqam selanjutnya. Ujian adalah cara melihat manusia apakah mampu lulus atau menyerah. Seperti halnya dalam sistem pendidikan, ujian pun ada yang lokal personal, zonasi wilayah dan nasional. Itu tanda bahwa ujian tidak dimonopoli bagi diri sendiri melainkan semua orang.

Cuma dalam setiap ujian itu ada hal yang unik yaitu soal sikap mental manusia. Ada orang yang takut dengan ujian, ada yang berani, ikhlas atau bahkan sampai menantang. Dari sikap mental tersebut kadang pikiran orang sering berburuk sangka bahwa Tuhan selalu tidak adil dan menyulitkan hambanya. Padahal jika kita mau berpikir mengerahkan segala nalar dan nurani pasti tersadarlah bahwa sesulit apapun ujian ia telah disesuaikan dengan kadarnya.

Seperti ujian sekolah ia akan disesuaikan dengan sistem kelas. Tidak mungkin anak SD menjawab soal ujian anak SMA atau anak SMP menjawab soal anak kuliahan. Yang ada justru semakin tinggi level hidup seseorang maka ia akan berpengalaman dalam menghadapi ujian. Perlu dicatat bahwa dalam setiap ujian sudah satu paket dengan jawaban itu secara filosofis bahwa ujian hidup pun demikian. Sesulit apapun Tuhan sudah satu paket memberikannya petunjuk dan jalan. Tinggal kita perlu mentadaburinya apakah di setiap ujian yang kita hadapi adalah bagian dari kasih sayangnya atau Dia mencoba menjauhkan kita dari rahmatnya. Inilah yang perlu dipikirkan.

the woks institute l rumah peradaban 28/1/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...