Langsung ke konten utama

Postingan

Nasirun, Ngrumat Ngramut

Woko Utoro Beberapa hari lalu salah satu maestro lukis Indonesia wafat, namanya Nasirun. Ia sosok yang luar biasa. Sama seperti kebanyakan orang saya pun kaget mendengar berita jika Nasirun berpulang. Padahal kata tetangganya Pak Nasirun masih syahdu menyiram dan menyapu halaman. Saya pun demikian beberapa hari sebelum Nasirun mangkat baru saja melihat ia tampil bersama Kiai Jadul Maula dalan program Menjadi Indonesia NU Online. Tapi itulah duka kadang datang secara tiba-tiba. Ada hal yang menarik dari sosok Nasirun yaitu penghormatannya terhadap alam. Ia seperti Pramoedya Ananta Toer yaitu suka sekali membakar sampah. Bedanya Nasirun suka menyiram tanaman dan menyapu halaman. Bagi Nasirun kegiatan itu bagian dari bentuk kerendahan hati. Jika kita memiliki ingon-ingon baik hewan maupun tumbuhan maka harus bertanggungjawab. Jika tumbuhan harus disiram. Jika hewan harus dirawat dan diberi pakan. Tentu tugas itu nampak sepele tapi sebenarnya mengandung tanggungjawab besar. Ba...

Kita Yang Salah

Woko Utoro Jika mengamati media sosial baik online maupun cetak rasanya sendu. Hampir pemberitaan kita jauh dari angin segar. Apalagi jika membaca perihal pemerintah pasti membuat kita muak. Tidak usah disebutkan perihal apa saja kemuakan itu. Yang jelas apa yang terjadi di kekuasaan hari ini semua berawal dari kita sendiri. Dalam bahasa sederhana, kesalahan selalu dimulai dari hal kecil misalnya memilih. Sejak awal kita selalu salah pilih. Uniknya kesalahan itu selalu diulangi. Tapi menariknya kita tak pernah jera meminjam bahasa Mbah Nun "kecelek bolak-balik". Pada prinsipnya apa yang dipertontonkan oleh pemerintah hari ini semua adalah ulah kita sendiri. Coba saja sejak dulu kita kritik, selektif dan mau mendengar petuah bijak pastinya tak se-kecewa ini. Pertanyaannya sederhana apakah misalnya kemarin ketika kita memilih benar tidak seperti ini juga? mungkin beda sedikit atau hampir sama. Tapi menurut saya tetap saja ada bedanya. Kemampuan kita dalam memilih as...

Kesederhanaan

Woko Utoro Pada suatu ketika Joko Pinurbo pernah ditanya tentang puisi Pak Sapardi bagaimana mencintai dengan sederhana. Kata Jokpin justru mencintai dengan sederhana itu ya tidak sederhana. Dan memang mencintai dengan sederhana itu sangat sulit. Jadi mengurai kesederhanaan itu memang tidak mudah. Tinggal sudut pandang siapa yang bekerja. Percis dawuh di badan truk, "kebaikan dan keburukan tergantung mulut siapa yang bicara". Bicara kesederhanaan memang unik. Apalagi jika kesederhanaan menjelma laku. Tidak sedikit laku sederhana ini hadir di tengah-tengah kita. Di antara pejabat glamor ada mereka yang diam-diam berlaku sederhana laiknya orang umum. Di antara pemuda flexing ternyata masih ada yang pelan-pelan berlaku sederhana. Di antara mayoritas orang ingin terkenal ternyata masih ada mereka yang memilih bersembunyi. Jadi kesederhanaan itu di antara alias penyeimbang. Jika bicara kampus di mana kita bisa menemukan kesederhanaan? Jika mencari di gedung-gedung tent...

Sowan Bu Hj Roudhoh dan Pamitan

Woko Utoro Saya memanggil beliau Bu Roudhoh tanpa title hajjah dan memang itu yang beliau mau. Ini merupakan tujuan sowan terakhir saya selama di Tulungagung. Bu Roudhoh merupakan salah satu guru perempuan saya di Tulungagung. Selama itu pula kami seperti anak dan ibu, guru dan santri bahkan sahabat. Singkat kisah setelah janjian sekitar seminggu lalu saya bisa sowan ke ndalem beliau. Pada saat itu tepat hari Sabtu sehari sebelum saya geser dari Tulungagung. Hari itu juga saya lupa jika ada anak-anak TPQ yang mengaji. Hingga benar saja perbincangan kita sebentar saja. Tapi walaupun demikian semoga hubungan ruhaniyah kita tak pernah putus. Saya dapat wejangan banyak dari beliau. Katanya jangan lupa tetap istiqamah untuk terus berjuang di jalan Allah di manapun tempatnya. Apalagi jika urusan agamanya Allah kita harus terus gigih syiar dan tidak boleh loyo. Dari jalan apapun perjuangan harus terus diupayakan dan semuanya semampu kita.  Selanjutnya sebagai seorang laki-lak...

Sowan Pak Munir dan Pamitan

Woko Utoro Malam itu saya bertemu Pak Munir di warkop utara POM Rejoagung. Awalnya saya ingin bertemu di rumah tapi ternyata bertepatan dengan jadwal ngaji istri beliau. Akhirnya warkop menjadi pilihan utama. Sembari menunggu Bu Ikfi ngaji saya pun berbincang dengan Pak Munir. Kami berbincang sekitar satu setengah jam. Waktu yang terbatas tentunya. Karena malam itu saya sudah ditunggu teman di pondok. Akhirnya seperti biasa Pak Munir cerita tentang organisasi dan masa depan. Dalam perbincangan itu beliau sudah tahu maksud tujuan saya. Dan memang saya berniat pamit ke beliau untuk boyong dari Tulungagung. Dalam perbincangan itu Pak Munir berpesan untuk terus mengasah diri. Karena skill jika tidak diasah akan tumpul. Tekuni terus kemampuan yang kita miliki sampai mahir. Jika sudah beridentitas tentu orang akan mencari sendiri. Selanjutnya jangan lupa terus berkoneksi. Karena koneksi itu tidak tahu kapan akan bertemu. Hadapilah segala sesuatu dengan sabar dan tawakal. Karena ...

Sowan Pak Ridho dan Pamitan

Woko Utoro  Malam itu selepas janjian saya berencana sowan ke rumah Pak Ridho Al Qodri dan Bu Viona. Tepat di malam minggu saya tiba di rumah beliau dengan membawa dua kotak terang bulan isi pisang. Beberapa menit setiba di sana saya belum bisa menemui Pak Ridho. Ternyata beliau sedang di kebun untuk memadamkan api. Hingga beberapa menit kemudian barulah Pak Ridho datang. Singkat kisah seperti biasa kita ngopi lalu terjadilah ngobrol. Tanpa berlama-lama saya matur ke beliau jika ingin pamit dari Tulungagung. Bukan karena alasan problem, yang jelas ini memang kebutuhan di mana saya harus pulang ke rumah istri. Dari itu akhirnya Pak Ridho memberi pesan panjang lebar kepada saya. Kata beliau nikmati saja prosesnya. Kehidupan awal menikah memang jamak seperti itu dan setiap orang mengalaminya. Tinggal bagaimana kita terus belajar dan adaptif terhadap tradisi budaya yang berlaku. Setelah itu barulah kita menyelami kehidupan di sana bersama istri. Karena esok kita membangun ...

Sowan Mbah Yai Ali dan Pamit

Woko Utoro Banyak wali yang sudah saya ziarahi selama mukim di Tulungagung. Beliau-beliau tersebut lah yang menjadi kiblat spiritualitas selama saya menimba ilmu di sini. Hingga akhirnya saya melakukan pisowanan terakhir yaitu ke maqbarah Mbah Yai Ali Shodiq Uman PPHM Ngunut. Ada kisah sebelum saya sowan Mbah Yai Ali. Kisah tersebut berawal dari mimpi. Setelah beberapa hari saya ziarah ke makam Mbah Fattah Mangunsari lalu Mbah Hasan Mimbar Majan. Malamnya saya bermimpi bertemu Gus Rouf (KH. Fathurrouf Sya'fii). Malam itu Gus Rouf bilang, "Lho Mas sampean ditimbali Mbah Yai Ali. Dawuh Yai, "Kok sampean ra rene le?". Dari dawuh itulah besoknya saya langsung gas ke Pondok Ngunut. Setiba di makam Yai Ali saya membaca Yasin dan Tahlil. Selepas itu saya berdoa dan berwasilah semoga perjalanan selanjutnya dapat dilewati dengan baik. Saya juga berdo'a semoga wasilah Yai Ali dapat terus istikomah di jalur keilmuan. Seperti kita tahu Mbah Uman adalah sosok pec...

Bisikan Syaitan

Woko Utoro Dalam permainan suwit untuk mengalahkan gajah (ibu jari) bukan dengan orang (jari telunjuk) atau sesama gajah. Ternyata gajah bisa tumbang cukup dengan semut (jari kelingking). Dari permainan itu kita bisa belajar tentang hal-hal yang ada dalam lingkaran sosial. Bahwa kadang untuk menumbangkan sesuatu ternyata hanya butuh hal yang sederhana. Misalnya dalam sejarah pasukan bergajah Abrahah dapat tumbang hanya melawan kawanan burung Ababil. Dalam sosial kita pun demikian ternyata untuk menumbangkan seseorang mudah saja cukup dengan berbisik. Jangan dikira seseorang tumbang harus dengan senjata canggih padahal dimulai dari bisikan. Kita tahu dari bisikan selalu mengandung racun syaitan. Maka dalam etika sosial Islam berbisik di depan forum pembicaraan itu dilarang. Apalagi berbisik di antara tiga orang yang sedang berkumpul. Karena bisikan menimbulkan prasangka. Oleh karena itu hati-hati dengan pembisik. Dalam berbagai kasus kriminal di Indonesia misalnya seringnya ...

Berdaulat Diri

Woko Utoro Saya membaca banyak tentang Mbah Nun. Sebelum mengerti langsung orangnya saya berkenalan dengan ratusan tulisannya. Satu hal yang sering disampaikan Mbah Nun baik dalam tulisan maupun di forum Maiyah adalah berdaulat diri. Ya, daulat adalah kata yang sering diurai Mbah Nun dalam aktivitas sinau bareng. Berdaulat diri artinya mengerti tentang diri sendiri. Kata itu Mbah Nun peras dari tradisi sufi, "man arofa nafsah faqod arofa robbah" sopo wonge seng pingin ngerti Gusti Allah ngertio awakmu dewe. Jika kita ingin mengerti siapa Allah maka harusnya mengerti tentang diri sendiri. Lebih dalam lagi mengerti tentang ciptaan Nya. Bagaimana mungkin kita mengerti khaliq sedangkan kita sendiri belum dikenal. Dalam bahasa Irfan Arifi sebenarnya saya ini Islam apa Jawa. Atau saya ini Jawa yang Islam, atau orang Islam yang tinggal di Jawa, atau apa. Nah dari term itu akhirnya kita jadi berpikir dan terus mencari. Daulat diri bermakna mengerti batas. Sering kali kita...

Nikmat Keseharian

Woko Utoro Gus Baha pernah menjelaskan dalam akhir Kitab Al Basith bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernh cemburu. Mengapa Nabi Sulaiman diberi mukjizat bicara dengan binatang, mengendalikan angin atau Nabi Musa membelah laut dengan tongkat dll. Lantas tanpa berlama-lama Allah SWT langsung menjawab kecemburuan Kanjeng Nabi tersebut. Kata Allah, "Hai Muhammad tidakkah engkau ingat bahwa dulu kamu yatim. Kamu dibesarkan kakek dan pamanmu. Tidakkah ingat jika dulu engkau miskin sedangkan sekarang telah memiliki sesuatu. Bukankah dulu engkau tidak mengerti apa-apa dan sekarang jadi memahami akan al Qur'an". Dari itulah Kanjeng Nabi menjadi paham ternyata nikmat kesehatan sungguh luar biasa. Bahwa terkadang keyakinan kepada Allah SWT hanya membutuhkan nikmat keseharian yang nampak sederhana. Gus Baha lalu mengajak kita refleksi. Memang jika kita bisa terbang, atau bisa membelah laut atau membuat burung dari tanah liat hendak apa. Apa dengan mukjizat itu umat akan te...

Konsep BGS

Woko Utoro BGS itu singkatan dari biaya hidup, gaya hidup dan sikap hidup. Tiga hal itu sering kita dengar dalam berbagai forum diskusi maupun seminar. Hal-hal tersebut sangat mudah dipahami sebagai konsep tapi sering lupa jika sebagai spirit aplikatif. Bahkan lebih sering kita terjebak di antara salah satunya. Di era yang tidak menentu seperti saat ini kita tahu biaya hidup semakin mahal. Dulu orang cari makan satu piring sangatlah mudah bahkan mampu menyimpan makanan hingga esok hari. Tapi saat ini mencari sesuap nasi saja sulitnya minta ampun. Belum lagi soal pendidikan, kesehatan, kendaraan dan tempat tinggal yang tidak setiap orang memilikinya. Di sudut yang lain ada orang yang menonjolkan gaya hidup. Jika tidak hidup bergaya katanya ia bisa mati gaya. Bagi si kaya gaya hidup mungkin menyesuaikan isi dompet. Tapi ironisnya yang tak berpunya ikut-ikutan trend "biar tekor asal kesohor". Fenomena tersebut tentu bukan hal biasa melainkan sebuah penyakit. Terkadan...

Sowan Pak Toni dan Pamitan

Woko Utoro Malam itu di warkop D'angkringan belakang RS Iskak saya bertemu Pak Toni. Beliau merupakan owner PKBM Inklusi Panggungrejo. Setelah sehari sebelumnya saya pamit istri beliau kini giliran dengan beliau. Pamitan tersebut tentu berharap bisa bertemu kembali. Yang terpenting adalah tetap sambung sekalipun di tempat jauh. Dalam pertemuan tersebut cerita banyak hal seputar PKBM dan cita-citanya untuk mengembangkan lembaga spesial anak berkebutuhan khusus. Kata Pak Toni pesannya jangan pernah lelah untuk terus memperjuangkan kesejahteraan anak berkebutuhan khusus. Sekalipun jauh spirit pendidikan inklusif jangan sampai padam. Kita harus terus memperjuangkan dan jika bukan kita siapa lagi. Sebab perjuangan itu pasti membutuhkan tenaga, biaya dan waktu lama. Oleh karena itu semangat ini harus dirawat hingga kapan pun. Prinsip nya bermanfaat untuk semua. Karena tidak setiap orang punya prinsip demikian maka kita bersyukur masih konsisten hingga kini. Kata Pak Toni semo...

Sowan Bunda Abah dan Pamitan

Woko Utoro Sore itu saya sowan ke ndalem Bunda Salamah dan Abah Zainal. Beliau pengasuh Pesantren Subulussalam Manggisan Tulungagung tempat di mana saya berproses. Tapi sore itu saya izin pamit undur diri karena akan pulang menetap ke rumah istri di Probolinggo. Akhirnya setelah menunggu lama saya bertemu dengan beliaunya. Setiba di sana saya langsung disambut Abah Zainal. Kami pun langsung berbincang hangat. Tanpa berlama-lama saya mengutarakan maksud dan tujuan. Saya membuka dengan kata maaf karena pada saat itu Bunda dan Abah belum sempat dikabari jika saya menikah. Tapi akhirnya beliau paham sebab ada alasan khusus mengapa saya tidak undang beliau. Kedua saya berterimakasih karena diberikan tempat dan ruang untuk berkhidmat di pondok. Kata beliau semoga jika itu ada kebaikan maka kelak jadi jariyah. Saya pun mengamini dawuh beliau. Lalu saya pun izin untuk pamit dari Tulungagung karena akan mukim di kampung istri. Termasuk izin untuk tidak mengajar di semester depan. Da...

Sowan Prof Dede dan Pamitan

Woko Utoro Malam itu barangkali merupakan momen penuh emosional buat saya. Pasalnya saya harus meninggalkan Tulungagung dan kenangan bersama Pak Dede. Rasanya nyesek sekali. Sebab saya ingat momen penuh kehangatan bersama beliau dan teman-teman. Selain itu saya sudah anggap beliau adalah orang tua. Anda tahu bagaimana rasanya anak berpisah dengan orang tua. Malam itu saya dihidangkan kopi hitam oleh Inas (keponakan Pak Dede). Tapi kopi itu masih pahit hanya saja tidak sekental dan hangat seperti dulu. Mungkin karena ini momen terakhir saya berjumpa beliau. Semoga saja perjumpaan dengan beliau masih sering terjadi walaupun saya di luar Tulungagung. Hingga akhirnya beberapa hal saya catat dari pertemuan singkat itu. Pak Dede berpesan kepada saya jika di sana harus banyak inisiatif. Karena status kita adalah mantu maka inisiatif misalnya membersihkan halaman, wc, ruang tamu dll harus dilakukan. Selain agar si empunya rumah senang kita juga merasa bermanfaat. Selanjutnya jangan...

Sowan Pak Yohan dan Pamitan

Woko Utoro Beberapa waktu lalu saya sowan ke rumahnya Pak Yohan. Beliau merupakan sesepuh di perumahan Graha Asri Utomo Ringinpitu. Kebetulan beliau baru pulang umroh dan langsung saja saya ke sana untuk meminta doa. Termasuk juga sekaligus saya berpamitan dengan beliau. Saat di sana saya dapat banyak kisah terutama seputar umroh. Akan tetapi yang terpenting adalah bekal untuk saya dalam melanjutkan perjalanan setelah ini. Kata Pak Yohan tetaplah sederhana dan berusaha. Apalagi jika kita punya potensi teruslah diasah. Karena kita tidak tahu kapan potensi itu menemukan jalannya. Beliau katanya yakin jika saya bisa melewati semuanya. Asalkan mau berusaha dan berdoa pasti semua ada jalan keluarnya. Di manapun tempatnya jika kita sudah lama ditempa insyaallah menghadapi dunia tidak teramat sulit. Pokoknya kata beliau selamat jalan dan tetaplah istikomah dalam kebaikan. Serahkan semuanya kepada Allah SWT. Tidak usah takut dan teruslah melangkah. Dengan segenap doa dan jiwa Pak Y...

Tangisan Anak SD

Woko Utoro Sudah masuk tahun ajaran baru. Itu artinya ada semangat baru, teman baru dan seragam baru. Hal-hal baru itu menjadi bahan bakar seorang anak menikmati masa berprosesnya. Tapi saya menemukan satu siswa menangis tersedu-sedu karena ditinggal guru lesnya. Siswa tersebut akhirnya lemas dan kurang bergairah ketika dihadapkan dengan realita saya harus belajar sendiri. Tangisan anak SD tersebut tentu mengingatkan saya akan banyak peristiwa serupa. Dulu ketika masih di SDI Al Azhaar Tulungagung saya berproses bersama anak-anak sejak di kelas 2-6 selama 2 tahun. Lalu saya tidak memperpanjang kontrak dan ada saja siswa yang menangis karena harus berpisah. Bahkan beberapa masih sering menghubungi saya lewat pesan WhatsApp. Setelah itu saya ulangi lagi di SD Ringinpitu 1 juga sekitar 2 tahun masa pengabdian. Ketika momen pamit undur diri saya langsung kabur. Karena pastinya saya tidak kuasa menangis tangis. Benar saja beberapa di antara mereka mengejar saya hingga pintu gerb...

Haji Magis

Woko Utoro Beberapa waktu lalu kami bisa sowan haji kepada beliau Prof Dr H Ngainun Naim. Walaupun momentumnya sudah lewat tapi perasaan itu masih begitu hangat. Terbukti saat kami tiba di sana saya bilang, "Prof, belum terlambat nggih". Beliau menjawab dengan senyuman, "Yo urung". Hingga singkat kisah saya melontarkan dua pertanyaan kepada beliau lebih berat mana dipanggil Prof atau Haji? dan bagaimana gambaran haji di era modern ini? Kata beliau dipanggil Prof atau Haji sama-sama beratnya. Tapi tips nya sederhana agar tidak jadi beban abaikan saja titel itu. Anggap saja tidak terjadi apapun. Walaupun kita tidak bisa menghindar dari sebutan itu di masyarakat. Yang jelas berlaku baik dan lurus sebagaimana mestinya itu sudah cukup. Selanjutnya soal ibadah haji di era modern ini unik. Keunikannya setidaknya pada penggunaan teknologi dan kajian yang tiap tahun selalu ada saja yang baru. Hingga bagi beliau ibadah haji tahun ini termasuk penyelenggaraan terba...

Menulislah Selagi Lapang

Woko Utoro Awalnya judul tulisan ini adalah, "Menulislah Selagi Jomblo" tapi ketika saya pikir ulang menjadi tidak tepat. Karena kejombloan bicara status sedangkan lapang adalah waktu. Waktu seperti kita tahu sesuatu yang melekat kepada siapapun tanpa perlu tahu status sosialnya. Bicara soal waktu tentu kita ingat Surah Al Asr, demi masa atau dalam bentuk lagu yang dilantunkan Raihan (2001). Demi masa menjadi pengingat kita tentang salah satunya lapang sebelum sempit. Dalam konteks menulis saya tentu merasakan hal itu. Saya merasa hari-hari ini dengan status sebagai suami rasanya hidup seperti diburu waktu. Saking sibuk atau padat atau apa saya tidak paham rasanya untuk menulis begitu sulit. Padahal waktu 24 jam terbilang sangat banyak. Saya tidak membayangkan jika nanti sudah memiliki momongan. Pasti akan lebih repot lagi bukan sekadar waktu tapi kesempatan untuk tetap konsisten. Semoga saja aktivitas menulis masih terus dijalankan walaupun mungkin sedikit tertat...

Mbah Marfiatun Yang Santun

Woko Utoro Alhamdulillah saya dan Ang Irfan bisa hurmat ta'jiyah ke rumahnya Mbah Marfiatun di Kebonagung Udanawu Wonodadi Blitar. Walaupun informasinya telat tapi kami sampai di sana tepat di peringatan ke tujuh harinya. Tepat di malam Jum'at setelah magrib kami langsung meluncur ke sana. Walaupun sebenarnya tidak tahu kapan acara tahlilan dilangsungkan. Kami berangkat dengan bergegas dan percaya diri. Singkat kisah ternyata kami bisa mengikuti acara dari awal hingga akhir termasuk tahlil dan khatmil qur'an. Tentang siapa sosok Mbah Marfiatun tentu menarik untuk dicatat di sini. Sebab sosok beliau memang luar biasa. Sosok yang langka tentunya ketika melihat jaman sekarang yang penuh tipu daya. Mbah Marfiatun adalah garwanipun Mbah Kyai Imam Ahmad atau ibu dari KH Hafidz Baehaqi, Pak Huda dan putra-putri lainnya yang belum saya kenal. Beliau dipanggil oleh orang-orang sekitar dengan panggilan Yu Tun atau Mbah Tun. Foto : Siswa-siswi MI Syafi'iya...

Hidup Adalah Bekerja Untuk Ibadah

Woko Utoro Shubuh tadi ketika pertandingan seru piala dunia antara Belgia vs Senegal kami mengikuti ngaji Al Minahussaniyyah bersama Abah Sholeh. Sebenarnya saya sudah khatam ngaji kitab karya Sayyid Abdil Wahhab as Sya'rani ini beberapa tahun lalu. Akan tetapi ketika dikaji kembali selalu ada saja mutiara yang tertinggal. Kebetulan semalam kita diingatkan tentang tema bekerja.  Orang Jawa mengistilahkan bekerja dengan "nyambut gawe". Sebuah istilah yang ternyata ketika diselami sangatlah unik. Dalam Kitab Minahussaniyyah yang merupakan syarah atas Washiyatul Musthafa tersebut menjelaskan hal menarik tentang bekerja. Kata Abah yang sekaligus menukil pendapat jumhur ulama bahwa bekerja itu wajib. Bekerja itu wasilah atau sarana atau syariat untuk mempertahankan kehidupan. Orang tidak boleh tidak bekerja. Orang tidak boleh malas bekerja. Karena orang yang tidak bekerja lir ibarat mesin tapi tidak digunakan. Sebenarnya orang punya manfaat minimal atas dirinya t...