Langsung ke konten utama

Aksi Damai dan Doa Bersama Untuk Palestina




Woko Utoro


Tepat di hari minggu pagi 26 November 2023 di Alun-alun Tulungagung diselenggarakan acara aksi damai dan doa bersama untuk Palestina. Acara semacam ini tentu tidak hanya digelar di Tulungagung melainkan hampir seluruh wilayah Indonesia dan dunia. Sebuah aksi solidaritas warga Muslim untuk bangsa Palestina yang sedang dijajah oleh Zionis Israel.


Acara semacam ini selalu menyedot perhatian banyak orang termasuk di Tulungagung. Salah satunya acara ini diikuti oleh seluruh umat Islam berbagai ormas di antaranya MUI, NU, Muhamadiyah, Al Irsyad, LDII dan lainnya. Aksi solidaritas utamanya pada Palestina memang membawa empati kolektif. Terlebih peran media membuat suasana batin diaduk-aduk. Seolah setiap bangsa yang masih berperasaan merasakan pilu mendalam. Hal itu tentu tidak terketuk pada negara Uni Eropa, Amerika dan negara Liga Arab.


Selama ini Indonesia, Iran dan Turki masih menjadi tiga dari banyak negara yang konsisten membela Palestina. Dengan segala macam dinamika tentu pembelaan terhadap bangsa Palestina tak bisa dipisahkan atas latar sejarah. Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas Muslim merasa berkewajiban mendukung Palestina sampai kapanpun. Walaupun entah kapan peta politik global bergeser kita tidak tahu. Yang jelas setiap bangsa dengan kesadaran penuh pastinya akan mengutuk aksi brutal Israel.


Kesalahan Fatal Israel


Israel sebagai negara boneka Amerika tentu selalu menjadi sorotan dunia. Pasalnya status mereka kini sebagai penjahat perang. Alasannya sederhana selain karena mencaplok wilayah sah Palestina mereka juga menerapkan "brutal war" atau peperangan tanpa etika. Padahal dalam Islam serta etika hukum Internasional, Israel telah melanggar kesepakatan hukum. Mereka membunuh anak-anak, perempuan hingga membombardir tempat ibadah dan rumah sakit.


Dalam etika perang Islam anak-anak, perempuan dan binatang ternak dilindungi bahkan rumput serta sumur pun tidak boleh menjadi objek perusakan. Sedangkan jika kita melihat berita yang beredar Israel tentu telah melanggar hal itu. Oleh karenanya seharusnya mereka tidak layak berdiri sebagai sebuah bangsa. Israel perlu dihukum atas segala kebiadaban dan genosida.


Kita juga sadar sebenarnya apa yang dikatakan Yuval Noah Harari bahwa kecanggihan teknologi sesungguhnya adalah kemunduran. Harari membuktikan bahwa teknologi justru memperbudak dan tidak bisa dikendalikan. Contoh riil tentu Israel yang memiliki senjata dan diciptakan sebagai pemusnah massal. Hingga akhirnya kita juga bertanya apakah yang memiliki persenjataan mereka yang kuat? Atau justru mereka sebenarnya yang lemah karena memiliki ketergantungan akut terhadap senjata.


Gagal Paham Kemerdekaan Palestina Sama Dengan Kiamat


Amat disayangkan kita mendengar ada sebuah hadits yang disalah artikan dan berkembang di masyarakat. Hadits tersebut kurang lebih berbunyi bahwa tanda kiamat kalian akan memerangi Yahudi. Juga redaksi lain menyebutkan Dajjal akan dikepung di Baitul Maqdis dan akan dibinasakan di sana.


Dari beberapa redaksi tersebut masyarakat kita khususnya yang awam mengartikan jika Israel dan Palestina merdeka maka akan kiamat. Padahal di era Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al Ayyubi bangsa Palestina pernah dimerdekakan. Pandangan masyarakat yang demikian tentu kontradiksi dengan spirit pembebasan bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Hal itu juga ditengarai karena kurangnya literasi di masyarakat.


Padahal teks hadits tersebut masih menjadi perdebatan para ahli. Misalnya apakah di sana terdapat nama Palestina dan Israel secara gamblang. Atau apakah yang dimaksud Israel adalah Bani Israil keturunan Nabi Musa atau Nabi Ya'kub. Juga apakah Yahudi saat ini sama dengan Yahudi di era para nabi terdahulu. Tentu beragam redaksi tersebut perlu dikritisi. Termasuk saat ini berkembang juga ilusi bahwa Imam Mahdi akan segera muncul dari sana.


Jika hanya sekadar tanda kiamat tentu di akhir zaman ini sudah jelas tanpa harus menyangkut pautkan kemerdekaan Palestina dengan kiamat. Padahal misalnya budak melahirkan anak majikannya, perzinaan di mana-mana, maksiat terang terangan juga salah satu dari tanda kiamat. Di sinilah perlunya kita memiliki bacaan yang berkesadaran. Tidak hanya menelan mentah teks dengan sekehendak logika sendiri. Kita memerlukan pisau bedah berupa kajian penunjang. Sehingga tidak terjadi sesat pikir yang berkepanjangan.


Saat ini tugas kita adalah membantu. Jika tak mampu berdonasi setidaknya empati dan terus berdoa adalah cara terdekat yang bisa dilakukan. Jangan lupa kita harus bersikap kritis dan jernih utamanya ketika mengkonsumsi video dan informasi yang beredar. Isu Palestina harus menjadi topik yang kita juga miris mendengarnya. Tapi jangan sampai Israel Palestina menjadi gorengan khususnya di tahun politik. Kita terus berdoa semoga Allah memberikan jalan terbaik bagi bangsa Palestina.[]


the woks institute l rumah peradaban 27/11/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...