Langsung ke konten utama

Review Buku Merawat Nusantara




Woko Utoro

Di tengah isu melunturnya persatuan antar sesama anak bangsa. Barangkali membaca buku Merawat Nusantara adalah salah satu solusinya. Pasalnya dalam buku tersebut kita diberi pencerahan bagaimana menjadi bangsa yang berkarakter. Kita diajak untuk melihat Nusantara secara lebih dekat. Karena secara fakta bahwa Nusantara adalah negeri kepulauan. Maka dari itu kunci memahami bangsa ini adalah lewat spirit persatuan.

Buku Merawat Nusantara (2017) terdiri dari 4 bab dan ditulis secara ringan oleh anggota Sahabat Pena Nusantara (SPN) dengan bahasa yang mudah dipahami. Bab I buku ini menjelaskan tentang merawat Nusantara melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila, Bab II merawat Nusantara lewat pendidikan & budaya, Bab III merawat Nusantara dalam bingkai hikmah kehidupan dan Bab IV merawat Nusantara lewat pembangunan daerah dan demi kemajuan. Barangkali dari 4 bab dan ditulis oleh 41 orang dengan beragam latar belakang tersebut buku ini menjadi lengkap sekaligus mencerminkan kebhinekaan.

Banyak hal menarik yang kita dapatkan dari buku ini. Misalnya bahwa untuk merawat Nusantara seseorang perlu memulainya dari diri sendiri, keluarga, lingkup masyarakat hingga negara. Merawat Nusantara merupakan konteks luas sedangkan pengamalannya berawal dari diri sendiri. Misalnya ciri khas orang Nusantara adalah berkarakter ramah, peduli sesama dan toleransi. Dari sikap itulah sejatinya bisa menjadi modal bahwa kita kaya dan berperadaban.

Nusantara terlalu luas dan kaya jika hanya diperebutkan sesaat. Oleh karenanya buku ini mengajak kepada khalayak untuk memiliki sikap merawat, melestarikan, menjaga, melindungi, menghidupkan, memaknai segala macam kebaikan yang ada. Misalnya potensi alam kita, sosial, agama, suku bangsa serta keragaman harus dijaga dan difungsikan dengan baik. Lewat persatuan itulah cara di mana bangsa memaknai kebhinekaannya.[]

Judul : Merawat Nusantara
Penyunting : Abd Aziz Tata Pangarsa
Tahun : 2017
Halaman : 222
Penerbit : Genius Media
ISBN : 978-602-1033-22-7

the woks institute l rumah peradaban 3/11/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...