Langsung ke konten utama

Jamaah Jamaah




Woko Utoro

Setelah magrib pengajian dimulai. Seperti biasa Abah langsung menghentikan pengajianya setelah membaca tafsir Jalalain. Padahal ada satu kitab lagi yaitu Abi Jamroh yang harusnya dibaca. Tapi beliau langsung meneruskan dawuh-dawuhnya. Dalam dawuh tersebut beliau agak sedikit kesal kepada kami yang hampir tiap hari tidak ada perubahan. Beliau mengatakan pada kami untuk rajin shalat berjamaah.

Kata beliau jangan sesekali menyepelekan shalat jamaah. Saking pentingnya maka pola tidur harus dimanajemen sebaik mungkin. Karena jamaah itu indikator seorang Muslim. Banyak fadhilah orang yang mau jamaah. Salah satu keutamaan shalat berjamaah adalah dilancarkan rezekinya dan di akhirat mampu melewati jembatan shiratal mustaqim secepat kilat.

Abah memang selalu berpesan berkaitan shalat berjamaah. Sebab di zaman akhir orang shalat itu sudah semakin sedikit. Apalagi di waktu shubuh bisa dihitung hanya imam dan makmum. Mengapa jamaah itu penting, karena dengan bersama adalah membentuk pertahanan. Orang jika sudah bersatu maka pertahanan sulit dijebol. Problem masyarakat saat ini terutama anak muda pertahanannya sudah dijebol oleh gadget. Mereka menjadi lalai dalam ibadah kepada Allah. Akibatnya jamaah tidak menjadi penting daripada gadget tersebut.

Tentu keadaan tersebut selalu menjadi pikiran Abah. Beliau selalu berpikir bagaimana santri-santri jika besok pulang ke rumah. Sedangkan mereka tidak mau jamaah ketika di pondok. Padahal jelas bahwa pondok adalah miniatur menempa jiwa. Pondok adalah tempat latihan sebelum santri siap di tempatkan di masyarakat. Pondok adalah wadah membina santri untuk berjuang menaklukkan masyaqat.

Selain masalah jamaah tentu beliau selalu mengingatkan agar rutin nderes al Qur'an walaw ayatan alias walaupun satu ayat. Yang terpenting adalah istiqamahnya. Karena dari membaca al Qur'an tersebut mereka sebenarnya tengah membantu usaha orang tua di rumah. Bacaan al Qur'an tersebut lebih sangat bermanfaat bagi mereka yang sudah tiada. Maka dari itu manfaatkan waktu selagi masih berada di pondok. Jangan bermalas-malasan dan tetap belajar dengan tekun.[]

the woks institute l rumah peradaban 22/11/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...