Langsung ke konten utama

Catatan Ngaji Suluk Salikin




Woko Utoro


Kemarin saya dan teman mendapat undangan untuk hadir pengajian rutin di Masjid Nur Rohman Selojeneng Sumberdadi Sumbergempol. Nama majelis tersebut adalah Majelis Suluk Salikin atau dalam bahasa undangan disebutkan Kajian Tafsir Al Qur'an.


Acara pengajian tersebut dilaksanakan setiap selasa kliwon atau dalam undangan disebutkan tiap rabu legi. Pengajian tersebut diasuh oleh KH Mualim Masykur dari Campurdarat. Kebetulan beliau merupakan murid dari KH Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang. Sebelum memulai pengajian beliau menyenandungkan syair Burdah percis seperti Yai Djamal ketika memulai pengajian.


Dalam mejelis ini acara dimulai dengan tawasul, yasin dan tahlil. Setelah itu pengajian baru dimulai. Pengajian begitu sederhana di mana jamaah lesehan di depan teras masjid. Sedang KH Mualim berada di antaranya. Dalam ceramahnya KH Mualim menjelaskan seputar bacaan Subhanallah. Dan kebetulan ngaji kali ini merupakan rutinan ke-3 yang sebelumnya membahas tentang bacaan Basmalah dan Hamdallah.


Di antara yang didawuhkan KH Mualim saya mencatat beberapa poin. Pertama, orang itu harus terus eling lan waspada. Karena kita hidup hanya berpindah alam dan akan kembali pada alam keabadian. Pesan tersebut tentu berkaitan dengan posisi manusia yang hidup di alam ke-3 setelah alam ruh, azali dalam rahim, dunia dan akan ke barzakh hingga akhirat. Ketika di barzakh itulah segala amal akan terputus dan memang transisi yang memisahkan dunia dan akhirat.


Kedua, Orang itu harus yakin. Karena keyakinan akan berkaitan dengan keimanan. Jika manusia tidak memiliki keyakinan maka ia tak ubahnya seperti eceng gondok. Eceng gondok adalah tumbuhan yang hidup di air sebagai ilustrasi keterpasungan jiwa. Artinya seseorang akan mudah terombang-ambing oleh tipuan dunia. Maka dari itu mengaji agar terus yakin bahwa jalan Allah dan Rasulnya adalah kebenaran.


Ketiga, konsep sedekah dalam Islam itu unik. Siapa bilang harta yang kita sedekahkan akan habis justru itu bertambah. Harta untuk orang lain itu sebenarnya harta kita. Sedangkan harta yang kita simpan baik di rumah maupun di bank itu justru harta orang lain. Maka dari itu Islam memberikan jalan untuk sedekah, zakat, infaq dll. Maka tidak salah jika Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah berpesan bahwa pintarlah mereka yang menyedekahkan hartanya untuk diri sendiri. Dalam riwayat juga dijelaskan bahwa tidak ada bala bencana yang menolak sedekah.


Keempat, Harun Ar Rasyid adalah salah satu pemimpin yang agung di era Daulah Abbasiyah. Tapi kita belajar di akhir hayatnya bahwa beliau berpesan unik pada pelayanannya. Kata beliau jika akan mati kelak bentangkan tanganya seperti orang disalib duduk di atas sebuah kursi sederhana . Ternyata maksud beliau adalah, " Inilah Harun Ar Rasyid seorang hamba biasa, tak punya apa-apa, tak memiliki kemewahan dan tak ada yang bisa dibanggakan. Kuasa dan tahtanya tak lagi berguna lebih lagi menyelamatkan. Sungguh yang bisa menyelamatkan adalah keridhaan Allah SWT dan Rasulnya ".


Kelima, kata KH Mualim jika ingin anaknya sholeh-sholehah didiklah dengan keras tegas. Beliau berkisah tentang KH Djamal yang diusir oleh Abahnya dan tidak boleh pulang sebelum menjadi kiai (baca kitab). Singkat kisah dengan ketekunan beliau dan didikan Abahnya akhirnya KH Djamal menjadi ulama alim alamah.


Di akhir pengajian acara ditutup dengan doa dan santap sompil bersama. Acara makan-makan itulah menjadi salah satu yang ditunggu. haha. Demikianlah catatan singkat dalam ngaji semalam. Jangan lupa untuk tinggalkan catatan dalam setiap peristiwa. Karena catatan adalah ilmu yang abadi. Semoga bermanfaat.


the woks institute l rumah peradaban 2/10/23

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...