Langsung ke konten utama

Memaknai Hadiah Dalam Islam


 

Woko Utoro 

Bicara tentang hadiah tentu menjadi pembahasan yang menarik dalam Islam. Hadiah menjadi salah satu isyarat agar sesama manusia berkasih sayang. Hal itu senada dengan pesan Nabi Muhammad SAW bahwa memberi hadiahlah kamu agar saling mencintai (HR. Bukhari). Adapun hukum memberi hadiah adalah mubah bahkan bisa juga sunnah.

Jika kita analisis hadiah dari berbagai perspektif tentu akan sangat menarik. Misalnya siapa orang yang tidak suka hadiah. Bukankah hadiah itu selalu menyuguhkan kejutan. Terlebih datangnya memang selalu tak terduga. Maka dari itu hadiah ditinjau secara psikologis akan membawa dampak yang positif. Orang yang memberi dan menerima hadiah cenderung memiliki mindfulness atau pancaran energi positif.

Secara sosial saling memberi hadiah berpengaruh pada berbagai aspek terutama komunikasi dan kepercayaan. Orang-orang yang saling memberi hadiah cenderung memiliki ikatan emosional yang kuat. Selain itu perihal hadiah kita juga belajar akan arti kepedulian, apresiasi, rasa berbagi dan tentunya kesederhanaan. Tidak peduli besar kecilnya hadiah yang terpenting adalah ketulusan dalam memberinya.

Dalam dunia tasawuf hadiah bisa dimaknai sebagai kenikmatan yang harus disyukuri. Karena sejatinya hadiah memang harus berbalas. Sesederhana apapun justru rasa ingin berbalas adalah bentuk kepedulian atau keinginan untuk mempersembahkan yang terbaik. 

Rumi pernah dihormati oleh non Muslim dengan menunduk. Maka Rumi membalasnya dengan lebih menunduk. Lantas dibalas lagi dengan lebih menunduk dan Rumi pun lebih menunduk lagi. Intinya seperti halnya kebaikan, hadiah pun sebenarnya harus diniati lebih dan jika mampu harus dibalas yang terbaik. Itu sebabnya kita dianjurkan untuk fastabiqul khoirot atau berlomba dalam kebaikan.

Catatan penting di era kekinian yaitu bahwa hadiah bisa dimaknai beragam. Misalnya kita sering dengar istilah giveaway, reward, bonus, sale hingga gratifikasi. Bahkan ada juga hadiah bermakna negatif yaitu uang pelicin, money laundry, risywah atau suap. Walaupun begitu kita justru belajar bahwa hadiah itu banyak macamnya. Satu hal yang membedakan hadiah dengan pemberian lain yaitu terletak pada niat dan gerak-geriknya.

Soal hadiah tentu gestur para pecinta akan mudah ditebak. Bahwa hadiah adalah tentang persembahan terbaik. Maka dari itu para pecinta cenderung merasa kurang dalam hal hadiah. Sedangkan penerima hadiah cenderung terkesan walaupun itu nampak begitu sederhana.

Intinya bagi Allah SWT pemberian apapun selama niat dan tujuannya baik maka memiliki tempat tersendiri. Sungguh hal kecil yang dilakukan sepenuh hati bagi Allah SWT nampak bernilai dan diapresiasi. Bahwa biji kebaikan yang ditanam akan menumbuhkan kebaikan lain yang lebih banyak.[]

the woks institute l rumah peradaban 14/11/24






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...