Setiap orang punya masalah. Setiap orang juga dibekali bagaimana cara menghadapi masalah. Tapi tidak semua orang mengerti bagaimana menyikapi masalah. Besar atau kecil masalah tetaplah harus diselesaikan. Barangkali itulah cara agar kita menjadi dewasa.
Di hadapan masalah perempuan cenderung bercerita sampai memilih menangis. Sedangkan di depan masalah laki-laki cenderung berdiam, menepi hingga menulis. Itulah sekian cara sekaligus perbedaan mengapa laki-laki dan perempuan tercipta begitu unik. Mereka memilih medianya sendiri untuk memecah kebuntuan. Dalam ilmu psikologi keberadaan media itu disebut katarsis.
Katarsis adalah kemampuan seseorang menyalurkan emosinya. Baik itu bernilai positif atau negatif yang jelas melalui kesadaran manusia diberi kemampuan memilih. Salah satu media penyalur emosi adalah dengan menulis puisi. Entah diyakini atau tidak menulis puisi mampu setidaknya menenangkan pikiran yang sedang kalut. Walaupun di beberapa kesempatan sebagian orang menolak puisi sebagai media penyembuhan. Alasannya mereka akan cengeng dan selalu gagal move on akibat mengingat kembali karya puisi itu.
Perbedaan tentu boleh saja terjadi. Termasuk memilih puisi sebagai spektrum menyalurkan emosi dalam diri. Yang jelas bagi saya puisi adalah sekumpulan perasaan yang diperas menjadi padat membentuk kata-kata. Dengan cara itulah rongsokan dalam tubuh terbuang dan membuat hati menjadi plong. Itulah yang kami sebut bahwa menulis puisi bagian dari terapi jiwa. Karena syarat menulis puisi anda harus dalam keadaan tenang walaupun dipenuhi kecemasan. Sedangkan syarat membacanya pun juga harus dalam keadaan tenang dan damai. Dengan begitu energi positif dari Tuhan akan menyerap ke dalam diri sambil sesekali berbisik, "Tenanglah, engkau tidak sendiri. Di sini masih ada Aku tempat bersandar mu dari segala resah gelisah. Aku adalah muara akhir di mana kebahagiaan saling bertemu (setelah kesulitan selalu ada kemudahan, Al Insyirah:5-6). []
The Woks Institute | Rumah Peradaban 18/11/24
Komentar
Posting Komentar