Woko Utoro
Siang itu menjelang sore kami bergegas memacu motor. Saya dan Mas Roni bertolak menuju Bumi Menak Sopal. Keperluannya adalah memenuhi undangan keluarga besar guru SMAN 2 Trenggalek untuk sharing kepenulisan. Mendengar hal itu awalnya saya ingin menolak. Tapi karena diperintah guru apapun yang terjadi santri haruslah siap sedia, be prepared.
Ketika dihubungi Prof Ngainun Naim untuk menggantikan beliau mengisi kepenulisan di SMAN 2 Trenggalek tersebut pikiran saya melayang. Yang ada dihinggapi kecemasan, apakah mampu dll. Hingga akhirnya ketika diskusi dengan Pak Pingkan saya pun mengiyakannya. Kebetulan Pak Pingkan dan saya sama-sama berstatus sebagai murid Prof Naim. Jadi secara sanad keilmuan kami sama, hanya beda nasib saja.
Akhirnya saya mengajak Mas Roni untuk tampil di sana. Seperti biasa dua mahluk ini komposisi yang tepat. Karena kami berdua adalah Pasukan Keri Rabi, Jomblo Fisabilillah atau Barisan Wedi Luwe. Walaupun demikian jika ditanya soal kepenulisan jangan ragukan kami. Sebab di jalur inilah kami memilih untuk menjadi salah satu mahluk langka sebagaimana Prof Naim sering katakan. Karena perkara menulis itu tidak banyak dilakukan oleh setiap orang. Maka ini satu dari sekian keberkahan yang masih kami jalani.
Singkat kisah perjalanan sekitar 40 menit tersebut harus berpacu dengan waktu. Karena beberapa menit saja hujan turun dengan derasnya. Untung saja kami memenangkan pertandingan itu dan tiba tepat hujan turun. Di sana kami disambut bak seorang tamu tapi bukan barisan karpet merah. Setelah itu kami dipersilahkan santap siang. Kebetulan menunya ayam lodho yang khas itu.
Setelahnya baru kami main. Percis seorang pengamen. Jika kami memainkan materi maka pengamen memainkan tangga lagu. Apa ada bedanya, tidak ada. Semua sama-sama menjajakan kebolehan. Sama-sama menampilkan pertunjukan agar menarik simpati audiens. Bedanya kami mengisi materi dengan harapan ada sustainable atau keberlanjutan. Setelah mengisi materi ada tanda tangan yang dikonversi dengan materi. Jadi intinya sama saja, tak ada bedanya dengan pengamen.
Membincang Materi dan Keseruannya
Kami pun memulai materi di hadapan para dewan guru. Tentu momen yang menjadi awal bagi saya untuk menaklukkan ndredeg. Sebelumnya saya mengisi materi untuk siswa atau santri tapi beda kali ini yaitu guru-gurunya. Tentu ada perasaan deg-degan ser, canggung dan sedikit demam panggung. Tapi akhirnya semua itu saya lewati dengan baik. Walaupun ada beberapa segmen yang sepertinya saya kelupaan.
Di momen itu saya menjelaskan esai dan bagaimana cara membuatnya. Saya mengatakan kepada bapak ibu guru bahwa acara tersebut adalah sharing dan tidak ada maksud nguyahi segara atau ngulangi bebek nglangi. Karena sejatinya kita semua adalah seorang pembelajar. Apalagi soal menulis tidak ada orang menyebut dirinya mahir atau ahli. Yang ada ialah terus berproses, belajar, dan berinovasi.
Dalam materi saya esai disebutkan sebagai karangan yang memuat opini penulisnya. Atau sebuah prosa yang memiliki pendapat dari seorang penulis. Sedangkan esai itu terbagi menjadi 2 yaitu esai populer dan ilmiah. Adapun ekspresi esai populer lebih kaya misalnya terdiri dari kritik, editorial, opini, kisah, otobiografi hingga jurnalistik.
Intinya dalam materi kali ini bapak ibu guru ditarget untuk membuat esai yang memuat kisah menjadi guru dan pengabdiannya. Esai tersebut akan dibuat buku dan dilaunching bertepatan dengan Milad ke-40 SMADA. Tentu hal itu disambut baik khususnya bagi kepala sekolah untuk dikuatkan dengan beberapa teori dan motivasi.
Singkat kisah pada penutup acara ini kami memberikan reward bagi guru yang berkenan mengisahkan kesannya selama menjadi guru. Termasuk juga hadiah untuk yang mau bertanya. Hingga akhirnya tepat pukul 15:00 acara pun selesai dan kami pun langsung bertolak menuju Tulungagung.
Tentu tak ada gading yang retak. Kami pun menyadari sekaligus bersyukur bisa diberi kesempatan untuk belajar. Kedepannya pasti kami akan terus juga meningkatkan kualitas diri. Agar diskusi literasi bisa terus lestari dan pastinya makin produktif berkarya.
Terimakasih atas keseruannya : Bapak Ardanu, Bapak Pingkan, Ibu Nikmah, Ibu Mimin, Ibu Ambar dan semuanya. Semoga SMADA makin maju dan sukses.
the woks institute l rumah peradaban 5/11/24
Dokumentasi:
Komentar
Posting Komentar