Langsung ke konten utama

Ya Bunayya : Bacalah




Woko Utoro 

Bolehlah saya berandai-andai jika siatu hari ditakdirkan menjadi seorang ayah bagi anak-anak. Salah satu peran ayah tentu memberi pesan bijak untuk anak-anak. Pesan tersebut terinspirasi dari kata Ya Bunayya yang terdapat dalam Surah Luqman ayat: 13. Salah satu isi pesan tersebut tentu berkaitan dengan membaca.

Ya Bunayya, bacalah karena esok kau akan dapati satu zaman di mana orang lebih tertarik dengan tradisi oral daripada aktivitas senyap bergumul dengan buku. 

Ya Bunayya, bacalah sebab era makin modern justru orang semakin malas terutama soal membaca buku. Sehingga orang tidak lagi menghargai proses dan lebih berorientasi pada hasil. Padahal proses adalah hal utama menghantarkan hasil yang diinginkan. Semakin kuat proses maka potensi keberhasilannya juga besar.

Ya Bunayya, bacalah untuk membuka cakrawala pikiran. Dengan membaca kau akan tahu betapa dahsyatnya aktivitas sunyi tersebut bagi peradaban. Lewat bacaan berarti kau sedang mengasah kemampuan berpikir, menambah bahasa dan kritis dengan keadaan.

Ya Bunayya, bacalah agar hidup lebih bermakna. Lewat bacaan kau akan dipandu menyentuh masa depan. Bacaan memungkinkan kau tidak sendiri. Justru membaca membuat mu lebih kaya. Sebab kau tidak berpikir tunggal. Melainkan berpikir dengan meminjam ide orang lain bahkan tokoh besar dunia.

Ya Bunayya, jangan pernah berhenti membaca. Kata Gus Dur bacalah, sampai mati. Karena hanya dengan membaca kita tidak mudah dipecah-belah. Dengan membaca pikiran dan sikap lebih inklusif dan egaliter. Karena hanya pembacalah yang tidak elergi terhadap perbedaan.

Ya Bunayya, jangan lelah untuk terus membaca. Sebab dengan membaca kau diajari bahwa waktu itu sangat berharga. Bahwa makna hidup terletak dari sikap mu mengisi kehidupan. Jika hidup berorientasi pada pengetahuan maka kau layak disebut pembelajar. Sedangkan ketika kau merasa pintar maka itu adalah awal kebodohan.

Ya Bunayya, jangan goyah dengan aktivitas membaca. Karena tidak ada orang miskin terlahir dengan tanpa membaca. Rerata orang sukses justru terlahir akibat mereka gandrung akan bacaan. Jangan ragu pada sebuah bacaan. Justru banyak orang mati karena kelebihan makanan, bukan kekurangan bacaan.

Ya Bunayya, kamu harus tahu bahwa gizi perut bisa disumpal dengan makanan. Sedangkan pikiran yang lapar hanya bisa dikenyangkan dengan bacaan. Dari membaca itulah cahaya memasuki jiwa. Hidup tanpa membaca berarti kau bersiap tersesat dalam kegelapan.

Ya Bunayya, teruslah membaca dan jangan kendor. Karena membaca adalah aktivitas yang tak merugikan. Justru membaca membuat mu terus beruntung. Keberuntungan itu ditandai dengan bertambahnya pengetahuan, bahasa, karakter, kepribadian hingga kebijaksanaan. 

the woks institute l rumah peradaban 8/11/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...