Langsung ke konten utama

Nak, Sudah Makan Apa Belum?




Woko Utoro 

Nak, sudah makan apa belum. Mungkin pertanyaan itu tidak lebih sulit dijawab ketimbang pertanyaan filsafat. Pertanyaan ringan yang bagi sebagian orang akan sangat mudah dijawab. Tapi pertanyaan itu tidak berlaku bagi saya. Apalagi saya berstatus sebagai seorang perantau.

Bagi anda yang bukan perantau ditanya makan apa belum pasti mudah saja dijawab sudah atau belum. Jika pun belum toh akan sangat mudah dipersilahkan untuk segera makan. Tapi bagi perantau pertanyaan itu dijawab penuh drama.

Bayangan saja ketika ibu bertanya sudah makan apa belum saya harus menyediakan jawaban yang menenangkan. Jika dijawab belum maka ada perasaan bilamana ibu khawatir. Bagi ibu seorang anak se-mandiri apapun selalu dianggap seperti anak kecil yang perlu bantuannya apalagi jika itu anak perempuan. Jika dijawab sudah toh faktanya saya sering terlambat makan atau bahkan jarang makan.

Di sanalah kadang campur aduk. Di hadapan ibu kadang kita glagepan. Maka dari itu kadang saya perlu berbohong untuk menenangkan hatinya. Lebih pecah lagi ketika ibu tahu jika saya sakit. Rasanya seperti ada panah yang mengarah ke sekujur tubuh. Dengan perhatian penuhnya ibu pasti akan memberi nasihat dengan omelannya. Walaupun begitu kadang itulah yang dirindukan setiap anak. 

Pertanyaan sudah makan apa belum sama halnya dengan bagaimana kabar kesehatan. Pertanyaan itulah yang selalu membuat beliau resah. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Yang jelas ibu memang paling mengerti bahkan sampai detail mengenai keadaan anaknya.

Jelaslah bahwa pertanyaan sudah makan apa belum tidak selalu mudah dijawab ketika itu ditanyakan oleh ibu. Lantas apakah bapak tidak bertanya hal serupa. Bapak justru lebih bertanya pada aktivitas yang kita lakukan. Bapak lebih kearah substansi sedangkan ibu ke hal-hal dasar yang jika kita renungkan ternyata bermakna dalam. Dari pernyataan sudah makan belum saya selalu bertanya pula kapan pulang ya untuk sekadar mencicipi masakan ibu yang penuh kasih sayang itu.[]

the woks institute l rumah peradaban 11/11/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...