Langsung ke konten utama

Psikologi Jama'ah Haul




Woko Utoro 

Beberapa kesempatan Gus Iqdam sering mengatakan betapa asyiknya menjadi jama'ah Sor Sengon. Sehingga kesempatan tersebut tidak beliau sia-siakan ketika hadir di Haul Solo 2024. Kata Gus Iqdam, menjadi jama'ah itu asyik karena bisa berbaur dengan khalayak ramai. Tapi apakah benar demikian bahwa menjadi jama'ah itu memiliki kesan tersendiri.

Saya mencoba mempraktekkan apa dawuh Gus Iqdam bahwa menjadi jama'ah itu ada kenikmatan tersendiri. Ketika Haul Ngunut 2024 kemarin saya mencoba menjadi jama'ah kasep alias telat. Sejak tahun lalu saya biasanya datang lebih awal untuk mendapatkan tempat di depan panggung utama. Tapi beda di tahun ini saya datang hampir jam 9 siang. Jadi saya pun harus legawa mendapat tempat di luar, dekat sound, panas dan pastinya berdesakan dengan jama'ah.

Momen tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Karena mungkin sekitar tahun 2018 saya pernah mengikuti Haul Akbar Al Fitrah Kedinding Surabaya yang jama'ahnya berjubel. Hingga akhirnya momen tersebut saya rasakan kembali saat Haul Mbah Yai Ali tahun ini.

Benar saja ada hal asyik yang hanya bisa dirasakan dalam batin ketika berbaur dengan jama'ah. Bahwa mendapat tempat walaupun sedikit lebih baik daripada berdiri. Kita tentu tahu yang hadir saat Haul Mbah Yai Ali sangat banyak bahkan dari penjuru Indonesia. Termasuk juga saat Haul Pondok PETA Tulungagung yang diserbu ribuan jama'ah.

Anda tahu di tengah lautan manusia itu ada beberapa hal unik yang terjadi. Saya melihat suasana itu adalah khas ala masyarakat pinggiran. Misalnya saya saksikan betapa susah tapi bahagia orang tua yang mengajak anaknya hadir di majelis haul. Saya juga melihat transaksi emak-emak membeli sprei, alat menggaruk, tutup panci, kipas kecil hingga karet boxer. Bayangan tutup panci saja bisa laku jika sudah bertemu dengan emak-emak.

Ada juga kejadian di mana bahu saya selalu jadi pegangan emak-emak ketika mereka akan bangun dari tempat duduk. Belum lagi kepala saya ketiban air mineral gelas menjadi hal menggemaskan. Ada lagi kejadian anak kecil terpisah dari orang tuanya menjadi topik rasan-rasan. Bahkan unik lagi ada teman kebetulan beliau seorang dosen lebih memilih duduk lesehan di bawah tanah sekitar sound. Padahal saya kira dengan title dosen tersebut dia bisa berkhidmah di dalam acara. Ternyata pemandangan itu luar biasa bagi saya.

Sejak awal yang saya amati adalah emak-emak. Karena mahluk satu ini memang unik. Maklum saja ras terkuat di muka bumi tersebut memiliki tingkah yang menggelitik. Coba bayangkan ada emak-emak yang menggelar tikar plastik harga 2 ribuan. Tiba-tiba disrobot emak-emak lain dan duduk dengan santainya. Saya berpikir, "Iki wong pie seh ra melok due ehh malah dilingguhi nggone wkwk". Di sanalah kadang membuat saya tertawa.

Belum lagi mereka yang memilih bertahan walaupun berdesakan. Ditambah lagi yang bolak-balik, ke toilet untuk buang air. Dan kita pun harus ikhlas dilangkahi oleh orang-orang yang mondar-mandir mencari tempat. Semua itu menjadi hal yang biasa karena kita berhadapan dengan orang banyak.

Walaupun terik matahari menyengat sekujur tubuh. Dan pastinya membuat keram kaki dan areal bokong tapi semua tak terasa. Semua dianggap tak terjadi apa-apa. Mungkin itulah bahwa di atas sebuah barokah hal-hal demikian menjadi ringan. Dari hal tersebut kadang Gus Iqdam atau KH Anwar Zahid sering berkata, "Ya Allah, orang sedemikian banyak pasti orang tulus. Mereka memilih bertahan di tengah selonjoran, di tengah panas bahkan hujan. Lantas apakah Engkau tega menolak mereka". Jadi intinya ketulusan bisa mengoyak singgasana Tuhan.

Terakhir yang unik adalah ketika berjubel, berebut keluar area haul. Semua orang berjalan merayap secara perlahan. Kadang ada juga dorongan kecil dan berhenti sejenak karena macet. Lantas di antara itu ada yang berkata anggap saja perjalanan berjubel, berdesakan tersebut latihan kita untuk bekal jika esok diperkenankan Allah untuk sowan ke Baitullah. Mendengar hal itu kami pun tertawa seraya menikmati suasa dengan lantunan sholawat nan merdu.

Hanya saja terakhir kita harus ingat pesan KH Ahmad Asrori Al Ishaqy bahwa di manapun tempatnya kita jangan gila terhadap kemuliaan. Jangan-jangan di balik orang hormat, orang memuliakan, orang menempatkan kita di tempat terhormat hingga serangkaian pujian. Semua hanya bagian di dunia sedangkan ketika di akhirat kita tak mendapatkan apa-apa. Jangan sampai ada niat mencari kemuliaan hanya karena ingin dihormati manusia. Hal itu sangat berbahaya. Maka dari itu di manapun tempatnya kita harus terus mawas diri. Terminologi Jawa menyebutnya Eling lan Waspodo.

Semoga saja hadir kita sebagai jama'ah tahun ini dan mendatang bisa menjadi wasilah diakui oleh para guru-guru. Khususnya shohibul haul saat kemarin yaitu Syaikhuna KH Muhammad Ali Shodiq Umman wa Ibu Nyai Hj Fatimatuz Zahra.[]

the woks institute l rumah peradaban 4/11/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...