Woko Utoro
Salah satu ciri negara demokrasi adalah tidak anti kritik. Kritik justru komposisi yang diperlukan dalam roda pembangunan. Tanpa kritik kita tak memiliki kemajuan. Jadi kritik adalah semacam daya dorong agar kita sadar, berempati dan bergerak dalam mewujudkan cita-cita kemanusiaan.
Ada yang bilang kadang rivalitas itu perlu. Karena dengan memiliki rival kita akan terus bergerak untuk melahirkan inovasi. Kritik pun demikian selalu berada sebagai oposisi. Bukan dalam arti nyinyir tapi lebih kepada kepedulian yang berada di luar. Kritik bekerja seperti obat, mungkin diawal begitu pahit tapi sebenarnya menyembuhkan.
Menurut Heinrich Zschokke kritik adalah hadiah bagi yang ingin tumbuh dan racun bagi yang selalu di zona nyaman. Inilah fakta bahwa sebenarnya kritik saja tidak cukup atas kekuasaan yang bebal. Kita masih perlu bergerak baik secara senyap maupun turun gelanggang. Karena dengan cara itu kekuasaan bisa dikendalikan.
Prinsipnya bahwa kritik itu harus pada kedudukan atau jabatan. Ketika kritik menyasar kehormatan atau harga diri seseorang maka hal itu adalah cacat pikir. Kritik harus berdasar pada fakta dan data bahwa kekuasaan sedang dipermainkan. Tapi di dunia mana ada kekuasaan bersih? rasanya tidak ada. Maka dari itu kritik terus dilancarkan agar kekuasaan dapat berjalan dengan baik. Saat penguasa lupa atau mabuk jabatan dan proyek diam-diam kritik menjelma monster. Datang menghadang dengan sederhana bahkan kadang dari guyonan dan humor. Kata Bung Rocky jangan bosan untuk mengkritisi, kritik terus dengan sangat tajam []
2 Muharram 1447 H
the woks institute l rumah peradaban 28/6/25

Komentar
Posting Komentar