Langsung ke konten utama

Pemuda dan Amarah





Woko Utoro 

Apa yang paling dekat dengan pemuda? jawabannya setidaknya ada dua yaitu angan-angan dan amarah. Amarah adalah hal yang paling sering muncul pada diri muda-mudi. Sehingga ada istilah darah muda alias seseorang yang masih dalam transisi, atau berproses menemukan jati diri. Mereka berlari begitu cepat sampai-sampai orang dewasa tak sanggup menahan lajunya.

Ada istilah senggol, bacok. Terutama pada pemuda hari ini. Pemuda yang gampang tersinggung dan tak mampu mengendalikan emosi. Bahkan hal itu sudah diprediksi sejak era lampau terutama dalam Islam. Maka ketika Rasulullah SAW diminta nasihat oleh pemuda agar selamat hidupnya beliau memberi saran untuk jangan marah atau kendalikan amarahmu. Karena amarah jika tidak dikendalikan akan berakibat fatal. Terlebih pada diri pemuda yang mudah meluap-luap, meletup-letup.

Jika orang bertanya bagaimana kondisi neraka dan surga. Maka jawabannya mudah saja bahwa saat orang terbakar api amarah di sanalah neraka membara. Jika seseorang menunduk, teduh, tenang, pemurah, pemaaf di sanalah kesejukan surga tercipta. Tidak salah jika kebudayaan di Islam dekat dengan air. Sehingga jika sedang emosi berwudhulah untuk memadamkan api. Api dalam diri tidak salah. Api itu hanya perlu dimengerti dan diakui. Api hanya perlu dikendalikan agar jadi sahabat saat dunia gelap.

Menurut Daniel Goleman amarah atau emosi perlu tindakan khusus yang disebut emotional question atau kecerdasan emosional. Dengan mengenali dan mengerti perasaan sendiri maka kita akan memahami orang lain. Kita hanya perlu menjadi pengendali api atas amarah yang tak terkendali. Terlalu dominan air pun tidak baik karena kita kehilangan motivasi. Maka dari itu berkaca diri dengan memahami segala emosi yang ada. Gunakan indera dan logika dalam setiap aktivitas. Sebab di manapun tempatnya api selalu mudah membakar terlebih pada benda yang rentan dan rapuh. Intinya jangan paksa orang lain memahami kita tapi kitalah yang harus memahami diri sendiri.

Di sinilah peran pendidikan seharusnya berjalan menyentuh emosi manusia. Pendidikan bukan berpaku pada angka, peringkat dan prestasi. Sedangkan jika minim empati apa guna prestasi tinggi. Akhirnya kita abai pada perasaan orang lain terlebih dengan diri sendiri. Seharusnya mendidik itu bukan sekadar mendorong untuk meraih atau mempertahankan. Akan mempersiapkan saat kita benar-benar kalah.

Di sanalah letak di mana orang harus diberi pemahaman bahwa marah tidak selalu salah. Hanya saja tahu kapan waktu yang tepat, untuk apa dan bagaimana caranya. Marah, tangis, tawa, menerima atau gugat semua tidak salah. Kita hanya perlu bijak terutama saat emosi itu keluar. Dengan memahami hal itu kita yakin bahwa kesadaran akan pengetahuan pengendalian diri jauh lebih berharga daripada nilai atau angka. Bahkan kendali itu adalah penguat jika pun setiap orang pergi menjauh.[]

the woks institute l rumah peradaban 20/6/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...