Langsung ke konten utama

Kurir dan Kecakapannya




Woks

Kita tentu tahu jasa kurir saat ini marak dijumpai diberbagai tempat bahkan hingga ke pelosok desa. Kurir atau jasa ekspedisi, jasa antar jemput paket memang menjanjikan sebagai usaha yang simple dan menguntungkan. Di berbagai daerah selain jasa kurir yang sudah berskala nasional seperti POS, JNE, JNT, SiCepat, Cargo hingga jasa ekspedisi luar negeri, jasa kilat via pesawat atau kereta ada juga kurir lokal berdiri sebagai solusi antar jemput skala jarak dekat.

Apapun nama brandnya yang jelas jasa ini harus memiliki reputasi tinggi di hadapan konsumenya. Jasa kurir setidaknya memiliki 3 prinsip utama yaitu jujur, amanah dan bertanggungjawab. Kejujuran sangatlah penting sehingga konsumen merasa nyaman dengan pelayanan tersebut. Tentu kita tahu kejujuran adalah sikap profetik. Amanah juga harus dikedepankan karena dengan begitu konsumen merasa terpenuhi haknya sebagai subjek yang memberi kepercayaan. Terakhir bertanggungjawab jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti kerusakan barang, hilang atau tidak tepat sasaran.

Sebagai seorang kurir tentu harus memiliki sikap yang telah disebutkan di atas karena dengan itu ia akan memenuhi kualifikasi. Sikap tersebut adalah cerminan diri karena sejatinya manusia sedang mengemban amanah dan akan beranjak dari satu amanah ke amanah yang lain. Tidak hanya itu seorang kurir juga harus memiliki sikap semangat, ramah dan pengetahuan yang cukup. Dengan demikian seorang kurir dianggap layak mengemban amanah tersebut. Membahagiakan konsumen pasti adalah pelayanan yang utama dari perusahaan syukur-syukur ditambah dengan berbagai macam program give away yang menguntungkan konsumen.

Kita ingat zaman dulu ketika mendengar atau diceritakan orang tua lewat kisah-kisah dalam buku bahwa kurir masih menggunakan media hewan misalnya burung dan anjing. Burung Hud-hud era Nabi Sulaiman dianggap sebagai kurir pertama dalam sejarah yang mengantarkan surat kepada Ratu Balqis. Ada juga kisah kurir lainya yang mungkin kita pernah mendengarnya yaitu si kurir dan kecakapan bahasa.

Dahulu kala di sebuah wilayah ada yang mengatakan Yunani, Roma hingga Mesir yang jelas ada seorang kurir berprofesi sebagai pembantu. Ia diberi tugas oleh sang raja untuk mengantarkan surat ke kerajaan tetangga. Sesampainya di sana surat diberikan kepada raja tujuan dan akhirnya sang raja langsung memerintahkan algojo untuk memenggal pembantu itu. Sang pembantu kaget mengapa demikian? ternyata isi suratnya adalah perintah untuk memenggal kepalanya.

Kisah tersebut masyur di kalangan kita terutama saat dimotivasi akan pentingnya mengetahui bahasa orang lain. Maka tidak salah jika ingin menguasai dunia harus juga mampu menguasai bahasanya. Dalam konteks kekinian tentu bahasa Internasional bahasa Inggris, bahasa Islam bahasa Arab dan bahasa ibu sekaligus budaya yaitu bahasa Indonesia harus dikuasai.

Begitulah kiranya tidak hanya menjadi kurir jadi apapun tentu ilmu pengetahuan sebagai kecakapan utama harus dikuasi agar kita dapat menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sungguh pengetahuan tersebut akan menjadi penerang dan penunjuk jalan saat kita tersesat dan kehilangan arah. Di sinilah pentingnya terus belajar memperbaiki diri sampai akhirnya kita terus merasa bodoh. Kita sesungguhnya juga merupakan kurir yaitu manusia sebagai pengemban amanah dari Tuhan untuk selalu menebar kebaikan. Kita juga sedang diberi tugas untuk terus menyampaikan pesan dakwah bahwa kemanapun arahnya Tuhan adalah akhir dari paket (usia) kita bermuara.

the woks institute l rumah peradaban 7/4/21


Komentar

  1. Jibril, sang kurir Tuhan. Tak pernah salah atau telat mengirimkan paket Sabda.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...