Langsung ke konten utama

Berproses Menjadi Santri




Woko Utoro

Alhamdulillah setelah sekian purnama PSP atau Pusat Studi Pesantren UIN SATU Tulungagung kembali mengadakan acara rutinan Diba'an. Kali ini bertempat di PP Himmatus Salamah Srigading Plosokandang. Kebetulan acara tersebut dirangkai bersama peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Santri Nasional dan Open Recruitment Anggota Baru.

Yang jelas walaupun peserta hadir hanya beberapa tapi tidak mengurangi kualitas acara. Karena sejak awal PSP mengkader agar mengedepankan kualitas bukan kuantitas. Hal tersebut terbukti jika santri PSP sudah banyak yang sukses berkiprah di luaran sana. Mas Woko selalu koordinator acara mengatakan jika PSP ini membawa visi menjadi santri yang beramaliyah ilmiyah. Maka dari itu ia mengajak agar santri mau berkhidmah di PSP sesuai dengan bidangnya.

Dalam sambutan dan arahannya, Abah Dr. H. Muntahibun Nafis, M. Ag juga menegaskan untuk bersama menghidupkan PSP. Karena PSP ini gaungnya di luar sangat besar. Maka rumah ini bisa dijadikan tempat untuk berproses teman-teman menjadi santri. Terlebih mereka yang masih di pondok ayo untuk jadikan gothakan (kamar) asrama seperti goa di mana Nabi Ibrahim AS menemukan Tuhan dan Nabi Muhammad SAW berkhalwad menerima wahyu.

Mumpung masih di pondok ayo giatkan ngaji, mutholaah, belajar pidato, tradisikan menulis, rajin membaca sholawat dll insyaallah hidup akan dibereskan oleh Allah SWT. Beliau sendiri yang merasakan bahwa jika seseorang berupaya mendekat pada cahaya lampu maka bayangan dunia akan berada di bawah. Atau jika kita dekat dengan sang Maha Wifi, insyaallah akses di cloud server dunia akan sangat mudah bahkan sampai ke akhirat.

Maka jangan malu jadi santri. Menjadi santri itu luar biasa dan tidak setiap orang bisa menjadi santri. Karena santri itu bukan yang mondok saja tapi mereka yang berakhlak seperti santri bisa disebut santri. Selain akhlak sebagai pondasi utama ciri khas santri tentu terletak pada keilmuannya. Setelah berilmu santri itu harus percaya diri. Karena masyarakat itu membutuhkan santri justru sering di momen-momen krusial alias dadakan.

Terakhir yang jelas ayo manfaatkan PSP ini sebagai ladang berkhidmah. Insyaallah cepat atau lambat pasti ada hikmahnya. Bagaimana pun juga PSP ini bukan milik perorangan melainkan milik semua orang yang mau berkhidmah. Karena khidmah itu akan nampak berkilau jika suatu hari telah berada di tengah masyarakat.

Tepat pukul 21:30 acara pun usai. Acara ini ditutup dengan doa dan ramah tamah. Hal yang paling menarik tentu di sesi akhir yaitu makan bersama. Karena makan bersama itu memang nikmat tiada duanya.

the woks institute l rumah peradaban 24/10/24

















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...