Langsung ke konten utama

Opium Itu Bernama Pacaran




Woko Utoro

Selain tawuran dan miras yang paling dekat dengan remaja adalah pacaran. Tiga hal tersebut seolah menjadi lingkaran setan yang sulit diputus. Padahal beragam kampanye dan upaya preventif sudah sering digalakkan. Yang tak kalah memprihatinkan yaitu perihal pacaran.

Soal pacaran memang belum ada obatnya. Karena soal yang satu ini bukan termasuk kriminalitas. Lebih kepada hak asasi yang kadang disalahpahami. Bagaimana tidak bahwa kecenderungan mengagumi, mencintai hingga menyayangi adalah bentuk alami yang ada pada diri manusia. Bagaimana bisa kita menghakimi mereka yang saling tertarik pada lawan jenis.

Perihal pacaran memang sulit terlebih mereka yang sudah sama-sama saling memiliki dan nyaman. Memiliki dan rasa nyaman itulah yang kadang jadi pedoman. Padahal pedoman tersebut tidak tepat dengan alasan tidak ditemui di dalam keluarga. Bagaimana cara mengingatkan orang yang tengah kasmaran. Tentu sangat sulit sekali dan hal itu percis kata pepatah bahwa yang sulit diberi nasihat adalah orang budek dan orang kasmaran.

Ternyata soal pacaran ini juga tak kalah bahaya nya dengan tawuran dan miras. Bahkan pacaran itu juga candu sekaligus merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Pantas saja jika beberapa kalangan getol untuk kampanye Indonesia tanpa pacaran. Karena pacaran itu memang lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.

Pacaran itu hanya menyuguhkan narasi semu soal kebahagiaan. Anak-anak yang pacaran terutama remaja dalam pencarian identitas cenderung terjebak. Di sinilah permainan kebohongan bekerja dengan halus. Bisa dibayangkan mereka akan merubah panggilan dari teman menjadi mamah papah atau bebeb, sayang. Padahal faktanya mereka hanya akan melanggengkan kebencian ketika putus nanti.

Bukti sudah banyak ketika mereka putus hanya akan meninggalkan luka. Setelah itu saling menjelekkan bahkan cenderung membuka aib masing-masing di medsos. Hal itu akibat gaya komunikasi pacaran yang cenderung toxic alias tidak sehat. Bahkan lebih mengerikan yaitu terjadinya fumisida alias kekerasan sampai pembunuhan yang korbannya pada perempuan. 

Pacaran hanya akan melihat keindahan dan mengelabui kekurangan. Setelah sama-sama mengetahui aib maka mereka cenderung tidak sabar dan menuntut kesempurnaan. Maka dari itu pacaran bisa disebut seni mendidik agar kita selalu bohong di depan pasangan.

Belum lagi guyonan lain berkembang seperti, "Digondang-gandeng rono rene jebule terope karo wong liyo". Karena perkara ini memang hanya Allah yang tahu. Kata KH Marzuki Mustamar, pacaran atau tidak potensi menikahnya sama. Baik itu berhubungan lama ataupun sebentar semua memiliki kesempatan yang sama untuk menikah.

Selanjutnya dampak dari pacaran adalah seperti orang candu akan gadget. Mungkin awalnya nampak seperti kebutuhan padahal efeknya hanya akan mendikte. Gadget atau pacaran sama-sama memiliki kecenderungan untuk menundukkan diri alias pelaku nya. Di sinilah orang yang pacaran itu cenderung kontra produktif. Kehidupan disetir oleh angan-angan tentang kebahagiaan. Padahal menikah itu sendiri adalah seni kebersamaan dalam memecah permasalahan.

Pacaran juga membuat orangnya tidak produktif. Soal ini saya sudah menulis sebelumnya. Bisa diklik link berikut:


Bahwa alibi motivasi karena pacaran adalah bohong besar. Faktanya di lapangan pacaran hanya mampu melemahkan. Hidup seolah bergantung pada pasangan serta tidak bersikap mandiri. Pasangan seolah-olah diposisikan bak pahlawan yang ketika kita butuh harus ada di samping. Padahal sebelum ada pacar kita terbiasa melakukan sesuatu sendiri.

Coba bayangkan teman kami yang pacaran justru menanggalkan logikanya. Atau memang benar bahwa cinta kadang tak ada logika. Tapi apakah pacaran adalah bagian dari cinta. Saya rasa bukan. Pacaran hanyalah pengkondisian status. Hanya karena jomblo lalu berstatus pacaran maka mereka merasa perlu untuk saling membutuhkan pasangan. Kebutuhan tersebut tentu dalam berbagai hal seperti jalan bersama, nonton, makan hingga support alias teman curhat.

Orang pacaran itu harus rela mengeluarkan uang, waktu, tenaga dan pikiran untuk antar jemput sana-sini. Bahkan uang tersebut adalah dari orang tua. Mungkin terasa nikmat atau dianggap sedang berjuang. Padahal semua itu ilusi belaka. Sudah berapa banyak terutama laki-laki hanya berakhir sebatas tukang ojek. Mondar-mandir sana sini tapi tidak memiliki visi. Ini masih sebatas obsesi sosial lalu bagaimana dengan agama.

Tentu dalam Islam tidak mengenal pacaran. Islam hanya mengenal ta'aruf, mengerti satu dengan lainnya. Terlibat komunikasi lalu melangkah lah ke jenjang lebih serius yaitu menikah. Mungkin nampaknya terlalu sederhana tapi faktanya memang demikian. Yang membuatnya ruwet adalah adanya adat atau tradisi yang berlaku. Lebih dunia saat ini tuntunan agama seolah tak berlaku.

Menurut Prof Quraish Shihab, jika kita memiliki perasaan pada lawan jenis maka utarakan saja, jangan dipendam. Tapi setelah itu jangan pacaran. Sekiranya sudah siap lahir batin menikah justru lebih menyelamatkan. Tentu kita tahu gaya anak pacaran saat ini begitu mengkhawatirkan. Pacaran mereka percis ala artis ibukota yang pamer akan kemewahan. Soal pegangan tangan hingga ciuman menjadi hal biasa. Disinyalir hal itu karena ide kebebasan. Jika tidak demikian dianggap ndeso, tidak keren dan ndak milenial. Padahal tradisi pacaran adalah tradisi primordial. Tradisi di mana aturan agama tidak lagi diindahkan.

Lantas dengan begitu apa sikap kita selanjutnya. Tentu terus mengingatkan bahwa pacaran hanya bagian dari tipu daya syeitan. Jadi lebih baik jika tertarik pada lawan jenis utarakan saja perasaannya, datangi orang tuanya dan tentukan kapan anda benar-benar siap. Tapi pastikan dulu apakah anda yakin melangkah lebih jauh bersamanya?

the woks institute l rumah peradaban 30/10/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...