Langsung ke konten utama

Hidup Harus Berpihak




Woko Utoro

Hidup itu tidak boleh memilih netral apalagi masih muda. Kita harus memihak, entah itu di pihak yang mana. Yang jelas memilih dan memutuskan itu penting. Tidak penting pilihan itu salah atau benar. Yang pasti pilihan dan keputusan sejak dulu mengandung resiko. Sedangkan sejak lama resiko hanya 2 untung atau rugi, baik atau buruk, pas atau tidak cocok.

Mengapa kita harus berpihak? sederhana saja bahwa di ranah ijtihad memilih itu pasti baik daripada tidak alias golput. Sebab jika salah pun Tuhan mengapresiasi satu pahala lebih lagi jika benar tidak hanya 2 pahala tapi ada kebaikan lain. Memihak itu penting karena akan dicatat sejarah. Bisa jadi keberpihakan kita mungkin nampak tidak berguna. Tapi bagi sejarah hal itu lebih berharga daripada tidak sama sekali.

Misalnya dulu semut-semut dicemooh hewan-hewan semacam ular dan cicak dengan alasan membawa setetes air untuk memadamkan api di tubuh Nabi Ibrahim AS. Kata hewan lain apa mungkin air setetes bisa memadamkan api. Dengan bijak ketua semut menjawab bahwa mungkin saja setetes air memang tidak bisa menerobos kobaran api. Tapi setidaknya kami bangsa semut memihak pada kebenaran. Kebenaran risalah Ibrahim AS itulah yang dibela. Jadi hikmahnya sederhana bahwa kebenaran harus dibela sekalipun itu nampak tidak berguna.

Di sinilah kita belajar bahwa memilih netral itu tidak baik. Kita harus memihak dalam hal ini kebenaran. Misalnya jaman Nabi Muhammad SAW orang yang tidak memihak pada dakwah beliau disebut manusia jahiliah. Apa sebabnya? sederhana saja bahwa Nabi Muhammad SAW adalah simbol kebenaran sedangkan kaum Quraisy adalah simbol kebodohan. Orang yang mengetahui kebenaran tapi mereka menginjak-injaknya maka apa sebutan yang pantas selain jahil, jahul, bodoh. Oleh karena itu mari kita belajar memihak.

Tapi pertanyaan berlanjut bagaimana kita bisa mendeteksi kebenaran. Bukankah baik saja tidak cukup disebut benar. Ya bahwa kebenaran bisa terdeteksi bagaimana cara mereka memperlakukan manusia. Jika masih memanusiakan manusia maka fiks semua hidup hanya Tuhan semata pertimbangannya. Tak ada lain selain Tuhan muara kebenarannya.[]

the woks institute l rumah peradaban 2/10/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...