Langsung ke konten utama

Pekerjaan Membaca Buku




Woko Utoro

Suatu hari seorang teman berkisah begini: Ada seorang bapak sepuh berpesan banyak hal di sebuah forum diskusi. Entah apa yang dipikirkannya. Nanar bola mata seolah berkaca-kaca menyiratkan tentang sesuatu. Kata si bapak tersebut, "Nak, jangan tinggalkan aktivitas membaca buku. Jika bukan kita lantas pada siapa lagi tugas tersebut diamanatkan?".

Dari pernyataan bapak sepuh tersebut teman kami terhentak. Sontak saja membuat seisi ruangan terkaget jika pesan tersebut seperti yang terakhir. Seolah isyarat jika pesan tersebut adalah hal penting yang tak boleh dilupakan. Apalagi jika ditarik di era kekinian kita punya cita-cita menyambut generasi emas di 2045. Apakah hal itu jadi harapan nyata ataupun hanya utopia. Karena diakui atau tidak masyarakat kita bukan tipe pembaca buku.

Kita sendiri tentu tidak tahu soal hari esok. Yang jelas apakah generasi saat ini gemar membaca. Tentu kita tahu jawabannya. Jika soal urusan buku barangkali masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara berkembang lainnya. Akan tetapi bisa jadi bacaan masyarakat kita berpindah dari buku cetak ke buku digital atau sumber bacaan di website. Soal media bacaan tersebut semoga saja benar. Bahwa masyarakat kita sebenarnya suka membaca tapi di internet. Akan tetapi soal buku kita bisa saja berdebat.

Lantas apa pentingnya membaca buku sehingga aktivis literasi menggebu-gebu untuk mengkampanyekan aktivitas bergelut dengan aksara tersebut. Sederhana saja bahwa aktivitas membaca buku makin terasing di masyarakat. Sehingga sebisa mungkin kita harus mengarusutamakan lagi perihal membaca. Secara khusus membaca buku.

Syarif Yusuf (2024), Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK menjelaskan arti pentingnya membaca buku. Kata beliau membaca itu aktivitas berbahaya. Karena dengan membaca buku orang bisa lebih kritis, bahasanya tertata, sikapnya berdasarkan keilmuan dan tidak ngawur.

Membaca buku membuat orang ringan tangan dan suka berbagi. Setidaknya lewat tulisan yang dibagikannya. Karena membaca buku itu menyulut api bukan mengisi bejana. Anda tahu selama masih ada api apapun bisa dibakarnya. Salah satunya spirit agar orang mau membaca.

Masih kata Syarif Yusuf bahwa membaca buku itu berbahaya. Karena dengan masyarakat pembaca akan melahirkan masyarakat berbudaya. Dengan begitu suatu negara akan maju. Alasannya sederhana karena rerata masyarakat sejahtera akibat dari kebiasaannya membaca. Ingat membaca bukan berkhayal.

Para pembaca rela dijauhi teman. Karena tak ada teman setia melebihi buku dan bayangan diri sendiri. Para pembaca bahkan rela dipenjara asalkan bersama buku mereka merasa merdeka. Lebih dari itu para pembaca merasa hidup selama bersama buku. Sekalinya buku dijauhkan mereka merasa mati.

Ada kejahatan yang tanpa disadari terus kita lakukan yaitu membeli buku tanpa pernah dibaca. Ada kekejian yaitu ketika memiliki buku tapi hanya sebatas pajangan. Atau difungsikan hanya sebagai simbol bahwa kita terpelajar. Dan hal itu merupakan tipuan paling nyata.

Lantas bagaimana selanjutnya. Tak ada cara lain selain segera membaca. Pertama, membaca dalam rangka mengikuti firman Tuhan iqra. Kedua, melestarikan pengetahuan dengan menuliskannya. Ketiga, meneruskan pesan bahwa aktivitas membaca adalah pekerjaan langka. Keempat, membaca buku membuat kita semakin berbahaya. Karena kita akan punya energi lebih untuk mencerahkan masyarakat. Kelima, menjadi satu dari sekian orang yang memilih jalan kesunyian. Jalan di mana mayoritas orang tidak ingin memasukinya, yaitu jalan para pembaca.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...