Langsung ke konten utama

Pintu-pintu Hidayah




Woko Utoro

Dalam pengajian rutin Tafsir Al Ibriz Gus Mus atau KH Ahmad Mustofa Bisri menjelaskan surah Al An'am ayat 23. Dalam penjelasan itu beliau berkisah seputar kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang sangat menarik. Salah satunya menyoal tentang turunnya hidayah.

Hidayah seperti yang kita ketahui merupakan hak prerogatif Allah SWT. Soal hidayah tidak bisa diprediksi atau bahkan dianggap hal biasa. Kita juga tidak bisa menganggap hidayah bersifat turunan. Misalnya orang tuanya Muslim otomatis anaknya Muslim. Belum tentu. Bisa jadi di awal Muslim akan tetapi dalam proses perjalanan bisa saja berubah.

Maka dari itu hidayah adalah kenikmatan terbesar yang harus disyukuri. Hidayah selalu berkaitan dengan keyakinan dan kebenaran. Jadi soal hidayah itu hak Allah dan kita juga terus memohonkan agar selalu mendapatkannya. Karena hidayah itu akan bisa berubah selama seseorang masih berproses. Sebelum final seseorang tidak bisa menyebut orang lain baik atau buruk.

Bicara soal hidayah ternyata menarik. Sebab hidayah ini ibarat proses masuknya cahaya ke dalam ruang gelap. Masuknya Hidayah setidaknya melalui 3 pintu. Pertama, pintu teks atau ayat-ayat Nya. Orang yang mendapatkan hidayah di posisi ini tentu yang terkenal adalah Sayyidina Umar bin Khattab. Setelah proposal doanya disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW. Akhirnya Allah SWT memberi hidayah lewat al Haqqoh ayat 40-41 dan surah Thoha ayat 14.

Kedua, lewat pintu ucapan. Kata Gus Mus orang itu ada yang menarik dari ucapannya. Ada juga menarik dari gerak-gerik nya dan bahkan keduanya. Sedangkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu diamnya saja menarik. Pintu hidayah lewat ucapan ini tentu banyak sekali dijumpai. Misalnya kalangan assabiqunal awwalun banyak menerima Islam karena ucapan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang memang terkenal dapat dipercaya. Perkataannya lemah lembut, menentramkan dan dirindukan oleh banyak orang.

Ketiga, pintu teladan atau contoh langsung. Di sinilah hidayah merasuk dengan mudah karena orang melihat teladan secara praktis. Apalagi contohnya langsung Kanjeng Nabi Muhammad SAW maka tidak salah jika banyak orang yang langsung beriman. Lebih unik lagi kata Gus Mus, kita umat paling bungsu justru ditakdir oleh Allah SWT juga mengimani risalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya masih banyak pintu hidayah terbuka lebar bagi mereka yang ingin berubah. Bagi mereka yang ingin bertaubat. Bahkan bisa sangat mungkin hidayah lahir dari membaca tulisan ini.[]

the woks institute l rumah peradaban 19/10/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...