Langsung ke konten utama

Belajar Hidup Dari Orang Madura





Woko Utoro

Kita mungkin sering bertanya mengapa di mana-mana banyak orang Madura. Bahkan di sekitar Masjidil Haram orang Madura juga dapat kita jumpai. Entah apa yang membedakan perantau dari Minangkabau dan perantau dari Madura. Yang jelas lewat artikel ini kita akan belajar pada orang Madura mengapa mereka menjadi buah bibir nasional.

Kita ketahui bahwa perantau dari Minangkabau adalah syarat wajib khususnya bagi laki-laki. Orang Minangkabau belum disebut laki-laki jika mereka belum menjalani tradisi merantau. Karena garis keturunan yang berlaku Matrilineal atau bersambung ke ibu maka orang Minangkabau laki-laki wajib merantau. Alasannya di sana terdapat harta pusako yang hanya dapat dimiliki di saat laki-laki telah merantau.

Berbeda dengan perantau dari Madura. Mereka melakukan perantauan karena dipengaruhi iklim geografis. Seperti kita tahu Madura secara geografis tanahnya kurang subur. Padahal tanah di Madura masih terhampar luas sehingga Clifford Geertz menyebutnya sebagai ekologi tegalan (Surur dan Ardhina 2024). Hal itulah yang membuat orang Madura memilih merantau hingga sukses dan membangun rumah atau membeli kendaraan.

Ekologi tegalan itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa orang Madura memiliki tradisi alajar atau merantau dan pantang menyerah. Spirit itulah yang orang Madura pegang di manapun mereka berada. Kuntowijoyo menyebutkan karena geografis desa tersebut menjadikan masyarakat Madura lebih terbuka. Sehingga secara etnografi karakter orang Madura dikenal sebagai masyarakat yang gigih, etos kerjanya tinggi, pantang menyerah dan solid. Sampai-sampai ada anekdot Madura itu Cina nya Indonesia. Seperti yang kita tahu orang Cina itu etos kerjanya tinggi.

Orang Madura juga terkenal tidak pernah gengsi. Mereka akan bekerja apa saja asalkan halal. Misalnya orang Madura bisa bekerja menjual sate, bakulan bubur Madura, menunggu warung, menjajakan oleh-oleh khas ziarah, pengepul rongsokan besi, hingga jualan buku. Semua dilakukan dengan senang hati dan akan kembali terutama saat Idul Adha tiba.

Salah satu etos kerja orang Madura bisa dilihat pada praktek Warung Madura (Surur & Ardhina 2024) mereka cenderung memiliki solidaritas yang tinggi. Orang Madura tidak akan iri satu dengan lainnya. Karena mereka memiliki prinsip settong dhara alias satu darah. Jadi di manapun orang Madura berada di sana mengalir satu darah dan harus saling membantu.

Adapun orang Madura terkenal tempramen, kasar, bahkan raja tega karena istilah carok. Itu hanya stigma orang-orang yang belum mendalami karakter asli Madura. Menurut penyair D Zawawi Imron, orang Madura itu aslinya sangat religius. Bagi orang Madura, latar belakang pesantren membuat Islam sebagai agama leluhur dan harus menjadi prinsip hidup. Bagi orang Madura memeluk agama selain Islam itu aneh. Soal pekerjaan pun orang Madura cenderung memiliki sikap mementingkan akhirat. Sehingga bagi orang Madura bekerja dengan sukses tapi tidak meninggalkan akhirat.

Madura terkenal dengan istilah Pulau Garam. Di sana juga dikenal istilah abantal omba' asapo' angen atau berarti berbantak ombak berselimut angin. Maknanya bahwa walaupun Madura dipecah oleh pulau-pulau kecil tapi hakikatnya mereka tetap bersatu. Hal itu pula yang mengilhami mengapa orang Madura selalu terkoneksi di manapun mereka berada.

Di sinilah kita belajar bahwa Madura adalah mutiara di ujung timur Jawa Timur. Sebagai salah satu suku yang khas dan mewarnai Indonesia. Melalui orang Madura kita belajar akan sikap gigih dan berwibawa bahwa hidup harus dipertahankan lewat kerja, berkarya dan untuk akhirat.[]

the woks institute l rumah peradaban 31/12/24

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...