Langsung ke konten utama

Penyakit dan Luka




Woko Utoro 

Beberapa waktu lalu saya mengikuti webinar kesehatan bersama dr. Gustafianza atau biasa disapa dr. Finza. Webinar kali ini membahas tentang detoksifikasi tubuh. Materi tersebut dirasa perlu diketahui karena mayoritas orang menganggap tubuh yang sakit akibat virus dll. Padahal tubuh yang sakit bisa terjadi karena banyak hal seperti makanan dan pikiran.

Di sinilah sering terjadi mispersepsi bahwa kadang penyakit terjadi akibat faktor eksternal. Padahal faktanya 89% penyakit terjadi karena faktor internal diri kita sendiri. Berkaitan dengan itulah orang sering melihat problem dari solusi. Misalnya, orang berpikir jika yang menyakiti itu adalah cinta padahal ego dan ekspektasi kita.

Yang merontokkan daun bukan angin tapi musim gugur. Yang mengubur manusia bukan tanah tapi kematian. Ikan hidup di air tapi justru mati karena direbus air. Padahal yang merebus ikan adalah api. Itulah perumpamaan orang yang mengira jika sakit selalu berkaitan dengan virus atau bakteri.

Contoh lain, dr. Finza menjelaskan mengapa diabetes sering menjangkiti orang dewasa. Rerata orang mengira diabetes karena asupan gula terlalu banyak. Padahal ada faktor lain seperti panjang angan-angan. Sering dongkol dalam hati juga bisa menyebabkan diabetes hingga jantung bermasalah. Orang-orang yang tidak bisa memaafkan masa lalu juga bisa jadi faktor penyakit tersebut datang.

Faktor-faktor pikiran juga bisa berdampak pada mentalitas seperti kemiskinan. Termasuk faktor hati juga bisa menghambat rezeki dan sulitnya menerima keadaan. Inilah kondisi batin yang perlu diperbaiki setiap saat. Karena emosi seseorang selalu berubah-ubah sesuai mood setiap waktu.

Resep dari dr. Finza yaitu agar kita menata hati untuk menerima segala apa yang diberikan Tuhan. Dengan tetap sabar, ikhlas dan tawakal insyaallah apapun selalu ada jalan. Termasuk penyakit yang kita anggap sebagai ujian. Kata dr. Finza kita harus bisa membedakan antara sakit dan luka. Sakit selalu merujuk pada keadaan tidak stabil akibat serangan dari luar maupun dalam. Sedangkan luka adalah perasaan sakit pada bagian tertentu yang membuat seseorang merasa perlu mengobatinya.

Maka dari itu di sinilah kita belajar untuk mengenal diri sendiri. Kita harus memiliki otonomi tubuh kapan harus istirahat, beraktivitas dan memenuhi asupan gizi. Dengan demikian kita tak lagi abai bahwa kadang sakit dan luka diciptakan oleh diri kita sendiri.[]

the woks institute l rumah peradaban 23/12/24




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...