Beberapa waktu lalu sempat berdebat apakah hari ibu atau hari perempuan? yang jelas embrio hari ibu berawal dari Kongres Perempuan ke-1 pada 1928. Barulah pada Kongres Perempuan ke-3 23-28 Juli 1938 peringatan hari ibu diperkenalkan. Salah satu inisiatornya yaitu Ibu Sujatin Kartowirjono yang sekaligus pimpinan sidang saat itu.
Kongres perempuan tersebut meneguhkan peranan perempuan dalam parlemen dan politik. Termasuk posisi perempuan dalam kepemimpinan nasional. Nah, kini hari perempuan yang diperingati sebagai hari ibu justru tereduksi. Artinya bahwa peran perempuan yang begitu luas justru hanya diartikan sebagai penguasa rumah tangga. Sehingga di beberapa pihak menyayangkan hari ibu justru pemaknaannya menyempit. Dalam bahasa Julia Suryakusuma dikenal dengan istilah ibuisme atau pekerjaan perempuan yang tidak dibayar dalam rangka pengabdian kepada suami.
Dari perdebatan itu tentu wajar saja. Terlebih bagi mereka yang memiliki visi tentang perempuan progresif. Tapi bagi saya setidaknya ada beberapa pelajaran. Misalnya bagi mereka yang sering durhaka pada ibu maka 22 Desember adalah momentum mengingatkan kembali bahwa ibu instrumen penting dalam kehidupan. Tanpa kasih sayang dan petunjuk ibu seorang anak akan pincang di masa depan.
Anggap saja 22 Desember adalah puncak kita bertaubat atas apa yang dilakukan kepada ibu. Bisa jadi anak yang ngeyel, nakal, tidak nurut hingga sering membuat ibu menangis. Maka 22 Desember adalah wadah kita untuk memohonkan maaf sekaligus membahagiakannya. Selanjutnya bagi yang fanatik hari perempuan toh apa bedanya. Kita hanya perlu mengisi sekaligus bergerak dengan apa yang menjadi visi utama perempuan.
Di era yang ribet ini hari perempuan menjadi alternatif jawaban ketika anda ditanya mengapa belum memiliki momongan. Apakah pengertian ibu adalah yang memiliki anak. Bukankah kita semua baik laki-laki ataupun perempuan semua dilahirkan dari perempuan. Hal itulah mengapa di dalam Al Qur'an hanya ada Surah An Nisa (Perempuan) dan bukan Surah Ummi (Ibu). Itu tanda bahwa dengan menjadi perempuan anda tetaplah perempuan.[]
the woks institute l rumah peradaban 25/12/24
Komentar
Posting Komentar