Langsung ke konten utama

HDI : Bergerak Bersama Berkarya




Woko Utoro 

Pada 3 Desember 2024 saya berkesempatan belajar berbincang dengan guru-guru hebat dari SLBN Campurdarat Tulungagung. Kebetulan pada saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI). Saya diminta menjadi moderator di acara talk show 90,9 Radio Berlian FM Tulungagung.

Acara HDI tersebut membawa tema, "Bersama Berkarya Menuju Kemandirian dan Kesetaraan" serta bertajuk Disabilitas Bergema (Bergerak Bersama). Sedangkan narasumber talk show tersebut diwakili kepada Ibu Hani dan Ibu Dani bersama orang tua siswa.

Acara yang berlangsung satu jam tersebut pastinya menarik dan membuat saya belajar tentang anak difabel. Perlu diketahui bahwa disabilitas adalah seseorang yang mengalami keterbatasan atau kesulitan dalam melakukan aktivitas tertentu meliputi sensorik, fisik, intelektual maupun mental. Sedangkan difabel adalah sebutan bagi anak penyandang disabilitas yang diperkenalkan Mansour Fakih.

Istilah tersebut diperhalus karena menyesuaikan dengan problem yang ada pada anak. Bahkan saat ini istilah tuli, tuna rungu bergeser menjadi hambatan pendengaran. Yang jelas apapun itu kita terus berupaya agar anak difabel bisa diterima di masyarakat. Tentu tantangan terbesar bagi anak difabel adalah selain penerimaan juga berhadapan dengan bullying. Agar tidak terjadi bullying tentu kita berupaya terus mensosialisasikan lewat parenting, bermain bersama di lingkungan sekitar dan memberikan pelatihan berbasis skill.

Ada perbedaan mencolok antara pendidikan inklusi dan SLB. Sederhananya selama ini SLB masih mengutamakan aspek vokasi sedangkan pendidikan inklusi berfokus pada penekanan akademik. Sehingga output yang dihasilkan juga nampak begitu berbeda. Anak-anak SLB jika mereka memiliki skill sesuai kemampuannya maka akan bernilai lebih. Misalnya seperti Ananda Cheryl yang berbakat dalam menari. Padahal ia memiliki hambatan pendengaran tapi bisa berprestasi hingga tingkat kabupaten.

Belajar dari Ananda Cheryl 

Kata Bu Lina (Ibunda Cheryl) anaknya awalnya adalah anak normal seperti lainnya. Akan tetapi pada usia 5 tahun Cheryl mengalami kecelakaan berupa benturan sehingga membuat gendang telinganya rusak. Awal ketika Cheryl diketahui memiliki hambatan pendengaran yaitu saat Bu Lina memarahinya dan sang anak diam saja. Hingga akhirnya ketika diperiksa ke dokter ternyata ananda mengalami gangguan pendengaran total.

Awalnya ketika Cheryl berstatus Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Bu Lina dan keluarga enggan untuk memasukkan ke SLB karena malu. Tapi lambat laun beliau sadar bahwa anak itu membawa potensinya sejak lahir. Akhirnya Cheryl masuk ke SLB dan ditangani oleh guru yang tepat. Hingga kini Cheryl sudah mandiri dan menemukan bakatnya berupa menari.

Kata Bu Lina, khusus orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus jangan malu dan ragu untuk disekolahkan ke SLB. Alasannya sederhana bahwa di SLB kemandirian, skill dan vokasi menjadi target utama anak dipersiapkan masa depannya. Kini Cheryl sudah membuktikan dengan prestasinya ia mampu diterima di masyarakat.

Harapan Dewan Guru

Saat ini bukan saatnya kita membedakan fisik atau kemampuan manusia. Kini sudah waktunya kita peduli dan hadir buat mereka khususnya anak berkebutuhan khusus. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk berproses menjalankan kehidupan.

Kita juga berharap pemerintah terus hadir buat mereka salah satunya dengan undang-undang dan aksi nyata. Terutama gerakan kampanye kepada masyarakat bahwa ada kelompok yang rentan terkena diskriminasi. Saat ini sudah harus memihak pada mereka dan justru lebih memberdayakan. Karena dengan itu kelompok difabel bisa diterima dengan tanpa memandang perbedaan.[]

the woks institute l rumah peradaban 9/12/24






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...