Woko Utoro
Apa dampak yang terasa akibat penggunaan teknologi secara brutal. Tentu kita tahu secara luas negara dengan penguasaan teknologi lebih dianggap sebagai penguasa. Akibatnya kolonialisasi karena ketimpangan kekuatan melahirkan penguasaan. Dominasi teknologi mengharuskan suatu bangsa tunduk atas bangsa lainnya.
Paling jauh kita tidak terasa dipaksa tunduk atas konsumsi kekuatan tersebut. Teknologi mengharuskan penggunanya mengikuti perkembangan tanpa filter. Ambil contoh saja media sosial sebagai produk teknologi mengambil alih jarak komunikasi antar sesama. Hal itu sekaligus melahirkan budaya baru dalam interaksi sosial. Fahrudin Faiz menyebutkan bahwa dampak penggunaan medsos secara berlebihan akan melunturkan kepekaan batin.
Selain kepekaan batin tumpul medsos juga mengancam eksistensi sosial. Orang-orang yang terhubung lewat internet kita sebut netizen hanya memiliki keberanian di ruang maya. Sedangkan di ruang nyata mereka adalah mahluk kesepian. Lebih parah lagi masyarakat tidak sadar jika mereka sedang dijajah oleh media sosial dengan algoritmanya. Masyarakat dipaksa harus mengikuti medsos setiap saat agar tidak disebut kudet (kebalikan dari up-date). Jika masyarakat ketinggalan mereka terkena sindrom FOMO alias ketakutan akibat tidak bisa mengikuti arus informasi.
Media sosial memang bermuka dua. Di satu sisi menguntungkan di sisi lainnya mengancam. Ancaman yang dinegasikan lewat kecemasan membuat kita mudah menebak apa yang terancam selain persoalan moralitas. Di media sosial kejujuran dan moralitas seolah tidak berlaku. Narasi positif negatif di medsos jika diamati begitu jomplang. Narasi negatif lebih banyak dan membanjiri daripada hal positif. Maka dari itu soal ancaman terhadap moralitas ini jangan dianggap sepele.
Moralitas itu bukan perkara satu orang melainkan kelompok masyarakat. Lebih luas lagi sebuah suku bangsa. Sejarawan Arnold Toynbee menyebutkan lebih 21 peradaban besar dunia 19 nya hancur bukan karena penaklukan dari luar melainkan akibat kerusakan moral. Maka tidak salah jika Paus Fransiskus mengatakan sumberdaya utama eksistensi suatu bangsa bukan sumberdaya alam melainkan moralitas. Bagaimana mungkin masyarakat yang moralnya rusak akan merawat sumberdaya alam yang kaya? tidak mungkin. Yang ada justru sebaliknya sumberdaya alam akan dikeruk hingga habis untuk kepentingan perutnya.
Menurut Gus Ghofur Maemoen dalam acara Halaqah Mahasantri Nasional 2024 di PP Al Falah Ploso moralitas adalah tolok ukur utama eksistensi suatu bangsa. Jadi jika ingin tahu masa depan suatu bangsa sangat mudah sekali. Kita cukup melihat moralitas yang berlaku saat ini. Jika moralitas masyarakat masih baik maka optimisme masa depan bisa begitu cerah. Sedangkan jika dekadensi moral mengakar maka masa depan tak akan jauh dari produk yang dilahirkannya, chaos dan ketimpangan sosial.
Kecemasan Gus Ghofur tentu bukan isapan jempol belaka melainkan sudah terjadi setidaknya pada pengampu kebijakan. Lebih lagi kerusakan moral sudah terjadi di tengah masyarakat. Kita tentu tahu untuk mereparasi akhlak perlu setidaknya 20 tahun pendidikan formal. Itu pun masih belum menjamin seutuhnya. Itulah sebabnya perkara moral ini sangatlah penting dan utama. Sehingga tidak salah jika misi utama diutusnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Lantas jika sudah demikian masihkah kita percaya dengan media sosial yang keruh itu. Masihkah kita mau mewakilkan kebenaran pada seorang konten kreator yang tidak jelas sanad keilmuannya. Sudahkah kita berhenti mengkonsumsi channel media yang membodohkan. Sampai kapan kita hidup dengan kesadaran bahwa medsos itu bersifat hyperreality alias membesarkan yang kecil dan sebaliknya. Mau berapa kali kita dipecah belah oleh berita hoax hasil editing di media sosial. Kapan daya kritis kita tumbuh untuk menyikapi perdebatan tanpa ujung.
Di sinilah kita memang membutuhkan membaca sebagai upaya mendewasakan pikiran. Dan membutuhkan cara untuk menyemai benih kebaikan di media sosial. Hal itulah yang justru tidak kita lakukan. Paling menyedihkan apa yang disampaikan Sujiwo Tejo, mengapa bangsa ini tidak maju? karena masyarakatnya masih sering melakukan pelanggaran dan ironisnya dilakukan dalam keadaan sadar. Jika sudah begitu akan dari sudut mana kita memperbaikinya.[]
the woks institute l rumah peradaban 15/12/24
Komentar
Posting Komentar