Langsung ke konten utama

Basa Ngapak VI (habis)
..
Oleh Woko Utoro

Dahulu kala ada cerita yg berkembang tentang seorang raja yg ingin menguji pelayan istananya dengan cara menjadi kurir surat ke kerajaan negeri sebrang. Surat dari raja itu akan di sampaikan kepada raja di negeri sebrang yg raja itu terkenal dengan kebengisanya. Singkatnya dua orang pelayan itu membawa surat yg berbeda dan dengan rute perjalanan yg berbeda pula namun, dengan tujuan sama yaitu raja di negeri sebrang.
Dalam perjalanan sang pelayan pertama curiga dengan isi surat dengan wadah suratnya dlm keadaan kuno dan usang, hingga ia mencoba membuka dan membacanya, ternyata isinya yaitu perintah agar membunuh si pembawa surat itu. Alhasil setelah ia mengetahui isi surat itu maka, langsung ia tinggalkan negeri itu dan mengurungkan niatnya untuk mengantar surat itu.
Pelayan kedua pun sama curiganya dan akhirnya ia pun membukanya. Namun ia tak mampu membacanya, yg padahal jika ia tau surat itu berisi perintah membunuhnya. Namun ia tetap acuh dan tak memperdulikanya dan akhirnya ia tereksekusi mati oleh algojo istana raja sebrang.
..
Dari cerita tersebut sebenarnya mengisyaratkan kepada semua orang agar terus belajar dan mengetahui jati dirinya. Alhasil bahasa sebagai alat komunikasi harus di maknai secara mendalam, baik itu bahasa oral atau bahasa yg ada dalam teks. Cerita di atas juga berpesan kepada generasi penerus agar tetep teguh dalam mempertahankan bahasa ibunya itu. Karena jika masuk dalam sistem logika, siapa lagi yg akan melestarikan bahasa itu selain para generasi penerusnya. Karena bahasa adalah pengantar jiwa. Di tambah lagi bahasa bisa menjadi alat politik dan juga pengantar ideologi.
..
Tidak tahu pasti siapa orang pertama yg mengajarkan bahasa kepada manusia dan pada awal tahun keberapakah bahasa itu ada. Ada juga yg mengatakan bahwa bahasa terlahir sekitar 1300 SM dan hal ini pun bersifat spekulatif. Dan yg kita ketahui hanya kisah ketika Tuhan mengajari Adam Alaihissalam seputar nama2 benda di sekitarnya. Dalam tataran ini bahasa menjadi sesuatu yg luas sehingga akan menimbulkan ilmu pengetahuan baru yg muncul dalam rangka penggalian makna bahasa itu sendiri. Seperti teori linguistik pun hanya memperoleh pengetahuan tentang cabang-cabang ilmu bahasa, seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik, etnolinguistik, geolinguistik, biolinguistik, filsafat bahasa dan sebagainya. Tidak berlebihan jika seorang filsuf hermeneutika kenamaan, Hans Georg Gadamer mengatakan bahwa bahasa adalah pusat memahami dan pemahaman manusia. Sebab, melalui bahasa akan diketahui pola pikir, sistematika berpikir, kekayaan gagasan, kecerdasan, dan kondisi sosiologis serta psikologis seseorang. Bahasa oleh Darwin (1809-1882) menyatakan bahwa bahasa hakikatnya lisan dan terjadi secara evolusi, yakni berawal dari pantomime-mulut di mana alat-alat suara seperti lidah, pita suara, larynk, hidung, vocal cord dan sebagainya secara reflek berusaha meniru gerakan-gerakan tangan dan menimbulkan suara (dalam: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M. Si, UIN MALIKI MALANG).
..
Berdasarkan Buku Pedoman Pencacah Sensus Penduduk BPS 2010 dan buku Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 menyatakan bahwa jumlah bahasa di Indonesia berjumlah 1211 bahasa. Dan tentunya diantara jumlah yg banyak itu, bahasa daerahlah yg terancam kepunahanya. Mungkin salah satunya adalah bahasa ngapak. Padahal jika kita kembali membuka album sejarah masa silam akan di ketahui bahwa bahasa ini bukan bahasa yg terlahir kemarin sore melainkan bahasa warisan nenek moyang yg berusia tua.
..
Bahasa ngapak adalah bahasa yg berbicara tentang kesederhanaan. Darinya kita belajar bahwa hidup akan berafiliasi dengan makna yg di kandungnya. Disisi lain orang2 dengan penggunaan bahasa ngapak dalam keseharianya di tuntut pula untuk mempelajari bahasa lain khususnya bahasa Internasional, jika orang ngapak tidak ingin di stempel ndeso dan bodo. Justru sebaliknya "ndeso tapi kutho lan ombo" (artinya berpengetahuan luas dan berkepribadian mawas).
Lestari..
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...