Langsung ke konten utama

Refleksi Menyambut 2018
..
Oleh Woko Utoro


Sudah akan pergantian tahun lagi ternyata, sungguh waktu yg sangat singkat sekali saya rasa. Jika di tilik ketika saya membuka pintu baru saja pagi, dan ternyata sudah kembali sore dan akhirnya malam. Mungkin begitulah ilustrasinya. Waktu begitu cepat berlalu, layaknya pujangga berkata "hal yg terjauh dlm hidup adalah masa lalu" walaupun sedetik yg lalu kita tinggalkan. Atau seperti mahfudzot " al waktu kassaif, in lam taqto'hu qoto'aka", waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotongnya/menggunakannya, maka kamu yg akan terpotong.
..
Seperti halnya pergantian tahun hijriyah, tahun masehipun segera berlalu, meninggalkan setiap kenangan yg pernah terjadi. Baik kenangan indah maupun kenangan yg tak terarah. Dapat di pastikan bahwa tiap pergantian tahun, utamanya tahun masehi yg selalu penuh adalah agenda dan tanda tanya dan pastinya lebih ramai dari pada tahun hijriyah. Agenda apa, dimana dan bagaimana selalu mengiringi gerak langkah kita. Rentetan gerbong pertanyaan selalu berderet, apa yg sudah di lakukan, bagaimana selanjutnya, atau mengapa demikian dan sebagainya. Selalu hal itu menjadi suguhan utama dalam tajuk kehidupan kita ini. Apakah semakin bijak dan dewasa atau bahkan menjadi anak2 yg selalu di buai bahagia atau pura2 lupa layaknya orang tua?
..
Bagi saya agenda apapun untuk menyambut tahun baru adalah hak bagi semua orang. Sesuatu hal tidak boleh dipaksakan kehendaknya walaupun niatan itu untuk memutihkan jagat. Dan apakah yg hitampun akan selalu bernilai buruk?, kan tidak semua. Saya memang tidak sepakat jika dunia malam tahun baru itu di penuhi maksiat tapi saya juga tidak sependapat jika berurusan dengan kebaikan namun menimbulkan prahara baru. Jadi intinya menurut pengamatan kacamata sempit saya marilah kita lebih baik mengedepankan toleransi dan saling hormat menghormati, tentunya tanpa saling caci maki. Bukankah hal itu lebih indah dari pada saling serang menyerang. Biarlah air mengalir pada tempatnya, biarlah planet2 berputar pada garis edarnya, dan tentunya tanpa harus ada hal yg dapat mengusiknya. Selama mengajak pada kebaikan terus kita upayakan, tentunya urusan hidayah biarlah kita serahkan kepada yg memiliki hidup, Allah swt. Mungkin inilah ajaran qur'an yg memerintahkan umatnya agar berdakwah dengan santun, sekalipun itu kepada Fir'aun.
..
Dalam hal mengajakpun kita harus melihat banyak faktor seperti, historis, psikologis, sosial dan budaya. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk sholawatan bersama atau juga tidak bisa memaksakan orang untuk meniup tropet bersama (party). Karena sesungguhnya hidup ini kompleks. Rasa dari setiap rasa manusia pasti akan sangat berbeda. "Lain ladang lain belalang lain lubuk lain pula ikannya".
Yg menurut penilaian orang, baik dan buruk itu relatif dan subjektif, bagai dua sisi mata uang yg tak terpisahkan. Menjadi manusia yg lebih bermanfaat dari tahun sebelumnya merupakan hal yg tentunya harus di upayakan sekuat mungkin dalam diri kita semua tentunya agar tercipta harmoni kehidupan yg lebih baik. "Dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan agama hidup jadi terarah dan dengan seni hidup jadi indah", begitulah pesan yg saya dapatkan dari seseorang berjubah putih.
..
Pesan untuk kedepanya mungkin kita bisa merenungkan dari salah satu lagu kesukaan saya dari Om Ebiet g Ade "Menjaring matahari" begini bunyinya,
Roda jaman menggilas kita 
Terseret tertatih-tatih 
Sungguh hidup sangat diburu 
Berpacu dengan waktu 
Tak ada yang dapat menolong 
Selain yang di sana 
Tak ada yang dapat membantu 
Selain yang di sana 
Dialah Tuhan....
..
Semoga Allah swt tetap memperkenankan kita istiqomah dlm ibadah, tawasuth, tasamuh, tawazun, i'tidal dalam bersosial (saleh ritual dan sosial), dan terus bertaqorrub serta bermuhasabah diri. Manusia yg bermanfaat adalah manusia yg selalu memperbaiki diri dari waktu sebelumnya. Berawal dari pertanyaan maka akan di tutup pula dengan pertanyaan, apa yg sudah kita lakukan di tahun kemarin? dan apa yg kita lakukan untuk tahun yg akan datang. Merenunglah..
Wallahu a'lam bishowabb
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...