Langsung ke konten utama
P3K untuk Calon Pemimpin
..
Oleh Woko Utoro

Siapa orangnya yg tidak kenal dengan kotak P3K, kotak yg berisi obat2an dengan logo palang merah berwarna merah dan bergaris putih yg khas itu. Sejak di SD terutama pada pelajaran IPS anak2 sering di beri tahu bahwa P3K adalah kotak yg berisi obat2an yg bermanfaat utamanya bagi orang yg sakit, kecelakaan atau terluka. P3K sendiri memiliki kepanjangan dari pertolongan pertama pada kecelakaan.
..
Ada maksud dari semua itu. P3K adalah sebuah hal yg sangat penting bagi seseorang yg membutuhkan pertolongan, sama halnya dalam berorganisasi pastinya akan menemui yg namanya masalah dan kebuntuan. disinilah arti P3K sebagai sebuah jalan dan solusi, pertolongan pertama pada masalah keorganisasian (otak atik mantuk berfilosofi) hehe. Seperti halnya kehidupan ini. kita adalah bagian dari masalah atau bagian dari solusi. Jika dalam organisasi tentunya pertolongan pertama jika terkena luka dalam tubuh organisasi, seorang leader tidak perlu panik dan khawatir seperti halnya orang yg shock ketika berjumpa dengan darah, cukup hadapi dengan tenang, jalankan musyawarah dan ambil keputusan. Jangan lupa dengan upaya komunikasi yg intensif. Termasuk masukan dari para pendahulu juga penting sebagai nilai komparatif dalam pengembangan organisasi.
..
P3K dalam akromin yg saya bangun disini yaitu paradigma pemimpin progresif kita. Artinya nilai2 demokrasi harus sejak dini di tanamkan agar kita dapat menciptakan pemimpin yg progresif, futuristik dan bermasyatakat. Kata Gus Dur "demokrasi itu bukan pasar" sebab, seorang pemimpin itu harus memiliki keputusanya sendiri tanpa adanya intervensi dan pembelian hak suara. Maka dari itu disini kita berupaya agara para pemimpin selanjutnya memiliki mental membangun dari pada merobohkan. Mental investasi dari pada pemborosan. Pemimpin harus meletakan daya cerdasnya demi memanej anak buahnya menjadi satu gerbong lokomotif yg dapat melaju bersama. Maka disitulah menandakan bahwa dalam sebuah organisasi itu ibarat satu tubuh kita. Jika satu saja dari anggota tubuh merasa sakit otomatis anggota tubuh yg lainpun akan merasakanya. Artinya ketika tubuh merasa sakit orang lain bukan ikut-ikutan sakit justru harus ikut membatu mencarikan obatnya atau paling minimal adalah menghiburnya. Disinilah arti penting dari sebuah pendengar yg bijak sekaligus pembicaranya. Adakalanya seseorang membutuhkan nasihat dalam hal apapun, bukan hny dlm organisasi saja, maka pantas saja ada staff ahli penasihat. Syeikh a
Abdul Qodir al Jailani berkata "jangan pernah berhenti mendengar nasihat karena hati akan buta tanpa nasihat". Sehingga jika seorang pemimpin sudah sulit mendengar nasihat maka disinilah fase "fantadiruss sa'ah" siap2 menemui kehancuran.
..
Karena ada istilah "mencegah lebih baik daripada mengobati" maka para pemimpin yg memiliki paradigma progresif di harapkan untuk dapat menekan sisi2 di mana letak rapuhnya organisasi. Biasanya problem yg sering di temui dalam organisasi yaitu masalah pribadi yg terbawa di organisasi, miskom antara anggota, badai males, bersebrangan pendapat, sulit mengatur waktu (komitmen) dan menyerah di tengah jalan (kalah sebelum berperang). Seperti halnya Henry Dunant ketika pertama kali membantu orang yg terluka di medan perang, ia bersama team palang merahnya kompak bekerja sama, tanpa pamrih dan semuanya ia curahkan demi menyelamatkan semua orang. Dalam organisasipun sama. Mereka harus di tuntut untuk kerja kolektif dan hindari sikap arogan dan individualis. Jika hal itu tercapai maka harmonisasi organisasi akan tercium harum dan semua akan merasakan itu. Pepatah mengatakan "hidupilah organisasi dan janganlah hidup dari organisasi". Kita harus memiliki dasar ideologi tersendiri agar dapat berjuang membangun bersama tanpa harus saling menjatuhkan, bersatu kita teguh bercerai kita berantakan. Jika sudah begitu awas masuk emergency, dan masuk instalasi gawat darurat.
Selamat berproses dan esensi dari semua itu adalah niatkan belajar, dan berjuang untuk kebermanfaatan hidup serta menggapai takwa kepada Allah swt menuju organisasi yg DARUSSALAM.
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...