Langsung ke konten utama

Menghafal Nama
..
Oleh Woko Utoro

Siapa namamu?,
Apakah artinya?,
Mengapa namu itu?,
Bagaimana bisa terjadi?,
Begitulah pertanyaan2 yg mengalir deras kepada saya. Namun saya jawab saja singkat "suatu saat kamu akan tahu sendiri".
Sudah berapa teman yg kamu kenal? atau jangan2 kamu hanya mengenali teman dekatmu saja. Ohh begitu baiklah rasanya untuk mengenali siapa kamu sendiri sepertinya menjadi hal yg sulit. Karena kamu hanya mengenal namamu sendiri.
..
"Tiada di dunia ini yg tak bernama, semua pasti bernama, yg tidak bernama hanya ketidaktahuan kita", ungkapan tersebut mengingatkan saya pada surah al Baqarah ayat 31 yg berbunyi "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya..." Dari ayat tersebut kita dapat menganalisis bahwa Nabi Adam AS sebagai manusia yg di berikan pikiran yg cemerlang yg menjadikanya dapat menyebutkan nama2 benda di alam ini. Maka dapat menjadi sebuah kemungkinan jika semua hal yg ada di kosmos ini semua bernama. Dan satu nama yg baqa yaitu Tuhan Allah swt.
..
Bicara soal nama saya jadi teringat lagi ketika zaman Aliyah dulu dimana di dinding dekat ruang kantor guru terdapat papan dengan himbauan yg bertuliskan "di mohon kepada bapak/ibu guru agar dapat menghafal nama dari setiap peserta didik". Darinya saya berfikir bahwa betapa pentingnya sebuah nama sehingga namalah yg sering di tanya terlebih dahulu sebelum tempat dan tanggal lahir apalagi nomer telpon.
Ada ungkapan mengatakan "the name is prayer" nama adalah do'a. Sebenarnya nama yg seperti apa yg mengandung sebuah makna dan do'a. Jika yg saya ketahui tentunya nama yg mengandung kebaikan. Nama yg dapat membuat orang lain asyik dan hangat dengan kita. Tentunya bukan sekedar nama tapi nama yg dapat mempererat semua. Percuma kenal seribu nama tapi hanya nama jalan saja, lebih baik kenal satu nama tapi untuk selamanya.
..
Nama menjadi topik yg sentral dalam tatanan masyarakat karena sejatinya manusia tidak mungkin akan berkata dengan kata ganti terus menerus seperti dia, kamu , si itu, itu lhoo, rambut pirang, gendut dan sebagainya. Pastinya namalah yg dapat mewakili semuanya. Maka wajar setiap acara pekan ta'aruf atau masa perkenalan ada pepatahnya "tak kenal maka tak sayang" sehingga mengenal orang lain dengan namanya menjadi hal yg utama.
Mungkin hanya nama2 unik sajalah yg mudah di hafalkan seperti di daerah tempat tinggal saya jika lahir hari rabu menjadi pak Rebo, hari kamis jadi Nenek Miskem, 
Ingat bahwa nama selain do'a nama juga merupakan musik pengantar ideologi. Darinya kita dapat menjadikanya inspirasi dari orang tua yg memberi nama itu alhasil jika nama ingin di rubah maka anda harus aqiqoh atau menggantinya dengan tumpeng nasi kuning. hehe
..
Arti nama tentunya akan sangat bervariatif tergantung orang tua. Pastinya orang tua akan memiliki segudang harapan agar kelak anaknya menjadi keinginan dlam tuai-tuai arti dalam namanya. Nama mungkin boleh saja kecil atau dlm bahsa lainya adalah ndeso tapi jangan di kira banyak nama kecil kelak di masa depan menjadi orang besar. Nama adalah esensi jiwa, bukan sebuah kulit belaka. Nama juga bisa menjadi ramalan dalam hidupnya. jika dulu ada orang mengambil nama dari tokoh pewayangan dgn tujuan agar ia seperti watak si wayang itu sendiri. Tapi kini nama seperti kehilangan ruhnya, para artis mencetak rekor kasus menjadi rujukan utama, cuma karena dulu pernah populer. Ironi.
..
Sudahlah jangan di paksakan soal nama, yg terpenting adalah nama itu baik sudah cukup. Mari kita lihat orang yg jatuh cinta. Ketika orang sedang jatuh cintapun dapat di pastikan namalah yg menjadi sasaran utama pertama yg di ingatnya seperti kata Imam Junaid al Baghdadi mengatakan bahwa "ketika seseorang sedang jatuh cinta maka yg ada hanya mengingat2 namanya, ia akan selalu memujinya dan akan selalu tenggelam dalam sifat2 yg di cintainya. Disinilah arti penting dari sebuah nama.
..
"Jikapun aku mampu menghafal seribu nama indah namun satu nama hilang dalam hatiku lalu apalah arti hidup ini? namamu akan abdi bersama sanubariku yg selalu berontak ingin bertemu engkau" . Cuiittwiiiwww...wiitwiiww
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...