Langsung ke konten utama

Guru Kerinduan
..
Oleh Woko Utoro

Suatu hari sang anak sedang menghafal lagu hymne guru "...Terpujilah wahai ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." dan seterusnya. Ia persiapkan sangat serius guna di tampilkan saat perpisahan SD nanti. Sepanjang perjalanan berangkat dan pulang sekolah tak lupa ia buka kertas kecil berisi lyrik lagu hymne guru itu. Dengan di temani angin bersiul sang anak bernyanyi riang gembira.
Ada seorang guru yg mahsyur di kampungnya namun, ia belum pernah tahu seperti apa sosoknya.
..
Tak terasa waktu berlalu teramat cepat seperti pergi bersama angin yg bersiul itu. Sang anak mempersiapkan kembali sebuah lagu yg akan ia nyanyikan sendiri untuk perpisahan nanti di masjid madrasah selepas pengajian. Di MTs. "... Trima kasihku ku ucapkan pada guruku yang tulus, ilmu yang berguna slalu di limpahkan untuk bekalku nanti..." Hingga ia pun pergi bersama setumpuk kenangan putih biru-biru yg mengasyikan. Kini ia sudah tahu sosok guru yg telah menjadi guru di setiap murid-muridnya itu, yg murid2nya kini sudah menjadi orang hebat semua.
..
Walaupun sang anak belum pernah berjumpa di dalam dunia pendidikan yg formal tapi, ia sudah berjumpa dengan guru yg selama ini menjadi inspirasi semua orang. Guru dari para guru di kampungnya. Akhirnya sang anak berjumpa dengan beliau ketika hampir tiap minggu ia selalu melewati jalan depan rumahnya. Sang anak selalu di stop di depan rumahnya yg ia sendiri bertujuan untuk berangkat ke pengajian di pondok pesantren Nurul Hikmah. Kadang ilmu2 sering terlontar dari sang guru kepada sang anak. Kadang pula sang ibu memberi uang saku dan makanan ringan yg bisa sang bawa ke pondok pesantrenya. Dengan senang dan malu-malu sang anak membawanya dengan harapan dapat berbagi kebahagiaan dengan santri yg lain.
Sang guru pun sering memberi pesan kehidupan dan pesan agar selalu menjadi teman yg baik bagi anaknya. Wahyu AB.
Semuanya beranjak sampai Aliyah.
..
"... Guru belahan jiwa kekasih yang sempurna, akhlakmu mempesona duhai bulan purnama..." Lagu yg di nyanyikan terakhir oleh sang anak ketika pelepasan wisudawan-wisudawati di Aliyah. Madrasah yg penuh kenangan putih abu-abu yg penuh drama remaja. Sang gurupun mengucapkan selamat kepada sang anak atas lulusnya sekolah di Aliyah. Beliau berpesan agar kelak bisa menjadi anak yg sholeh berguna bagi semua orang dan dapat menghadirkan senyum indah untuk kedua orang tua.
.
"Apa yg kau inginkan nak suatu saat nanti?" tanya sang ibu. Sang anak menjawab "saya ingin kuliah di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada. "Ohh bagus itu, tp nda usah muluk2 yg penting bisa kuliah, tangkas sang ibu." Sang anak agak tertunduk lesu namun sang ibu mencerahkan dan menguatkan kembali (reinforcement). "Tapi kamu nda usah khawatir, suatu saat nanti pasti kamu akan bisa kuliah. Pasti itu akan terbukti. Kamu pun harus ingat bahwa ilmu mu itu harus di pertanggung jawabkan di masyarakat. Walaupun kamu mendapat ilmu yg sedikit ajarilah kepada orang lain karena, pasti orang lain akan membutuhkan itu. Orang mulia bukan karena harta tapi, karena kerendahan hati dan adab yg baik. Jika kelak kau menemui kesuksesan tetap jadilah anak yg pertama kali ibu kenal.
Ketika benar2 tahu bahwa sang anak ingin kuliah sang ibu mengundangnya untuk menemuinya di rumah ada sesuatu yg akan beliau berikan pd anak itu. Singkatnya sang anak tidak berjumpa dengan sang ibu karena malu. Kebaikan sang ibu kepada anak itu membuatnya terlalu berhutang budi pada sang ibu. Pergilah sang anak ke negeri marmer, hingga tak sempat ia berpamitan pada sang ibu tersebut.
Akhirnya sang anak itu dapat melanjutkan studi nya di kawah candradimuka kampus dakwah dan peradaban IAIN Tulungagung. Hingga beberapa semester setelah sang anak kuliah sang ibu wafat menghadap illahi dengan setumpuk jariyah ilmu dan kenangan.
.
*Ibu itu adalah Ibu Apong dan anak kecil itu adalah si penulis status ini.
Semoga Allah berkenan menghimpun seluruh kebajikanya dan mengampuni segala dosanya. Lahumul Al-Fatihah...
Salamku padamu bu....
#Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...