Langsung ke konten utama
Suasana Hujan
..
Oleh Woko Utoro

"Jagate ngrekicek bae kayanemah wis wayahe mijih, ngarit suket pada teles kabeh, pan apa2 ya keudanan bae, pada pusing baka mengkenen kuh akeh penyakit, bencana ning endi bae aduhh ya mani repot" (Musimnya hujan terus menerus sepertinya sudah musim penghujan, mencari rumput ke basahan semua, jadi pusing semua kalo seperti ini itu banyak penyakit, bencana dimana2 aduh sangat merepotkan).
Begitulah salah satu penggalan batin yg biasanya di keluhkan orang desa tentang iklim alam yg tak menentu. Iklim tersebut biasanya di kenal dengan musim pancaroba. Musim dimana perpindahan dari musim kemarau ke musim penghujan.
Salah satu suasana desaku yg ku rindukan.
Beberapa ingatanku di musim seperti ini mencuat kembali, apalagi saat aku kecil dulu, dimana setiap pagi aku di bangunkan ibu dengan suguhan susu hangat dan kue lumpia hijau berisi enten2 kelapa manis di dalamnya, wahh pokoknya senang dan bahagia sekali.
Sesekali pula ibu mengajaku kesawah dengan di bonceng kerinjang khas yg di letakan di depan sepeda pas diantara stir dan kring2nya. Terkadang ketika pulang dari sawah aku di dapati ibu sudah tertidur pulas di kerinjang itu. Tak jarang para tetangga merasa iba dan mentertawakanku. Duhh..masa kecilku yg manis apa kabar di dalam memoriku.
Para orang dewasa juga tak mau kalah, tiap pagi di tiap musim hujan tersebut mereka selalu di suguhi secangkir kopi panas dengan singkong gorengnya yg sudah berbalut aroma mewangi dan di temani sajian musik radio jadul tempo dulu. Memang musim yg membuat aktivitas menjadi malas hehe katanya. Tak jarang pula ketika di sawah berhenti sejenak di gubuk tengah sawah untuk iatirahat makan siang sembari mendengarkan radio. Dulu lagu2nya sangat klasik seperti lagu ini
"Manuk kepudang, wulune kuning
Sing diadang adang, bli bisa ketemu maning
Kebayang-bayang, keimpi-impi
Turu bli bisa lali, kelingan pujaan ati
Gubug duwur, ning tengah tengah sawah
Mengkenen temen, wong demen durung kelakon..."
Lagu tersebut ku ketahui artinya kini. Dulu aku tak tahu jika lagu tersebut adalah lagu cinta yg tak sampai.
Jika sudah di rumah biasanya orang2 bergegas ke mushola dekat rumahku. Mereka menunaikan sholat berjamaah yg biasanya hanya terdiri dari imam dan beberapa jamaah. Maklum hanya musim lebaran saja yg penuh jamaahnya. Yg ku ingat di saat2 seperti ini yaitu dengan salah satu pujian klasik yg sering di lantunkan oleh Abah Taripin yg bunyinya
"oyode syadat wite iman godonge sholat ya Allah, woh dzikir kembange puji2an ya Allah, duh gusti kula nyuhun panganpura, sekatah e dosa kawula lan dosa tiyang sepah kalih kula lan dosane dulur islam sedaya". Pujian ini sangat bermakna sekali untuk mengingatkan tentang bagaimana menjelaskan rukun Islam kepada orang awwam di desa. Pujian ini sangat mudah di cerna orang desa karena syairnya berfilosofi dengan sebuah pohon yg berbuah amalan keislaman. Namun puji2an ini sudah asing dan tak terdengar lg di kalangan para pemuda. Maklum saja zaman sudah berbeda. Pasar pun sudah berbeda pembelinya.
Begitulah suasana hujan yg membosankan yg melumpuhkan aktivitas dan yg yang lainya. Namun dari hal itu aku belajar betapa banyak orang yg harus tetap menuai tanggung jawab mencari nafkah tanpa peduli suasana dan musim apapun. Aku sangat tahu bahwa para orang tua berela rela mencari nafkah di tengah derasnya hujan sedangkan tugas dari anak2nya hanya satu yaitu belajar yg rajin. Tak jarang suasana itu melenakanku untuk bermalas2 di tempat tidur atau menonton TV sepanjang waktu. Maka dari itu ibu sering sekali marah padaku. Hehe..maklum namanya juga anak2.
Suasana hujan begitulah manusia di beri ujian. Apalagi yg berkaitan dengan alam, manusia menjadi intrepretasi atas dirinya sendiri. Sehingga jangan salahkan banjir jika terus menggenang, jangan marahi longsor jika terus berguguran dan jangan salahkan angin beliung jika terus berhembus kencang. Tanyalah pada diri sendiri. Apa yg sudah kita perbuat terhadap alam ini. Jadikah kita sahabat buatnya atau menjadi musuh yg picik dengan nya. Ingat Allah swt maha perkasa lagi maha mengetahui segala sesuatu.
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...