Langsung ke konten utama

Manuk Blekok

..
Oleh Woko Utoro
"Blekok kawanan durung adus pupuran.
senok aja nangis bapane lagi ngoprek.
Ngoprek ning Dermayu oprak-oprek olih yuyu.
Yuyu manjing eleng wong ayu silite boleng"

..
Barisan teks di atas adalah sebuah syair lagu yg sangat populer di kalangan orang desa pada saat saya kecil. Mungkin lagu tersebut sudah ada sejak puluhan tahun silam, namun saya mendengar lagu tersebut di era tahun 90an. Pada saat itu yg suka melantukanya adalah Uwa (budhe) saya. Lagu tersebut mencerminkan betapa besar harapan seseorang anak terhadap orang tuanya yg selalu di tunggu kehadiranya selepas pulang kerja. Disisi lain syair lagu tersebut mencerminkan wong Dermayu yg suka dengan humor. Maka anda jangan langsung men just bahwa lagu tersebut bernilai saru apalagi SARA. Pahami dulu dan anggap saja hidup ini "life is comedy".
..
Berhubung syair lagu tersebut ada namanya blekok, maka saya jadi teringat nama burung yg selalu hadir bersama para petani. Di Indramayu burung dengan paruh panjang dengan bulu berwarna putih dan garis kecoklatan itu bernama manuk blekok. Burung ini tersebar hampir di seluruh pulau di Indonesia dan bahkan di belahan dunia. Akan tetapi yg membedakanya mungkin hanya namanya saja. Dalam bahasa Indonesia biasa di generalisasi sebagai burung bangau. Tentunya dengan ciri khas bulunya berwarna putih full tanpa corak apapun.
Di Jogja nama burung ini di sebut burung sultan. Kenapa di sebut burung sultan? Karena menurut cerita adat setempat burung ini adalah burung peliharaan kesultanan mataram islam yg tujuanya sebagai pertanda datangnya musim penghujan. Ada juga yg menyebutnya burung kuntul. Atau jika di eropa di sebut dengan burung flamingo. hehe berbeda jauh bentuk lehernya.
..
Namun amat di sayangkan di iklim tropis seperti di Indonesia ini penyebaran burung ini semakin hari semakin mengkhawatirkan. Bahkan menurut Badan Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkannya dalam status Rentan (Vulnerable/VU) dan digolongkan terancam punah secara global. Bayangkan saja di pulau jawa sendiri masih menyisakan sekitar 400 ekor saja. Hal itu terjadi karena pembalakan liar terhadap hutan, pohon bambu yg semakin sedikit dan ulah para pemburu liar. Sekarang jika kita melihat di sawah2 yg menghijau spesies burung ini bisa di lihat sedang menjomblo. Jika dulu sering sekali bergerombol. Bahkan menjadi hiburan sore ketika anak2 akan pergi mengaji. Disisi lain mereka amat bersahabat dengan petani utamanya ketika mencari makan berupa katak dan ikan2 kecil pada saat musim tanam.
..
Jika kita telaah lebih jauh ternyata dua hewan tersebut menjadi hewan yg familiar dalam cerita fabel seperti bangau/blekok/ dan kerbau, ada juga burung jalak. Yang jelas inti ceritanya adalah memberi pesan untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan, juga simbiosis mutualisme yaitu sebuah keterikatan yg sama2 saling menguntungkan satu sama yg lainya.
Kini yang saya fikirkan adalah sederhana, yaitu ketika seluruh komponen ingatan masa kecil sudah berubah ketika masa sekarang (dewasa) rasanya sedih hati. Jika dulu burung blekok sangat mudah di jumpai tapi seiring perkembangan zaman burung ini semakin langka. Maka bolehlah jika saya menggelari para pemburu jahanam itu dengan sebutan DASAR BLEKOK tah sia.
Walaupun ungkapan itu sedikit kasar rasanya saya puas. hehe maap.
Mungkin seharusnya yg di lakukan kini adalah bersinerginya masyarakat, aktivis lingkungan, pecinta satwa dan dinas terkait untuk segera menangkarkan burung ini, mengembangbiakanya dengan harapan bisa terus terjaga kelangsungan hidupnya. Agar suatu hari nanti anak cucu dapat melihatnya langsung tanpa perantara gambar dan cerita masa silam.
"Marilah hidup dengan kedamaian"
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...