Langsung ke konten utama

Tentang PILWU
..
Oleh Woko Utoro

Walaupun Pilwu sudah berakhir dengan kemenangan masing2 calon namun saya tetap mengkhendaki tulisan ini di posting. hehe semoga manfaat daah.
Di desa tempat saya tinggal istilah lain dari pemilihan kepala desa itu ialah pemilihan kuwu. Tidak hanya pemilihan RI-1 saja yg ramai, panas politik sampai adu jago, di tingkat RT pun di rumah saya sangat ramai dan antusias. Namun sepanas-panasnya suhu politik ada saja satu golongan yg adem2 saja. Siapa dia? Dia adalah pedagang. Bagi pedagang bisa berjualan di lokasi pemilihan kuwu adalah rezeki tersendiri karena saking ramainya para pemilih. Sehingga omset perhari bisa menghasilkan keuntungan yg lumayan.
..
Dari hal itu maka ada beberapa catatan menarik saya seputar perhelatan pilwu tersebut. 
1. Masih banyak masyarakat yg terkena serangan fajar atau bahkan mengharapkanya. Uang menjadi faktor segalanya disini. Maka disinilah letak kekeliruan kita semuanya telah di didik menjadi pembohong kelas proletar dan terdeteksi mental yg lemah. Jangan mau di bodohi dengan serangan fajar atau serangan apapun yg membuat nanti kita menyesal di kemudian hari. 50 ribu untuk 5 tahun mendatang sungguh jauh dari rasio.
..
2. Kata Gus Mus jika dunia itu hanya sebesar sebiji kacang ijo lalu dimana kah letak kita? Sungguh teramat kecil lah kita di mata sang pencipta. Sehingga tak pantaslah kita menjadi ummat yg sombong. Maka bagi para calon kuwu sekaya apapun dirimu tak pantaslah kau beli suara orang lain dengan uangmu. Jikapun uangmu ikut andil di dalamnya lebih baik untuk kesejahteraan rakyat. Dan jika engkau sampai tak jadi maka ikhlaskan saja. Anggap saja itu shodaqoh jariyahmu.
..
3. Pilwu dan tasawuf itu akan berkaitan dimana jika ada calon yg kalah maka ia wajib legowo dan memperhatikan apa2 yg di titahkan dalam ajaran tasawuf itu sendiri. Ikhlas nrimo, sugih tanpo bondo, kuat tanpo ngasorake. Intinya kemenangan tak membawa dampak apa2. Jabatan hanyalah hedonis mu di dunia yg menyeruak. Apa yg kau cari sebenarnya? Di dunia ini tidak ada kesempatan kedua kali. Karena justru jabatanmu akan di pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Jika yg kau cari adalah pamrih dan gila hormat maka itu adalah langkah awal yg akan membuatmu celaka.
..
4. Program-programnya harus yg nyata, seperti mengganti para pegawai yg seharusnya sudah tiba masa pensiun. Apalagi di zaman serba teknologi. Masih ada saja para pegawai yg menggunakan mesin ketik manual dalam pengoprasionalanya, sehingga pelayanan terhdap masyarakat sangat kurang maksimal. Bukankah abdi negara adalah abdi masyarakat. Kepuasan masyarakat adalah prioritas utama kami.
..
5. Kriteria pemimpin tentunya garus yg bermasyarakat, bukan untuk satu golongan saja. Jika melihat hal tersebut sata cenderung memilih kriteria calon kuwu ala orang jawa. Orang jawa itu jika syarat maju jadi calon kuwu mereka tidak memikirkan uang karena uang bukanlah segalanya. Bagi mereka kepercayaan masyarakatlah yg utama. Seperti salah satu kriteria yg harus di miliki pemimpin atau calon kuwu di jawa yaitu, bisa mengaji, menjadi imam tahlil, bisa mengurusi jenazah, dan sebagainya. Sehingga antara birokrasi, ubudiyyah dan ukhuwwah tetap berjalan harmonis. Tak sedikit kuwu di jawa yg mampu mengurusi, atau turun langsung mengurusi salah satu warganya yg meninggal. Ia tidak gengsi ketika di mintai doa dan memberi sambutan serta terjun langsung untuk bersih desa. Jika peminpin seperti ini terus di lestarikan dapat di pastikan birokrasi akan lancar dan damai. Karena tujuan hidup pemimpin seperti ini ialah man khudama khudima. Tidak ada kata korupai jika ajaran keimanan melekat pada dirinya.
..
Maka dari itu sejak diri mari kita mempersiapkan generasi penerus
"subbanul yaum rijalul ghad" agar menjadi pemimpin yg amanah dan religius. Dapat mengayomi masyarakatnya dan jujur dalam setiap tindakanya.
..
Jika kita tahu cita-cita anak desa dalam syair Ebiet g Ade "cita2ku ingin jadi kepala desa, cita2ku sederhana sebab aku terlahir dari desa". Jika menurut cak Nun kita harus bangga walau terlahir dari desa, sebab negaraku bagian dari tanah desaku"
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...