Langsung ke konten utama

Meraih Mimpi I
..
Oleh Woko Utoro

Jika anda menyebut diri ini adalah kids zaman now tentunya anda akan faham tentang dua kata ini yaitu, alay dan baper. Pastinya dua kata itu sangat familiar sekali di telinga anda. Perlu di ingat bahwa alayers dan baperian jangan selalu di konotasikan dengan sesuatu yg negatif, dari kata itu sesungguhnya bisa menjadi pisau analisis dan sumber pembuka wacana yg mengasyikan. Anda bayangkan saja dunia tanpa orang alay akan tampak sunyi. Maka saya sering menyebutnya team horee, lumayan berfungsi menyemarakan suasana, jika anda membutuhkan team hore hubungi saja si penulis ini. Anda juga bisa bayangkan jika tidak ada orang baper tentunya sikap dunia yg pongah ini akan selalu di anggapnya menjadi angkuh dan sombong. Orang baperkan itu melankolis dan penuh drama. Sehingga berliter air mata siap ia tumpahkan. Bahkan sebuah riwayat menyuruh kita untuk menangis (muhasabah) dan menghindari tertawa berlebihan.
..
Saya tidak membahas dua kata itu. Saya cuma menyarankan pada anda untuk menonton dua judul film layar lebar yg satu ini yaitu, "Sarjana Kambing" dan "Ibu Maafkan Aku". Dua judul film itu cocok sekali bagi kamu yg baperan. Orang seperti sayapun melihat adegan di film itu kadang membuat saya haru dan meneteskan air mata. Bagi sebagian orang menganggap bahwa saya itu alay, mendramatisir atau baperan, baru melihat seperti itu saja menangis. Disinilah letak kesalahan seseorang karena streotip yg berlebihan.
..
Film Sarjana kambing seperti galnya dulu pernah saya sinopsiskan beberapa waktu yg lalu adalah sebuah film yg menggambarkan impian seorang anak yg harus bersebrangan dengan keinginan seorang ayah. Sang ayah menginginkan anaknya setelah lulus jadi sarjana langsung kerja di perusahaan atau menjadi pegawai di salah satu instansi pemerintahan. Namun anaknya menolak itu, ia merasa bahwa hidup itu tidak harus linear sesuai dengan jurusan yg ada di kuliah, hidup itu kompleks tergantung siapa yg menjalani semua itu, bagi anaknya menjadi petani adalah bukan sebuah hal yg hina justru dengan niat yg tulus pasti ada sisi kebermanfaatanya.
..
Jika film Ibu Maafkan aku lebih kepada impian impian dua orang anak (kakak) menjadi pilot dan menjadi dokter, namun sayang mimpi adiknya tidak terwujud seperti halnya dua orang kakaknya. Namun ibunya selalu berpesan bahwa menjadi apapun kamu bisa yg terpenting adalah bakti pada orang tuamu yg di unggulkan. Orang tua tidak akan bangga berapa nilai dan IPKmu, atau seberapa tinggi jabatanmu. Orang tua akan bangga ketika di tengah kesibukanmu engkau mampu hadir di tengah2nya ketika ia membutuhkan dirimu. Hingga di akhir cerita film ini, sang Ibu wafat dalam keadaan menunggu anaknya (pilot dan dokter) itu yg tak kunjung tiba. Begitulah akhirnya. Lalu apa mau di kata jika nasi sudah menjadi bubur, atau kayu sudah menjadi abu. Sulit untuk kembali seperti semula.
..
Dari kedua ilustrasi tersebut kadang saya merasa baper itu ada di sekitar saya. Saya menangis karena memang pada posisi itulah saya berada. Hidup menjadi serba salah. Cita2 mengapa kau selalu kontradiksi dgn keadaan, disisi lain saya ingin berbakti pada orang tua, disisi yg lain saya harus meninggalkanya tak tak kunjung kembali, jika hanya lebaran tiba. Begitu pula orang tua, utamanya ibu. Ketika di telpon layaknya madu namun sebenarnya menyimpan garam maupun rasa pahit yg kadang di sembunyikan. Biarlah anak menimba ilmu dengan tenang tanpa memperdulikan keadaan orang tuanya. Disinilah ibu seperti topeng joker, mulut tersenyum namun hati menangis (seperti ada hal yg di sembunyikan). Maka dari itu buka dulu topengmu bu/pak, jgn menutupi2 apapun. Keadaan bagaimanapun anakmu ini ingin tahu yang sebenarnya terjadi.
Mudah-mudahan wasilah pendidikan orang tua akan bangga. Dan yg terpenting adalah impian atau ilmu pengetahuan harus berbanding lurus dengan keridhoan orang tua karenanya, segalanya jadi mungkin. Dawuh Mbah Anwar Mansyur Lirboyo "lek bengi jo lali tangi, tahajjud, nyuwun ngarso dalem gusti Allah, nyuwun putro/putrine di paringi ilmu ingkang barokah, supoyo uripe yo barokah".
..
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...