Langsung ke konten utama

Maulid di PonPes Panggung
..
Oleh Woko Utoro

Alhamdulillah seraya memuji keagunganNya yg telah menciptakan dan melahirkan ia di bulan rabiul awwal ini. Bulan yg menjadikanya mulia karena kelahirannya. Dengan mengucap syukur alhamdulillah saya dapat sowan ke almamater saya dulu walaupun saya sudah tidak di akui sebagai santrinya lagi. 
Mengajak seseorang teman dalam hal menuju kebaikan itu sulit apalagi kebaikan itu berada pada tempat yg inklusif (tertutup). Sehingga apalah daya, tidak ada kata untuk mundur apalagi mengurungkan niat untuk tidak hadir pada majelis itu cuma karena tidak ada seorang teman. Akhirnya dengan tekad baja saya kayuh sepeda perak saya dan melaju menuju tujuan yg mulia itu.
..
Masih sangat untung saya masih memiliki beberapa orang teman yg saya kenali disana, lumayan membuat saya tidak canggung. Saya sendiri berangkat kesana dengan tujuan semangat maulid dan sapa silaturrahim dengan para santri dan pengurusnya, alhamdulillah juga bisa bersua para dewan masyayikh.
Sesampainya di tempat saya memandangi banyak hal yg berubah setelah kepergian saya beberapa saat. Namun perubahan itu lebih kepada inprastrukturnya, untuk hal2 yg lainya masih tetap utuh seperti dulu saya tiba pertama kali di sana.
Tak jarang saya mendapati pemandangan khas santri yaitu al ghosobun dan ta'dhim pada masyayikh nya. Terbukti ketika saya ke sana, saya melihat para santri duduk bersimpuh setengah badan dengan berebut mencium sang pemilik ilmu yaitu para kyai nya. Tujuanya utamanya sederhana yaitu ngalap barokah.
.
Ketika saya ke pondok tersebut banyak memori lawas terbuka kembali lumayan hitung2 bernostalgia dengan rangkaian masa lalu yg mengesankan. Banyak inspirasi yg saya dapatkan darinya. Para penghuni asrama pun para sesepuhnya sudah banyak yg boyong, sehingga yg saya dapati hanya para pemain yg baru.
Ketika acara maulid nabi tersebut akan di mulai, ketika saya datang saya di sambut layaknya tamu kehormatan, padahal saya bukan siapa2 hehe. Sebelum acara saya juga berkesempatan mengikuti amalan sholawat nariyah yg memang rutin di istiqomahkan setiap malam jumat. Setelah itu barulah acara maulid nabi muhammad saw di mulai. Pertama di buka dengan bacaan qiroatul qur'an oleh teman saya al ustadz M.Rizal Hasani Muqorrobin, seorang qori yg sudah masyur di kalangan temen2 semua. Setelahnya sambutan di sampaikan oleh al mukarrom KH Fathullah dan tausiah di sampaikan langsung oleh al mukarrom KH Fathurrofiq, keduanya merupakan putra dari KH Syafi'i Abdurrahman salah seorang pendiri pondok. Tiba saat puncak maulid maka para santri berdiri untuk menghormati nabi seraya membaca syraqal dalam kitab Ad Dyaullami'i karangan Al arif billah al habib Umar bin muhammad bin salim bin hafidz Yaman. Tak terasa saking nikmatnya maulid tersebut maka tak jarang tetesan air mata membasahi pipi.
..
Setelah usai acara maulid tersebut saya langsung di giring ke tempat khusus jamuan yg dari hal itu membuat saya malu. Tapi pada akhirnya saya menikmati semua hidangan yg ada, dan semua itu adalah hasil karya santri semua. Dan santri yg lainya seperti biasa makan dalam satu leser/nampan besar dan bersama2. Disitulah nikmatnya jadi santri, selalu ada hal yg unik di buatnya. Hingga saya teringat dulu ketika masih mondok betapa lucunya saya, saya mengumandangkan adzan yg pada saat itu belum tiba waktunya, sehingga saya menjadi bulan2an santri lain di bully haha. Ngantuk mas. hehe. 
Setelahnya ketika saya akan pulang ternyata saya masih di beri lagi berupa bingkisan...huu dalam pikir saya cuma sederhana "ya Allah rezeki anak sholeh" hehe.
Saya sendiri pun tidak berharap apapun pada majelis tersebut, saya sudah niatkan untuk hadir itu saja tidak lebih.
..
Saya memiliki harapan besar suatu saat nanti semoga Allah tetap memberi saya hidayahnya agar terus sambung dengan ponpes panggung yg didirikan oleh Mbah yai Asrori Ibrohim pada 1953 itu. Karena dalam kalangan pesantren sanad keilmuan itu sangat penting sekali. Semoga Allah pula tetap menghimpun kebaikan para santrinya agar ilmunya dapat berguna suatu hari nanti di masyarakat.
#Sholualannabi Muhammad saw
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...